Pedemo Myanmar Gelar Flash Mob untuk Hindari Kekerasan Aparat

CNN Indonesia | Jumat, 07/05/2021 10:14 WIB
Sejumlah anak muda di Yangon menggelar aksi flash mob agar dapat melontarkan protes antikudeta tanpa menjadi target kekerasan aparat Myanmar. Ilustrasi demonstran Myanmar. (AP/Nava Sangthong)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah anak muda di Yangon menggelar aksi flash mob agar dapat melontarkan protes antikudeta tanpa menjadi target kekerasan aparat Myanmar.

Associated Press melaporkan bahwa sekitar 70 demonstran mengikuti aksi flash mob pada Rabu (5/5) tersebut.

Seperti flash mob yang marak dilakukan beberapa tahun lalu, para demonstran hanya beraksi selama lima menit.


Dalam waktu yang singkat itu, mereka meneriakkan slogan-slogan antikudeta. Setelah itu, mereka langsung berbaur dengan kerumunan di pusat kota.

Aksi mereka dinilai berbeda dengan konfrontasi berminggu-minggu sebelumnya, saat sejumlah pengunjuk rasa menanggapi tindakan aparat dengan senjata rakitan seperti bom bensin.

Di daerah lain, aparat masih terus membubarkan paksa demonstran yang menggelar aksi damai. Di beberapa daerah kecil, kelompok-kelompok yang menentang junta kadang menyerang aparat keamanan, hingga menyebabkan pertumpahan darah.

Hingga kini, menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), korban tewas akibat bentrokan di Myanmar mencapai 772, sementara 3.738 orang ditahan.

Sebagai langkah melawan kekuatan militer Myanmar, pemerintah tandingan, Persatuan Pemerintah Nasional (NUG), membentuk sayap militer.

Rencana tersebut diumumkan oleh wakil menteri Khin Ma Ma Myo. Dia mengatakan bahwa salah satu tugas dari Tentara Nasional adalah melindungi gerakan perlawanan dari serangan militer.

Pasukan pertahanan itu merupakan bentuk baru dari Tentara Federal Gabungan yang dibentuk beberapa tahun lalu untuk mengakhiri perang saudara di Myanmar. Pasukan tersebut terdiri dari gabungan sejumlah milisi etnis.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah milisi etnis memang menyatakan dukungan terhadap NUG untuk melawan junta militer sejak kudeta pada 1 Februari lalu.

Mereka bertekad akan mendorong militer untuk mengakhiri kekerasan, memulihkan demokrasi, dan membangun "persatuan demokratis federal."

Setelah NUG mengumumkan pembentukan pasukan pertahanan ini, sejumlah aktivis sipil langsung ingin bergabung.

(isa/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK