Bendung Covid, India Beli Vaksin Belum Lolos Uji Klinis

CNN Indonesia | Kamis, 03/06/2021 21:20 WIB
Pemerintah India membeli vaksin corona yang masih dalam uji klinis fase III demi membendung arus penambahan kasus Covid-19. Ilustrasi. (AP/Altaf Qadri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah India membeli vaksin corona yang masih dalam uji klinis fase III demi membendung arus penambahan kasus Covid-19.

Kementerian Kesehatan India menyatakan bahwa mereka akan membeli 300 juta dosis vaksin dari perusahaan lokal Biological- E. Mereka mengaku sudah membayar uang muka US$205,6 miliar atau sekitar Rp2,9 triliun.

"Kesepakatan dengan Biological-E merupakan bagian dari upaya pemerintah India untuk mendorong produsen vaksin dalam negeri dengan mendukungnya dalam penelitian dan pengembangan juga dukungan finansial," demikian pernyataan Kemenkes India yang dikutip Reuters, Kamis (3/6).


Pemerintahan Narendra Modi juga terus didorong untuk mempercepat vaksinasi, karena negara bagian mulai melonggarkan penguncian wilayah di tengah kasus harian dan kematian yang masih tinggi.

India telah melakukan program vaksinasi dengan vaksin AstraZeneca yang diproduksi oleh perusahaan lokal Bharat Biotech dan akan mulai menggunakan vaksin Sputnik V di pertengahan Juni.

Pemerintah mengklaim akan memiliki 10 juta dosis vaksin per hari di bulan Juli dan Agustus. Angka ini naik tiga kali lipat dari sebelumnya kurang dari 3 juta dosis vaksin.

Namun, pasokan vaksin terus menyusut setelah pemerintah membuka program vaksinasi untuk semua orang dewasa bulan lalu.

[Gambas:Video CNN]

Mahkamah Agung melontarkan kritik keras karena menganggap pemerintah kurang persiapan sehingga berbagai fasilitas vaksinasi sampai harus menutup operasi.

Pengadilan tinggi New Delhi pun menyatakan beberapa pejabat federal harus didakwa dengan tuduhan pembunuhan karena keterlambatan program vaksinasi.

"Pemerintah ini telah gagal dan mengecewakan rakyatnya dengan cara yang menyedihkan," kata pengamat politik, Sanjay Jha.

Sejauh ini, kasus Covid-19 di India mencapai 28,4 juta dengan 338 ribu kematian.

(isa/has)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK