Menlu Baru Israel Bersumpah Cegah Iran Jadi Kekuatan Nuklir

CNN Indonesia | Kamis, 17/06/2021 11:41 WIB
Menteri Luar Negeri baru Israel Yair Lapid bersumpah bahwa negaranya akan mencegah Iran menjadi kekuatan nuklir. Ilustrasi konflik Israel Iran. (iStockphoto/alexis84)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri baru Israel Yair Lapid bersumpah bahwa negaranya akan mencegah Iran menjadi kekuatan nuklir.

Hal itu diungkapkan Lapid tak lama setelah kabinet pemerintahan baru Israel diresmikan, Senin (14/6).

"Kita perlu mempersiapkan bersama untuk kembali ke perjanjian nuklir dengan Iran," kata Lapid yang menggantikan Gabi Ashkenazi sebagai menteri luar negeri.


Dia mengatakan Israel dapat mempengaruhi perjanjian nuklir sebelumnya antara Iran dan kekuatan Barat.

Lapid mengaku akan bekerja dengan Perdana Menteri Naftali Bennett untuk mewujudkan itu semua.

"Prinsip kami sama, Israel akan mencegah dengan cara apapun kemungkinan Iran menjadi kekuatan nuklir," kata Lapid seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara sepihak menarik Washington keluar dari perjanjian nuklir tahun 2018 dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran. Langkah itu diambil untuk membawa kembali Iran ke jalur negosiasi.

Pembicaraan antara Iran dan kekuatan Barat untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 telah berlangsung di Wina baru-baru ini.

Mantan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan keras menentang kembalinya AS ke kesepakatan nuklir.

Lapid juga mengumumkan bahwa pemerintahnya "akan membangun dialog yang lebih baik dengan Amerika Serikat, dan memperkuat hubungan dengan Yordania."

Berdasarkan perjanjian pemilihan umum antara 8 partai pemimpin koalisi pemerintahan baru, Yair Lapid dari partai Yesh Atid, memberikan kursi jabatan PM kepada pemimpin sayap kanan Naftali Bennett selama dua tahun pertama.

Setelah itu Bennett akan digantikan oleh Lapid yang berhaluan tengah selama dua tahun masa jabatan.

Pemerintah baru, yang mengakhiri 12 tahun pemerintahan PM Benjamin Netanyahu secara resmi menjalankan tugasnya pada Senin setelah mengambil sumpah hukum pada Minggu (13/6).

Sejumlah pengamat memperkirakan pemerintah koalisi akan menghadapi kesulitan mempertahankan aliansi yang rapuh karena perbedaan ideologi antara partai-partainya. Bahkan tidak sedikit yang menganggap pemerintahan baru akan runtuh.

Kerapuhan sudah terlihat sejak awal pembentukan koalisi. Partai yang digawangi Bennett, Yamina, hanya memperoleh tujuh kursi di Knesset. Dengan demikian, ia menjadi satu-satunya PM Israel dengan faksi sesedikit itu.

Sementara partai pengusung koalisinya juga terdiri dari berbagai spektrum. Keadaan ini dinilai bisa membuat koalisi lebih kuat, atau justru hancur karena terlalu banyak kepentingan.

(dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK