Pakistan Blokir Medsos Usai Kerusuhan Demo Anti-Prancis

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 17:46 WIB
Pemerintah Pakistan memerintahkan pemblokiran media sosial dan sejumlah platform pesan instan selama beberapa jam pada Jumat (16/4). Ilustrasi. Protes Muslim di Pakistan kecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron. (AP/Muhammad Sajjad)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Pakistan memerintahkan pemblokiran media sosial dan sejumlah platform pesan instan selama beberapa jam pada Jumat (16/4).

Melalui pemberitahuan kepada Otoritas Telekomunikasi Pakistan, Kementerian Dalam Negeri meminta "pemblokiran total" atas Twitter, Facebook, WhatsApp, YouTube, hingga platform pesan instan Telegram hingga pukul 15.00 sore waktu setempat.

Dikutip AFP, pemerintah Pakistan tidak menjelaskan alasan pemblokiran sementara media sosial tersebut. Namun kebijakan itu diterapkan beberapa hari setelah demonstrasi anti-Prancis berujung rusuh hingga menewaskan dua polisi dan ratusan orang terluka.


Demonstrasi anti-Prancis itu dipelopori oleh partai ekstremis, Tehreek-e-Labbaik (TLP). Ribuan pendukung TLP turun ke jalan berdemonstrasi dan menyerukan pengusiran duta besar Prancis untuk Pakistan.

Di Twitter, tagar #FranceLeavePakistan menjadi trending dengan lebih 55 ribu kicauan pada Kamis (15/4) sore.

Di hari yang sama, kedutaan besar Prancis di Islamabad mengeluarkan menyerukan semua warga negara dan perusahaannya untuk segera meninggalkan Pakistan "karena ancaman serius".

Kemarahan terhadap bangsa Prancis yang merebak di Pakistan dipicu oleh pernyataan Presiden Emmanuel Macron tentang Islam. Macron beberapa kali menghubungkan Islam dengan terorisme setelah sejumlah serangan terjadi di Prancis selama 2020.

Berbagai serangan yang menargetkan bangsa Prancis itu berlangsung setelah majalah satir Charlie Hebdo kembali menerbitkan karikatur Nabi Muhammad pada September 2020 lalu. Macron membela publikasi karikatur itu dengan dalih kebebasan berekspresi.

Sikap Macron tersebut menuai kecaman dari penduduk Muslim seluruh dunia, termasuk di Pakistan.

Namun, belakangan protes anti-Prancis di Pakistan meluas setelah pemimpin TLP, Saad Hussain Rizvi, ditahan aparat lantaran dinilai telah menghasut pengikutnya untuk melakukan kekerasan hingga pembunuhan.

Pakistan bahkan memutuskan membubarkan dan melarang TLP beroperasi.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK