China Berang atas 'Manipulasi' G7 soal Xinjiang dan Hong Kong

CNN Indonesia | Senin, 14/06/2021 14:04 WIB
Utusan negara China memprotes forum G7 yang mereka tuding telah melakukan 'manipulasi politik' atas kondisi dan situasi di Xinjiang dan Hong Kong. Salah satu sudut kota Kashgar, Xinjiang, yang terpampang gambar raksasa Presiden China Xi Jinping , 4 Juni 2019. (AFP/Greg Baker)
Jakarta, CNN Indonesia --

Utusan negara China memprotes forum G7 yang mereka tuding telah melakukan 'manipulasi politik' atas kondisi dan situasi di Xinjiang dan Hong Kong.

Sebagai informasi, dalam pertemuan tingkat tinggi G7 di Inggris tiga hari terakhir, para pemimpin negara-negara tersebut mempersoalkan mengenai langkah China yang merepresi minoritas di Xinjiang dan aktivis prodemokrasi di Hong Kong.

Menanggapi langkah pemimpin negara G7 tersebut, Juru Bicara Kedubes China di London, Inggris menyatakan, "Kelompok tujuh [G-7] mengambil keuntungan dari isu-isu terkait Xinjiang untuk terlibat dalam manipulasi politik, dan mencampuri urusan dalam negeri China, yang kami tolak dengan tegas."


"Kebohongan, rumor, dan tuduhan tak berdasar," imbuhnya seperti dikutip dari AFP, Senin (14/6).

Sebagai informasi, kelompok-kelompok pembela HAM menyebut China telah mengurung sekitar satu juta orang etnis Uighur dan minoritas lain di Xinjiang ke dalam kamp-kamp konsentrasi. Beijing sendiri disebutkan itu sebagai salah satu langkah untuk menekan ekstremisme berbasis agama Islam.

Sementara itu, negara-negara G7 di dalam komunikenya meminta China untuk menghormati HAM dan kebebasan fundamental.

"Terutama, terkait dengan Xinjiang dan hak-hak, kebebasan dan otonomi tingkat tinggi untuk Hong Kong yuang diabadikan ke dalam deklarasi bersama," demikian komunike G7 tersebut seperti dikutip dari Reuters.

Presiden AS Joe Biden dalam pertemuan tersebut malah dengan keras menuntut agar China memulai 'Tindakan yang lebih bertanggung jawab pada norma-norma internasional tentang hak asasi manusia'.

Dalam pertemuan fisik pertama negara-negara G7 setelah hampir dua tahun dilakukan secara virtual imbas Covid-19, China menjadi salah satu sorotan. Mereka pun menuntut investigasi baru atas China sebagai negara awal Covid-19

Diketahui, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah melakukan investigasi di titik awal diduga pandemi Covid-19 yang kemudian mengglobal yakni kota Wuhan, China. 

Atas dasar tersebut, Kedubes China di London menegaskan investigasi WHO atas pandemi Covid-19 tak boleh dipolitisasi negara-negara dunia.

"Para politikus di Amerika Serikat dan negara-negara lain mengabaikan fakta dan sains, secara terbuka mempertanyakan dan menyangkal kesimpulan dari laporan kelompok ahli secara bersama, dan membuat tuduhan yang tidak masuk akal terhadap China," tegas perwakilan negara Tirai Bambu tersebut di Inggris.

Sebagai informasi, G7 adalah forum antarnegara dengan tingkat ekonomi terbesar dunia. Mereka adalah AS, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggis, dan Kanada.

(AFP/Reuters/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK