Einstein Pernah Tolak Kekerasan Yahudi Zionis Dirikan Israel

CNN Indonesia | Kamis, 20/05/2021 19:35 WIB
Ilmuwan Albert Einstein pernah menolak aksi teror milisi Yahudi untuk menguasai Palestina dan kemudian mendirikan Israel. Ilustrasi ilmuwan Albert Einstein. (Pixabay/skeeze)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mendiang ilmuwan Albert Einstein pernah menolak aksi teror kelompok milisi Yahudi untuk menguasai tanah Palestina dan kemudian mendirikan Israel.

Surat itu saat ini disimpan oleh Balai Lelang Sothebys, dan nilainya ditaksir mencapai US$10 ribu sampai US$15 ribu (sekitar Rp143 juta sampai Rp216 juta).

Seperti dikutip dari situs Sothebys, Kamis (20/5), surat itu berisi pandangan Einstein yang ditujukan kepada Direktur Eksekutif Sahabat Amerika Serikat untuk Pejuang Kemerdekaan Israel, Shepard Rifkin.


Surat itu ditulis pada 10 April 1948. Di dalam surat itu Einstein menyatakan dia tidak sepakat dengan pembentukan dan pendanaan terhadap kelompok milisi Pejuang Kemerdekaan Israel (Lohamei Herut Yisrael atau Lehi), karena menggunakan metode kekerasan untuk mengusir perwakilan pemerintah Inggris yang saat itu menguasai Palestina, setelah direbut dari tangan Kesultanan Turki Utsmani (Ottoman) yang kalah dalam Perang Dunia I.

"Ketika bencana menimpa kita di Palestina, yang pertama bertanggung jawab atas hal itu adalah Inggris dan yang kedua bertanggung jawab untuk itu, organisasi teroris yang dibangun dari barisan kita sendiri (Yahudi). Saya tidak ingin melihat siapa pun yang terkait dengan orang-orang yang tersesat dan penjahat itu. Hormat saya, Albert Einstein," demikian isi surat Einstein.

Semasa hidup, Einstein mendukung ide supaya kaum Yahudi bisa kembali menetap di Palestina. Namun, dia menolak gagasan mendirikan negara lengkap dengan pemerintahan dan angkatan bersenjata, dan menganjurkan kerja sama antara bangsa Arab dan Yahudi.

Saat itu, Lehi juga dijuluki sebagai Stern Gang. Mereka dibentuk oleh Avraham Stern sebagai milisi guna memerangi aparat Inggris dan memudahkan arus pengungsi Yahudi ke Palestina, supaya bisa mendirikan Israel.

Di masa itu ada sejumlah kelompok milisi Yahudi pro-Zionisme yang dibentuk dengan tujuan mendirikan Israel. Selain Lehi, mereka juga mendirikan Irgun, Haganah dan Palma.

Nantinya Haganah dan Palma menjadi kelompok milisi terbesar dan cikal bakal Angkatan Bersenjata Israel.

Stern sebelumnya adalah anggota kelompok milisi Yahudi, Irgun, yang melakukan aksi teror di Palestina untuk mendirikan Israel. Namun, Stern pecah kongsi pada 1940 karena memilih terus memerangi Inggris dan merapat kepada kelompok Fasis Italia pimpinan Benito Mussolini dan Nazi Jerman.

Bahkan kelompok itu tercatat pernah berusaha membuat persekutuan dengan Nazi demi memerangi Inggris. Setelah Stern meninggal pada 1942, Lehi kemudian merapat ke Uni Soviet.

Lehi bertanggung jawab atas pembunuhan Menteri Besar Inggris untuk Timur Tengah, Lord Moyne, pada 6 November 1944.

Selain itu, Lehi dan Haganah juga bertanggung jawab atas pengepungan dan pembantaian terhadap penduduk Arab Palestina di Desa Deir Yassin pada 9 April 1948. Menurut laporan Liga Arab, saat itu sebanyak 254 penduduk Deir Yassin tewas dibantai.

Beberapa korban bahkan diperkosa dan dimutilasi oleh anggota milisi Lehi dan Haganah. Menurut versi Israel korban meninggal dalam peristiwa itu mencapai seratus hingga 120 orang.

Kelompok itu dibubarkan pada 1948 setelah proklamasi Israel. Seluruh anggotanya kemudian diajak masuk dinas ketentaraan Angkatan Bersenjata Israel. Salah satu mantan petinggi Lehi, Yitzhak Shamir, pernah menjadi Perdana Menteri Israel pada 1983 sampai 1984 dan 1986 sampai 1992.

[Gambas:Video CNN]

(ayp/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK