Mulai Krisis Uang, WHO Cari Rp164 T demi Perangi Varian Delta

CNN Indonesia | Rabu, 04/08/2021 08:51 WIB
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah mencari sumbangan dana darurat sebesar US$11,5 miliar guna memerangi varian Delta virus corona Ilustrasi WHO. (AFP/Fabrice Coffrini)
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah mencari sumbangan dana darurat sebesar US$11,5 miliar atau Rp164,8 triliun guna memerangi varian Delta virus corona yang terus meluas di dunia.

Menurut dokumen internal WHO yang bocor, sebagian besar dana darurat itu diperlukan untuk membeli alat tes swab, peralatan oksigen, hingga masker untuk negara-negara yang membutuhkan.

Sementara itu, sebagian kecil dari dana darurat itu diperlukan WHO untuk membeli ratusan juta dosis vaksin Covid-19.


Dalam dokumen yang diperkirakan rilis pekan ini dan masih mungkin berubah, menguraikan kebutuhan finansial Access to Covid-19 Tools Accelerator (ACT-A), program WHO yang bertujuan mendistribusikan vaksin, obat-obatan dan alat tes virus corona secara menyeluruh ke seluruh negara.

Program yang didirikan di awal pandemi muncul itu masih sangat kekurangan dana. Saat ini, para koordinator ACT-A berupaya mempertahankan program tersebut demi mengintegrasikan bantuan dari banyak negara untuk memenuhi kebutuhan penanganan Covid-19 global.

Meski telah memangkas bujet hingga US$5 miliar dari total permintaan dana, ACT-A masih membutuhkan setidaknya US$16,8 miliar di mana sekitar US$7,7 miliar pertama sangat dibutuhkan.

Sebanyak US$1,2 miliar dibutuhkan ACT-A untuk membeli peralatan oksigen untuk pasien Covid-19 parah di negara miskin.

"Oksigen diperlukan untuk mengendalikan lonjakan kematian eksponensial yang disebabkan varian Delta," bunyi kutipan dokumen WHO itu memperingatkan.

"Opsi-opsi untuk membeli kebutuhan ini perlu dilakukan dalam beberapa bulan mendatang atau dosis vaksin akan hilang."

Dikutip Reuters, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pekan lalu mengatakan bahwa US$7,7 miliar sangat dibutuhkan organisasinya itu saat ini. Meski begitu, ia tak merinci rencana pengeluarannya dan tidak pula berapa banyak uang tambahan yang dibutuhkan untuk pengadaan vaksin.

Hingga kini, pihak WHO belum ada yang bersedia berkomentar terkait laporan internal yang bocor itu.

Namun, krisis dana WHO ini menekankan kekhawatiran tentang masa depan program-program organisasi tersebut dalam jangka panjang.

Salah satu bagian dari proyek ACT-A, COVAX Facility, sangat bergantung pada sumbangan dari negara-negara kaya usai produsen vaksin di India membatasi ekspor vaksin demi memenuhi kebutuhan domestik negara di Asia Selatan itu.

Hal itu terjadi setelah India menghadapi gelombang kedua penularan Covid-19 yang mematikan akibat kemunculan varian Delta.

Sejauh ini, OVAX baru mendistribusikan sekitar 180 juta dosis vaksin ke negara-negara yang membutuhkan. Jumlah itu jauh dari target 2 miliar dosis pada akhir tahun ini.

Kebutuhan mendesak penanganan Covid-19 dinilai menunjukkan baru sedikit upaya yang dilakukan untuk memerangi virus serupa SARS itu di sebagian besar dunia.

"Belum ada kemajuan yang signifikan. Apa yang mendesak tiga bulan lalu masih menjadi kebutuhan mendesak sekarang," kata seorang pejabat ACT-A.

"Ketimpangan dalam akses ke alat kesehatan Covid-19 tidak pernah sejelas ini," ujarnya.

Pandemi Covid-19 yang pertama kali muncul dan menyebar dari Kota Wuhan, China, sekitar 19 bulan lalu belum menunjukkan tanda-tanda akan membaik.

Sebagian negara saat ini tengah berjuang menghadapi lonjakan infeksi Covid-19 baru menyusul penyebaran beberapa mutasi virus corona, termasuk varian Delta yang dinilai lebih cepat menular.

Per Rabu (4/8), sebanyak 200.231.682 juta orang di dunia terinfeksi Covid-19. Sebanyak 4.258.352 pasien Covid-19 meninggal dunia, sementara 180.503.149 pasien berhasil sembuh.

(rds/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK