China Desak Negara Anggota PBB Tak Datang ke Acara Xinjiang

CNN Indonesia | Sabtu, 08/05/2021 19:42 WIB
Misi Diplomatik China untuk PBB menilai acara yang digelar oleh Jerman, AS, dan Inggris terkait persoalan Muslim Uighur di Xinjiang sarat muatan politik. Misi Diplomatik China untuk PBB menilai acara yang digelar oleh Jerman, AS, dan Inggris terkait persoalan Muslim Uighur di Xinjiang sarat muatan politik. Ilustrasi. (AFP).
Jakarta, CNN Indonesia --

China mendesak negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk tidak menghadiri acara yang direncanakan oleh Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris lantaran akan menyinggung masalah penindasan terhadap Muslim Uighur dan minoritas lainnya di Xinjiang.

Menurut Misi Diplomatik China untuk PBB, acara yang diselenggarakan tersebut erat dengan muatan politik.

"Ini adalah acara bermotivasi politik. Kami meminta misi Anda untuk tidak berpartisipasi dalam acara anti-China ini," tulis Misi China untuk PBB dalam catatan mengutip Reuters, Sabtu (8/5).


China menuduh penyelenggara acara yang juga mencakup beberapa negara Eropa lain bersama Australia dan Kanada, menggunakan 'masalah hak asasi manusia' sebagai alat politik untuk mencampuri urusan dalam negeri China seperti Xinjiang.

Mereka juga dituding memiliki tujuan menciptakan perpecahan serta mengganggu pembangunan China.

Misi China untuk PBB tidak segera berkomentar mengenai itu.

Sementara itu, duta besar Amerika Serikat, Jerman dan Inggris akan berpidato di acara virtual PBB pada Rabu, bersama Direktur Eksekutif Human Rights Watch Ken Roth dan Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnes Callamard.

Tujuan dari acara ini untuk membahas bagaimana sistem PBB, negara anggota dan masyarakat sipil dapat mendukung dan mengadvokasi HAM anggota komunitas etnis Turki di Xinjiang.

Sebelumnya negara Barat dan kelompok HAM menuduh pihak berwenang di Xinjiang menahan dan menyiksa orang Uighur di kamp-kamp, yang oleh Amerika Serikat disebut sebagai genosida.

Pada Januari, Washington lantas melarang impor kapas dan produk tomat dari Xinjiang atas tuduhan kerja paksa.

Namun, Beijing menyangkal tuduhan tersebut dan menggambarkan kamp itu sebagai pusat pelatihan kejuruan untuk memerangi ekstremisme agama.

"Beijing telah mencoba selama bertahun-tahun untuk menggertak pemerintah agar bungkam tetapi strategi itu telah gagal total, karena semakin banyak dan negara-negara maju untuk menyuarakan kengerian dan kebencian atas kejahatan China terhadap Uyghur dan Muslim Turki lainnya," kata direktur Human Rights Watch PBB Louis Charbonneau.

(ryh/sfr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK