Duterte Pecat Dubes Filipina Usai Pukuli Asisten Rumah Tangga

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 03/03/2021 03:44 WIB
Presiden Rodrigo Duterte memecat Duta Besar Filipina untuk Brasil, Marichu Mauro setelah terekam melakukan kekerasan terhadap seorang staf asisten rumah tangga. Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: Ted ALJIBE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Rodrigo Duterte memecat seorang duta besar Filipina untuk Brasil, Marichu Mauro setelah wajahnya terlihat dalam rekaman video pelecehan fisik terhadap seorang staf asisten rumah tangganya.

Duterte mengatakan telah menyetujui rekomendasi untuk mencabut Mauro pada Senin (1/3). Keputusannya juga termasuk mencabut tunjangan pensiun dan mencoret nama Mauro dari jabatan publik seumur hidup.

Mauro telah dipanggil kembali pulang ke Filipina dari Brasil pada Oktober lalu. Pemanggilan tersebut menyusul beredarnya rekaman video dari kamera keamanan di kediaman dubes Filipina di Brasilia.


Kantor berita Brasil seperti mengutip Associated Press mewartakan, seorang perempuan menyerang seseorang yang tampak seperti penjaga rumah di kediaman dubes. Perempuan yang menyerang itu diduga sebagai Mauro.

Departemen Luar Negeri mengatakan saat itu korban tak dikenal telah kembali ke Filipina dan berusaha menghubunginya di tengah proses penyelidikan.

Sejauh ini Mauro belum secara terbuka mengomentari tuduhan kekerasan fisik yang dilakukannya terhadap seorang asisten rumah tangga.

Duterte menggencarkan kampanye melawan pelanggaran, penyimpangan, dan korupsi di tahun terakhir ia menjabat sebagai presiden.

Duterte yang merupakan mantan jaksa penuntut selama ini kerap menuai kritik lantaran sikapnya yang dianggap kurang terpuji. Baru-baru ini, ia secara terbuka mencela wakil presiden Leni Robredo terkait penanganan Covid-19 dan kampanye vaksinasi yang menurutnya tindakan 'bodoh'.

"Kamu tampaknya memiliki wajah malaikat, tetapi pikiran yang jabat," kata Duterte seakan menyebut sikap Robredo bodoh dalam pidatonya baru-baru ini.

Duterte dan Robredo kerap memiliki pandangan yang berbeda terkait kebijakan. Presiden dan wakil presiden di Filipina dipilih secara terpisah, sehingga kandidat dari partai lawan seperti Duterte dan Robredo bisa bersanding di pucuk pimpinan negara dengan kebijakan yang saling bertolak belakang.

Robredos sendiri kerap menjadi kritikus utama terhadap tindakan keras Duterte dalam menangani peredaran narkoba. Ia menyebut kebijakan Duterte terkait narkoba telah menyebabkan ribuan orang miskin tewas dan laporan pembunuhan massal meningkat.

Merespons kinerja aparat pemerintah yang dianggap bersalah, Duterte mengancam tak segan-segan untuk menampar dan mempermalukan mereka di hadapan publik.

(evn/evn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK