Adik Kim Jong-un Geram Masih Ada Balon Provokasi dari Korsel

CNN Indonesia | Senin, 03/05/2021 13:30 WIB
Kim Yo-jong, adik Pemimpin Tertinggi Korut, Kim Jong-un, memperingatkan Korsel supaya menghentikan kegiatan kelompok yang mengirim selebaran propaganda. Ilustrasi adik Pemimpin Korea Utara, Kim Yo-Jong. (AFP / Dong-A Ilbo/ South Korea OUT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kim Yo-jong yang merupakan adik Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, murka dan memperingatkan Korea Selatan supaya segera menghentikan kegiatan kelompok pembelot yang mengirim selebaran propaganda anti-Korut.

"Para pembelot dari Utara di Korea Selatan baru-baru ini menyebarkan selebaran menentang DPRK lagi, sebuah provokasi yang tidak dapat ditoleransi," kata Kim Yo-jong, seperti dilansir kantor berita Yonhap News Agency, Senin (3/5).

"Namun, otoritas Korea Selatan kembali tidak menghentikan tindakan nekat para 'pembelot dari Utara', menutup mata atas tindakan mereka," tambah Yo-jong.


DPRK adalah singkatan dari nama resmi Korut, Republik Demokratik Rakyat Korea.

Yo-jong menganggap pengiriman selebaran propaganda itu sebagai ancaman serius terhadap negaranya dan akan mempertimbangkan balasan yang setara. Namun, dia tak merinci tindakan seperti apa yang bakal dilakukan.

Pada Jumat (30/4) pekan lalu, anggota kelompok Pejuang untuk Pembebasan Korea Utara yang dipimpin Park Sang-hak mengklaim menerbangkan sepuluh balon besar yang membawa sekitar 500 ribu selebaran bersama dengan 500 buklet, 5000 uang kertas pecahan US$1 dari wilayah perbatasan Korsel ke arah Korut.

Penerbangan balon itu menjadi bentuk protes pertama sejak pemerintah Korea Selatan melarang pengiriman selebaran-selebaran provokasi ke wilayah Korut pada akhir Maret lalu.

Larangan itu dilakukan berbulan-bulan setelah Korea Utara meledakkan kantor penghubung antar-Korea di kota perbatasan Kaesong, karena marah atas kegagalan pemerintah Korsel menghentikan perbuatan kelompok itu yang dinilai mengancam Korut.

Para pengamat mengklaim larangan itu sama saja memperlihatkan pemerintah Korsel menyerah terhadap tekanan Korea Utara. Namun, pemerintah Korsel menyatakan larangan itu diperlukan untuk melindungi kehidupan dan keselamatan penduduk yang tinggal di daerah perbatasan.

Sebab, selebaran yang berisi ejekan terhadap para pemimpin dan rezim Korea Utara dapat memprovokasi negara itu.

Beberapa jam setelah pernyataan itu, Kementerian Penyatuan Korea di Seoul yang menangani masalah lintas batas mendesak semua pihak, termasuk Korea Utara, untuk menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan di sekitar Semenanjung Korea.

Selain itu, mereka juga dituntut untuk terus berupaya membangun perdamaian dan memajukan hubungan antar-Korea.

[Gambas:Video CNN]

Kementerian itu juga menegaskan mereka dan lembaga terkait tengah mengusut klaim pengiriman selebaran pada pekan lalu.

Mereka juga menegaskan larangan anti-selebaran harus dipatuhi sesuai dengan tujuannya yakni untuk melindungi keselamatan dan kehidupan warga di daerah perbatasan.

(isa/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK