Trump Disebut Sempat Ngotot Ingin Bunuh Presiden Suriah

CNN Indonesia | Selasa, 16/02/2021 17:05 WIB
Mantan wakil penasihat keamanan menyebut ketika masih menjabat sebagai presiden, Donald Trump ngotot ingin membunuh Presiden Suriah Bashar Al-Assad pda 2017. Mantan Presiden AS Donald Trump. (Foto: AP/Luis M. Alvarez)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut harus dibujuk agar tak melancarkan pembunuhan terhadap Presiden Suriah Bashar Al-Assad pada 2017.

Hal itu diungkapkan oleh mantan wakil penasihat keamanan nasional presiden, KT Macfarland, saat berbicara dengan BBC untuk film dokumenter tentang Trump.

Macfarland mengatakan Trump bersikeras bahwa dia akan "memusnahkan" Assad setelah melihat sejumlah gambar terkait serangan gas kimia sarin yang terjadi di Suriah pada April 2017.


"Saya mengatakan kepada Trump, 'Anda tidak bisa melakukan itu' dan dia berkata 'mengapa?'. Saya menjawab 'itu adalah tindakan perang'," kata Macfarland pada Senin (15/2) seperti dikutip Arab News.

Suriah dan Rusia menyangkal bahwa rezim Assad terlibat dalam serangan yang menargetkan kelompok pemberontak dan warga sipil itu.

Namun, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan "yakin bahwa Suriah bertanggung jawab atas serangan gas sarin di Khan Sheikhoun" pada 4 April 2017.

Macfarland menuturkan Trump merespons insiden itu dengan meluncurkan serangan udara langsung ke Suriah dengan menembakan sekitar 59 rudal jelajah ke pangkalan udara Shayrat, barat Suriah.

Pangkalan udara itu merupakan lokasi serangan kimia tersebut diluncurkan.

Sementara itu, Laporan Global Public Policy Institute 2019 yang berbasis di Berlin menjabarkan bukti-bukti yang memperlihatkan bahwa ada lebih dari 330 serangan kimia yang telah terjadi selama perang sipil di Suriah meletus.

Laporan itu mengatakan 98 persen dari ratusan serangan zat beracun itu dilakukan rezim Assad. Sementara itu, dua persen sisanya dilakukan oleh kelompok teroris ISIS.

"Kami menduga jumlah serangan zat kimia sebenarnya mungkin masih jauh lebih tinggi," bunyi kutipan laporan itu.

(rds/evn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK