Kabul Diprediksi Jatuh ke Tangan Taliban dalam 90 Hari
CNN Indonesia
Kamis, 12 Agu 2021 10:54 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Puing-puing bangunan yang rusak akibat peperangan gerilyawan Taliban dan pasukan Afghanistan. (AP/Abdullah Sahil)
Jakarta, CNN Indonesia --
Gerilyawan Talibandiperkirakan mampu merebut Ibu Kota Kabul, Afghanistan jika terus menerus menggempur dalam kurun waktu 90 hari.
Bahkan menurut perkiraan Taliban mampu mengepung Ibu Kota Kabul dalam 30 hari lagi jika militer Afghanistan tidak berdaya membendung serangan mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi ini bukan kesimpulan yang sudah pasti," kata sumber seorang pejabat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon), seperti dilansir Reuters, Kamis (12/8).
Sumber itu mengatakan militer Afghanistan sebenarnya bisa membalikkan keadaan dan lebih gencar menyerang Taliban.
Salah satu sumber yang mengetahui prediksi itu mengatakan mereka juga menggambarkan berbagai skenario, termasuk perebutan wilayah oleh Taliban yang berlangsung lebih cepat dari dugaan, medan pertempuran dan kemungkinan kesepakatan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan.
Menurut seorang pejabat Uni Eropa, Taliban kini menguasai 65 persen wilayah Afghanistan dan mengancam akan mengambil alih 11 ibu kota provinsi.
Pertempuran sengit antara Taliban dan pasukan Afghanistan kembali memicu gelombang pengungsi menuju Kabul yang bentang alamnya dikelilingi oleh lembah dan pegunungan. Alhasil akses menuju ibu kota negara macet akibat gelombang pengungsi.
Bahkan ada kemungkinan milisi Taliban menyusup dengan menyamar menjadi pengungsi.
"Yang ditakutkan adalah pelaku bom bunuh diri memasuki markas diplomatik untuk menakut-nakuti, menyerang dan memastikan semua orang pergi secepat mungkin," kata salah satu sumber keamanan.
Generasi muda di Afghanistan saat ini juga khawatir Taliban akan kembali berkuasa dan malah memicu perang saudara. Mereka cemas hak-hak perempuan dan kebebasan media akan direnggut kembali jika Taliban berkuasa.
Kebangkitan Taliban belakangan ini mengejutkan banyak pihak, terutama pemerintah Afghanistan dan para sekutunya. Kelompok itu terus meningkatkan serangan sembari berusaha merebut Kabul dan wilayah lain.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Ned Price, mengatakan serangan yang dilakukan Taliban bertentangan dengan kesepakatan diteken pada 2020 lalu.
"Menyerang ibu kota provinsi dan menargetkan warga sipil tidak sesuai dengan semangat kesepakatan," ucap Ned.
Taliban, kata Price, berkomitmen untuk melakukan pembicaraan soal kesepakatan damai yang mengarah pada gencatan senjata permanen dan menyeluruh.
"Semua indikasi setidaknya menunjukkan Taliban justru mengejar kemenangan di medan perang," lanjut Ned.
Sementara itu Taliban membantah menargetkan atau membunuh warga sipil. Mereka juga meminta penyelidikan independen dilakukan.
"(Kami) Tidak menargetkan warga sipil atau rumah mereka di wilayah manapun, melainkan operasi telah dilakukan dengan sangat cermat dan hati-hati," tutur juru bicara Taliban, Shuail Shaheen, dalam pernyataan resmi.
Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lebih dari seribu warga sipil tewas dalam sebulan terakhir. Sementara Komite Internasional Palang Merah mengatakan sejak 1 Agustus sekitar 4.042 orang terluka akibat peperangan Taliban dan Afghanistan dirawat di 15 fasilitas kesehatan.
Price juga mengatakan AS tengah berusaha memimpin konsensus internasional mengenai perlunya kesepakatan damai, mengingat Taliban merebut wilayah yang berbatasan dengan Tajikistan, Uzbekistan, Iran, Pakistan, dan China, yang meningkatkan kekhawatiran keamanan regional.
Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, mengatakan para pemimpin Taliban mengatakan kepadanya awal tahun ini mereka tidak akan berunding dengan pemerintah Afghanistan selama Ashraf Ghani tetap menjadi presiden.
Ghani sempat menyalahkan AS, karena menarik pasukan secara tiba-tiba pada Mei lalu. Hal tersebut, dianggap berimbas pada situasi keamanan yang semakin buruk. Namun, AS menyatakan tak menyesali keputusannya untuk menarik pasukan.
Mereka juga mendesak pemimpin Afghanistan agar memperjuangkan tanah air mereka sendiri.
"(Afghanistan) perlu menentukan apakah mereka memiliki kemauan politik untuk melawan dan apakah mereka memiliki kemampuan untuk bersatu sebagai pemimpin untuk melawan," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki.
Ghani juga berusaha mengumpulkan para komandan milisi pro pemerintah untuk turut mempertahankan kota terbesar di utara, Mazar-i-Sharif, agar tak direbut Taliban.
Ghani bertahun-tahun mencoba mengesampingkan para komandan milisi di Afghanistan saat dia mencoba meluaskan pengaruh pemerintah pusat ke provinsi-provinsi yang dinilai membangkang.
Jakarta, CNN Indonesia --
Gerilyawan Talibandiperkirakan mampu merebut Ibu Kota Kabul, Afghanistan jika terus menerus menggempur dalam kurun waktu 90 hari.
Bahkan menurut perkiraan Taliban mampu mengepung Ibu Kota Kabul dalam 30 hari lagi jika militer Afghanistan tidak berdaya membendung serangan mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi ini bukan kesimpulan yang sudah pasti," kata sumber seorang pejabat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon), seperti dilansir Reuters, Kamis (12/8).
Sumber itu mengatakan militer Afghanistan sebenarnya bisa membalikkan keadaan dan lebih gencar menyerang Taliban.
Salah satu sumber yang mengetahui prediksi itu mengatakan mereka juga menggambarkan berbagai skenario, termasuk perebutan wilayah oleh Taliban yang berlangsung lebih cepat dari dugaan, medan pertempuran dan kemungkinan kesepakatan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan.
Menurut seorang pejabat Uni Eropa, Taliban kini menguasai 65 persen wilayah Afghanistan dan mengancam akan mengambil alih 11 ibu kota provinsi.
Pertempuran sengit antara Taliban dan pasukan Afghanistan kembali memicu gelombang pengungsi menuju Kabul yang bentang alamnya dikelilingi oleh lembah dan pegunungan. Alhasil akses menuju ibu kota negara macet akibat gelombang pengungsi.
Bahkan ada kemungkinan milisi Taliban menyusup dengan menyamar menjadi pengungsi.
"Yang ditakutkan adalah pelaku bom bunuh diri memasuki markas diplomatik untuk menakut-nakuti, menyerang dan memastikan semua orang pergi secepat mungkin," kata salah satu sumber keamanan.
Generasi muda di Afghanistan saat ini juga khawatir Taliban akan kembali berkuasa dan malah memicu perang saudara. Mereka cemas hak-hak perempuan dan kebebasan media akan direnggut kembali jika Taliban berkuasa.
Kebangkitan Taliban belakangan ini mengejutkan banyak pihak, terutama pemerintah Afghanistan dan para sekutunya. Kelompok itu terus meningkatkan serangan sembari berusaha merebut Kabul dan wilayah lain.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Ned Price, mengatakan serangan yang dilakukan Taliban bertentangan dengan kesepakatan diteken pada 2020 lalu.
"Menyerang ibu kota provinsi dan menargetkan warga sipil tidak sesuai dengan semangat kesepakatan," ucap Ned.
Taliban, kata Price, berkomitmen untuk melakukan pembicaraan soal kesepakatan damai yang mengarah pada gencatan senjata permanen dan menyeluruh.
"Semua indikasi setidaknya menunjukkan Taliban justru mengejar kemenangan di medan perang," lanjut Ned.
Kabul Diprediksi Jatuh ke Tangan Taliban dalam 90 Hari
Tentara Afghanistan terluka dalam peperangan melawan gerilyawan Taliban. (REUTERS/DANISH SIDDIQUI)
Sementara itu Taliban membantah menargetkan atau membunuh warga sipil. Mereka juga meminta penyelidikan independen dilakukan.
"(Kami) Tidak menargetkan warga sipil atau rumah mereka di wilayah manapun, melainkan operasi telah dilakukan dengan sangat cermat dan hati-hati," tutur juru bicara Taliban, Shuail Shaheen, dalam pernyataan resmi.
Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lebih dari seribu warga sipil tewas dalam sebulan terakhir. Sementara Komite Internasional Palang Merah mengatakan sejak 1 Agustus sekitar 4.042 orang terluka akibat peperangan Taliban dan Afghanistan dirawat di 15 fasilitas kesehatan.
Price juga mengatakan AS tengah berusaha memimpin konsensus internasional mengenai perlunya kesepakatan damai, mengingat Taliban merebut wilayah yang berbatasan dengan Tajikistan, Uzbekistan, Iran, Pakistan, dan China, yang meningkatkan kekhawatiran keamanan regional.
Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, mengatakan para pemimpin Taliban mengatakan kepadanya awal tahun ini mereka tidak akan berunding dengan pemerintah Afghanistan selama Ashraf Ghani tetap menjadi presiden.
Ghani sempat menyalahkan AS, karena menarik pasukan secara tiba-tiba pada Mei lalu. Hal tersebut, dianggap berimbas pada situasi keamanan yang semakin buruk. Namun, AS menyatakan tak menyesali keputusannya untuk menarik pasukan.
Mereka juga mendesak pemimpin Afghanistan agar memperjuangkan tanah air mereka sendiri.
"(Afghanistan) perlu menentukan apakah mereka memiliki kemauan politik untuk melawan dan apakah mereka memiliki kemampuan untuk bersatu sebagai pemimpin untuk melawan," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki.
Ghani juga berusaha mengumpulkan para komandan milisi pro pemerintah untuk turut mempertahankan kota terbesar di utara, Mazar-i-Sharif, agar tak direbut Taliban.
Ghani bertahun-tahun mencoba mengesampingkan para komandan milisi di Afghanistan saat dia mencoba meluaskan pengaruh pemerintah pusat ke provinsi-provinsi yang dinilai membangkang.