Serangan G7 ke China: HAM Uighur, Hong Kong, Hingga Covid

CNN Indonesia | Senin, 14/06/2021 19:00 WIB
Dari dugaan pelanggaran HAM di Xinjiang sampai Hong Kong, juga hasil investigasi asal muasal Covid-19 oleh WHO menjadi pernyataan bersama forum G7 di Inggris. Seni Instalasi Wajah Para Pemimpin G7 di Inggris. (REUTERS/TOM NICHOLSON)
Jakarta, CNN Indonesia --

Polah China menjadi salah satu topik utama yang dibahas tujuh negara maju dalam pertemuan tingkat tinggi negara-negara yang tergabung dalam Kelompok Tujuh (G7) di Cornwall, Inggris, pada 11-13 Juni lalu.

G7 adalah forum antarnegara dengan tingkat ekonomi terbesar dunia. Mereka adalah AS, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Kanada.

Dalam pertemuan antarkepala negara G7 yang pertama kali berlangsung fisik sejak pandemi Covid-19, mereka dengan gamblang menyinggung China secara gamblang dalam pernyataan bersama Carbis Bay G7 Summit Communique yang dirilis Minggu (13/6) seperti dilansir dari Reuters.


Pertama, Amerika Serikat Cs menyerukan penyelidikan fase kedua asal muasal virus corona di China oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara transparan, tepat waktu, dipimpin para ahli, dan berbasis ilmu pengetahuan, seperti yang direkomendasikan laporan para ahli.

"Memperkuat transparansi dan akuntabilitas, termasuk menegaskan kembali komitmen kami untuk mengimplementasi penuh, dan meningkatkan kepatuhan terhadap, Peraturan Kesehatan Internasional 2005," bunyi komunike G7 yang dirilis Gedung Putih.

Dalam dokumen itu, negara G7 juga menyerukan China agar menghormati hak asasi manusia (HAM) dan kebebasan fundamental, terutama bagi rakyat di Xinjiang.

Tujuh negara dengan perekonomian tertinggi tersebut juga meminta China memberikan kebebasan dan otonomi lebih besar lagi bagi Hong Kong berdasarkan perjanjian pengalihan status wilayah itu antara Inggris-China pada 1984.

"Kami akan mempromosikan nilai-nilai prinsip kita, termasuk menyerukan China untuk menghormati HAM dan kebebasan, terutama dalam kaitannya dengan kebijakan di Xinjiang, dan juga HAM, kebebasan, dan tingkat otonomi yang lebih luas lagi bagi Hong Kong berdasarkan Sino-British Joint-Declaration dan Basic Law," bunyi kutipan dokumen bersama G7 tersebut.

Negara G7 juga menyinggung agresivitas dan klaim China terhadap Laut China Selatan hingga ketegangan Beijing dengan Taiwan yang semakin memprihatinkan.

"Kami menekankan pentingnya perdamaian di Selat Taiwan, dan mendorong penyelesaian masalah lintas-Selat secara damai. Kami tetap sangat prihatin dengans ituasi di Laut China Timur dan Selatan dan sangat menentang setiap upaya sepihak untuk mengubah status quo dan meningkatkan ketegangan".

Covid-19

Negara-negara G7 juga mendesak transparansi atas penelitian fase 2 untuk mencari asal mula Covid-19, termasuk di China, yang digelar Badan Kesehatan Dunia (WHO).

"Kami belum mendapatkan akses ke laboratorium-laboratorium," ujar Presiden AS Joe Biden.

'Apakah [virus corona]berasal dari kelelawar yang berinteraksi hewan dan lingkungan... menyebabkan Covid-19 ini, atau apakah itu eksperimen yang berujung salah di sebuah laboratorium," imbuhnya.

Kegeraman China atas G7

China pun geram dan mengecam pernyataan bersama G7 tersebut yang dianggap mendikte negaranya.

Kedutaan Besar China di London mengatakan sangat tidak puas dan dengan tegas menentang penyebutan Xinjiang, Hong Kong, dan Taiwan dalam dokumen G7 tersebut.

"Urusan internal China tidak boleh diintervensi, reputasi China tidak boleh difitnah, dan kepentingan China tidak boleh dilanggar," demikian pernyatannya kedubes China.

"Kami akan dengan tegas membela kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan nasional kami, dan dengan tegas melawan semua jenis ketidakadiland an pelanggaran yang dikenakan pada China."

Kedubes China di London itu pun menegaskan investigasi WHO atas pandemi Covid-19 tak boleh dipolitisasi negara-negara dunia.

(rds/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK