Covid Melonjak, Junta Myanmar Minta Penduduk Diam di Rumah

CNN Indonesia | Jumat, 02/07/2021 20:38 WIB
Junta Myanmar memerintahkan penduduk di wilayah Mandalay dan Bago untuk tinggal di rumah akibat lonjakan kasus Covid-19. Ilustrasi unjuk rasa anti kudeta militer Myanmar. (REUTERS/STRINGER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Junta Myanmar memerintahkan penduduk di wilayah Mandalay dan Bago untuk tinggal di rumah akibat lonjakan kasus Covid-19, Jumat (2/7).

Myanmar kewalahan menghadapi peningkatan kasus corona karena banyak petugas kesehatan yang mogok kerja lantaran memprotes junta.

Sebanyak 2 juta penduduk diminta untuk tidak keluar rumah kecuali untuk urusan mendesak. Aturan ini juga tidak berlaku bagi para pekerja di pemerintahan.


Aturan itu diumumkan oleh Dewan Administrasi Negara versi junta. Namun kebijakan baru itu tak memiliki aturan waktu yang jelas, demikian dikutip dari AFP.


Sebelumnya, kota-kota di negara bagian Chan lebih dulu melakukan penguncian wilayah mulai Mei lalu. Hal itu disebabkan, kota tersebut berbatasan dengan India.

Hingga kini kasus Covid-19 di Myanmar mencapai 169 ribu dengan angka kematian 3.347. Pada Kamis (2/7) Myanmar melaporkan penambahan 2.070 kasus positif corona.

Krisis kesehatan ini terjadi ketika Myanmar menghadapi krisis kemanusiaan dan politik sejak kudeta yang dipimpin Min Aung Hlaing berlangsung, 1 Februari lalu.

Perlawanan terus tumbuh, bahkan sejumlah wilayah membentuk milisi rakyat dan membuat senjata rakitan semampunya untuk melawan kudeta.

Pertempuran antara pasukan junta dan milisi rakyat pun tak terhindarkan, hingga menyebabkan korban tewas.

Hingga kini, menurut data yang dihimpun Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) total korban tewas sejak kudeta sebanyak 885, sementara yang ditahan junta 5.195.

Perserikatan Bangsa-Bangsaa (PBB) juga terus mendesak junta agar membebaskan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi beserta tahanan lain.

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK