Putin Hubungi Jokowi Sampaikan Dukacita atas Tragedi Nanggala

CNN Indonesia | Selasa, 27/04/2021 13:27 WIB
Presiden Rusia, Vladimir Putin, menghubungi Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan belasungkawa atas insiden KRI Nanggala-402 yang menewaskan 53 awaknya. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menghubungi Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan belasungkawa atas insiden KRI Nanggala-402 yang menewaskan 53 awaknya. (AFP/Host Photo Agency)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menghubungi Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan belasungkawa atas insiden kapal selam KRI Nanggala-402 yang menewaskan 53 awaknya.

"Vladimir Putin menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, terkait kapal selam Angkatan Laut Indonesia yang tenggelam," demikian kutipan pernyataan resmi yang dirilis di situs kantor Kepresidenan Rusia, Senin (26/4).

"Presiden Rusia meminta untuk menyampaikan simpati dan dukungannya kepada keluarga dan sahabat para pelaut yang tewas, serta masyarakat Indonesia."


Insiden yang menimpa KRI Nanggala-402 mulai menjadi perhatian sejak Rabu pekan lalu. Saat itu, kapal selam itu dilaporkan hilang kontak.

Setelah proses pencarian beberapa hari, Panglima TNI, Hadi Tjahjanto, mengumumkan bahwa KRI Nanggala-402 tenggelam dan 53 awak kapalnya gugur.

Dua puluh satu tahun lalu, Rusia juga mengalami tragedi serupa.Kapal selam bertenaga nuklir milik Angkatan Laut Rusia, Kursk, tenggelam pada 12 Agustus 2000 silam.

Tragedi ini disebut-sebut sebagai salah satu kecelakaan kapal selam paling parah di dunia karena menewaskan 118 awak.

Pemerintah Rusia menyatakan bahwa kapal itu meledak saat para awak bersiap menembakkan torpedo di Laut Barents. Ledakan itu diduga akibat kebocoran bahan bakar high-test proxide(HTP) dari salah satu torpedo.

[Gambas:Video CNN]

Saat kapal selam menghantam dasar laut, masih ada 23 awak yang bertahan di kompartemen 9. Namun, mereka akhirnya meninggal lantaran kekurangan oksigen.

Upaya penyelamatan itu juga terhambat air es, badai, dan jarak pandang bawah air yang buruk. Setelah beberapa hari melakukan operasi penyelamatan Kursk, Rusia merasa putus asa, tapi tetap menolak tawaran bantuan dari negara lain.

Penanganan bencana oleh pihak berwenang Rusia dikecam oleh para penduduknya. Keluarga korban mencap pernyataan resmi pemerintah hanya untuk menutup-nutupi penyebab insiden itu.

(isa/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK