Iran Klaim Produksi 6,5 Kg Uranium dengan Kemurnian 60 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 16/06/2021 10:21 WIB
Iran mengklaim sudah membuat 6,5 kg uranium dengan pengayaan kemurnian hingga 60 persen, kian dekat ke batas minimal buat senjata nuklir di angka 90 persen. Ilustrasi situs pengayaan uranium Iran. (AFP/Kazem Ghane)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran mengklaim sudah membuat 6,5 kilogram uranium dengan pengayaan kemurnian hingga 60 persen, kian dekat ke batas minimal bahan untuk membuat senjata nuklir di angka 90 persen.

"Di area produksi uranium 60 persen, dalam waktu singkat, sekitar 6,5 kilogram sudah diproduksi," ujar juru bicara pemerintahan Iran, Ali Rabiei, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (15/6).

Raibei juga mengklaim bahwa Iran sudah memproduksi uranium dengan pengayaan kemurnian 20 persen selama satu tahun belakangan, sesuai dengan yang diperbolehkan dalam undang-undang.


"Di bawah undang-undang parlemen, Organisasi Energi Atom seharusnya memproduksi 120 kilogram uranium dengan pengayaan 20 persen dalam setahun. Berdasarkan kabar terbaru, kami sudah memproduksi 108 kg uranium 20 persen dalam lima bulan," tutur Raibei.

Iran memang sudah meloloskan undang-undang pengayaan uranium beberapa tahun lalu sebagai tanggapan atas keputusan Presiden Donald Trump untuk menarik Amerika Serikat dari pakta nuklir JCPOA pada 2018.

Perjanjian yang diteken oleh negara anggota tetap DK PBB beserta Jerman itu mewajibkan Iran membatasi pengayaan uranium hingga 3,67 persen, jauh dari keperluan mengembangkan senjata nuklir yaitu 90 persen.

Sebagai timbal balik, negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran. Namun setelah menarik diri, AS kembali menerapkan sanksi yang membuat Iran geram.

[Gambas:Video CNN]

Setelah itu, Iran terus menggencarkan program pengayaan uranium. Pada April lalu, Iran mengumumkan bahwa mereka akan memulai pengayaan uranium hingga 60 persen.

Di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden, AS menyatakan niat untuk kembali bergabung JCPOA. Namun, AS menyatakan sanksi terhadap Iran masih akan tetap berlaku meski mereka bergabung dalam perjanjian nuklir itu lagi.

Perwakilan Iran dan AS kini dilaporkan melakukan pertemuan tak langsung di Wina, Austria, untuk membahas JCPOA.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK