Presiden Interim Mali Nyaris Ditusuk saat Salat Iduladha

ayp, CNN Indonesia | Rabu, 21/07/2021 09:09 WIB
Presiden Interim Mali, Assimi Goita, yang memimpin kudeta nyaris menjadi korban penusukan saat melakukan salat Iduladha. Presiden Interim Mali, Assimi Goita (baju biru), saat menghadiri pelaksanaan Salat Iduladha. (REUTERS/STRINGER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Interim Mali, Assimi Goita, yang memimpin kudeta nyaris menjadi korban penusukan saat melakukan salat Iduladha di Masjid Raya di Ibu Kota Bamako, Selasa (20/7) kemarin.

"Upaya aksi penusukan terhadap Presiden Transisi, Kolonel Asimi Goita, terjadi di Masjid Raya Bamako. Pelaku berhasil ditangkap aparat keamanan. Penyelidikan masih dilakukan," demikian isi pernyataan kantor kepresidenan Mali melalui Twitter, seperti dilansir CNN, Rabu (21/7).

Assimi adalah perwira militer yang memimpin dua peristiwa kudeta dalam rentang sembilan bulan di Mali. Di disumpah sebagai presiden transisi pada 7 Juni lalu.


Goita menjadi wakil presiden interim setelah pada Agustus 2020 melakukan kudeta dan menggulingkan Presiden Ibrahim Boubacar Keita.

Pada Mei lalu, Goita memerintahkan penangkapan terhadap Presiden Bah Ndaw dan Perdana Menteri Moctar Ouane. Keduanya mengundurkan diri dari jabatannya saat dipenjara dan kemudian dibebaskan.

Di bulan yang sama, Mahkamah Konstitusi Mali menyatakan Goita sah sebagai presiden interim menurut. Lembaga itu menyatakan Goita menjabat sebagai presiden transisi dan kepala negara serta harus mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan Ndaw setelah mengundurkan diri, dan untuk memimpin proses transisi pemerintahan.

Keputusan Mahkamah Konstitusi Mali membuat negara itu berselisih dengan kelompok Masyarakat Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS). ECOWAS menyatakan proses peralihan pemerintahan di Mali sudah selesai pada Februari lalu dan seharusnya pemerintahan saat ini dipimpin kalangan sipil.

Sedangkan lembaga Perserikatan Afrika (AU) membekukan sementara keanggotaan Mali akibat kudeta itu. Mereka mendesak supaya mandat pemerintahan Mali dikembalikan kepada kelompok sipil tanpa syarat dan terbuka.

Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika mengancam jika hal itu tidak dilakukan maka mereka tidak segan untuk menjatuhkan sanksi kepada Mali.

Negara-negara tetangga Mali khawatir pergolakan politik di negara itu akan melemahkan upaya untuk memerangi kelompok milisi yang bersembunyi di kawasan gurun di utara Mali.

(ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK