Komite Nobel Serukan Pembebasan Suu Kyi yang Dikudeta Militer

AP, CNN Indonesia | Selasa, 02/02/2021 07:50 WIB
Komite Nobel Norwegia menyerukan pembebasan terhadap Aung San Suu Kyi dan tokoh sipil lainnya yang dilakukan oleh junta militer Myanmar. Protes meluas menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi yang dikudeta oleh militer Myanmar. (Foto: REUTERS/ATHIT PERAWONGMETHA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Komite Nobel Norwegia menyerukan pembebasan segera pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi yang ditahan selama kudeta militer pada Senin (1/2).

"Komite Nobel Norwegia terkejut dengan kudeta militer di Myanmar dan penangkapan peraih Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan para pemimpin politik lainnya," tulis komite tersebut.

Suu Kyi dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada 1991 sebagai pengakuan atas perjuangannya untuk demokrasi di Myanmar dan menjadi tokoh terkemuka dalam mengembangkan demokrasi.


"Sekarang, 30 tahun setelah dia dianugerahi Penghargaan Perdamaian, militer sekali lagi mengesampingkan demokrasi dan menangkap perwakilan terkemuka dari pemerintah yang dipilih secara sah," tulis Komite Nobel dalam sebuah pernyataan.

"Komite Nobel Norwegia meminta pembebasan segera Aung San Suu Kyi dan politisi lain yang ditangkap, dan agar hasil pemilihan umum tahun lalu dihormati."

Pada tahun 2018, Nobel Perdamaian yang diterima Suu Kyi disebut-sebut akan dicabut. Hal itu terkait sikapnya atas perlakuan terhadap etnis Rohingya.

Tim pencari fakta independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tentara Myanmar melakukan pemerkosaan dan pembantaian terhadap etnis Rohingya. Di tahun itu, dirinya tengah memimpin Myanmar dan menuai banyak kecaman lantaran tidak bersikap tegas atas tindakan para tentara.

Namun Panitia Nobel Norwegia memastikan penghargaan yang pernah diberikan kepada Suu Kyi tidak akan dicabut.

"Hadiah Nobel Perdamaian untuk Aung San Suu Kyi tidak akan ditarik menyusul adanya laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyatakan tentara Myanmar terbukti membantai suku Rohingya," kata Panitia Nobel Norwegia.

Tak hanya itu, gelar Duta Hati Nurani yang diberikan oleh Amnesty Internasional pada tahun 2009 juga dicabut. Alasanya tak jauh berbeda; pembiaran pembantaian massal oleh militer.

"Hari ini kami cemas bahwa anda (Suu Kyi) tidak lagi mewakili simbol harapan, keberanian dan pembela HAM," kata Kepala Amnesti Internasional Kumi Naidoo, dikutip dariAFP, pada Senin 12 November.

Kudeta militer Myanmar mengakhiri satu dekade transisi dari pemerintahan militer ke demokratis. Suu Kyi bersama Presiden Myanmar Win Mynt dan tokoh senior lain dari Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) ditahan dalam penggerebekan pada Senin (1/2) dini hari oleh junta militer.

(evn/evn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK