Jepang Hanya Rawat Pasien Covid-19 Parah Tekan Beban RS

CNN Indonesia | Selasa, 03/08/2021 17:16 WIB
Jepang memutuskan hanya merawat pasien Covid-19 bergejala berat di rumah sakit guna mengurangi beban fasilitas kesehatan. Aktivitas penduduk Jepang di tengah lonjakan kasus Covid-19. Pemerintah Jepang memutuskan hanya merawat pasien Covid-19 bergejala berat di rumah sakit guna mengurangi beban fasilitas kesehatan. (REUTERS/KEVIN COOMBS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Jepang memutuskan hanya merawat pasien Covid-19 bergejala berat di rumah sakit guna mengurangi beban fasilitas kesehatan.

Pemerintah Jepang menerapkan kebijakan itu di tengah lonjakan penularan virus corona. Saat ini, Jepang mencatat lebih dari 10 ribu kasus Covid-19 setiap hari.

Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, memastikan warga terinfeksi Covid-19 dan melakukan isolasi mandiri di rumah dapat dirawat di rumah sakit jika memang diperlukan.


Direktur Rumah Sakit Universitas Showa, Hironori Sagara, mengatakan rumah sakit di Ibu Kota Tokyo mengalami krisis sumber daya akibat lonjakan pasien Covid-19.

Hampir 70 persen tempat tidur rumah sakit di Tokyo terisi sejak Minggu akhir pekan lalu.

"Ada yang ditolak berulang kali untuk bisa dirawat. Di tengah kegembiraan Olimpiade, situasi tenaga medis Jepang sangat parah," kata Sagara dalam sebuah wawancara kepada Reuters pada Selasa (3/8).

Menurut surat kabar Tokyo Shimbun, 12 ribu pasien Covid-19 saat ini menjalani isolasi mandiri di rumah. Jumlah itu meningkat 12 kali lipat dalam sebulan terakhir.

Lonjakan Covid-19 di Jepang memang terjadi ketika Tokyo tengah menjadi tuan rumah Olimpiade. Pemerintah Jepang berkeras melangsungkan Olimpiade setelah dikritik sebagian masyarakat.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Katsunobu Kato, menuturkan sekitar belasan ribu kasus Covid-19 terbaru di Jepang merupakan pasien lanjut usia. Sebab, sebagian besar kaum lanjut usia di Jepang merampungkan vaksinasi Covid-19.

"Di sisi lain, infeksi pada orang lebih muda meningkat dan orang berusia 40-50 tahunan dengan gejala parah meningkat. Dengan beberapa orang juga dirawat di rumah sakit dengan demam, beberapa orang lainnya tidak dapat segera dirawat dan pulih di rumah," ujar Kato.

Sementara itu, sejumlah pihak merasa khawatir kebijakan baru soal perawatan di rumah sakit ini dapat menyebabkan lonjakan kematian akibat Covid-19.

"Pemerintah menyebut ini kebijakan rawat jalan, tetapi sebenarnya ini adalah pengabaian di rumah," kata pemimpin partai oposisi, Partai Demokrat Konstitusi Jepang, Yukio Edano, seperti dikutip televisi pemerintah, NHK.

Awal pekan ini, Jepang memperluas status darurat meliputi tiga prefektur di dekat Ibu kota Tokyo dan prefektur barat Osaka.

Sebelum diterpa gelombang baru corona, Jepang menjadi salah satu negara yang dianggap berhasil mengendalikan infeksi Covid-19 di awal pandemi. Namun, infeksi Covid-19 melonjak ketika dunia dihadapkan ancaman penyebaran varian Delta corona yang pertama kali terindentifikasi di India dan kini mendominasi infeksi corona dunia.

Situasi diperburuk dengan tingkat vaksinasi yang rendah. Sejauh ini, Jepang baru melakukan vaksinasi di bawah 30 persen total populasi, termasuk tiga perempat jumlah penduduk lansia di negara itu.

(rds/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK