Taliban Disebut Pecat Pembaca Berita Perempuan TV Pemerintah

CNN Indonesia
Kamis, 19 Aug 2021 11:53 WIB
Salah satu pembawa berita di stasiun televisi pemerintah Afghanistan, Khadija Amin, berlinang air mata saat mengaku dipecat oleh Taliban. Ilustrasi Taliban. (AP/Zabi Karimi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Salah satu pembaca berita di stasiun televisi pemerintah Afghanistan, Khadija Amin, berlinang air mata saat mengaku dipecat oleh Taliban.

Dalam obrolan di Clubhouse, Khadija bercerita bahwa ia dan sejumlah karyawan perempuan lainnya diberhentikan dalam jangka waktu yang tak ditentukan.

"Saya seorang jurnalis, dan saya tak boleh bekerja," kata Amin, seperti dikutip The New York Times, Selasa (17/8).


"Apa yang akan saya lakukan selanjutnya? Generasi berikutnya tidak akan memiliki apa-apa. Semua yang telah kita capai selama 20 tahun akan hilang. Taliban adalah Taliban. Mereka tidak berubah."

Pengakuan Amin ini sangat bertolak belakang dengan propaganda Taliban yang terus menampilkan wajah lebih moderat dan merangkul perempuan setelah mengambil alih istana kepresidenan pada Minggu (15/8) lalu.

Salah satu upaya itu adalah dengan menampilkan Bahesta Raghan, pembawa acara perempuan dari TOLO News, untuk mewawancarai pejabat Taliban, Mawlawi Abdulhaq Hemad, pada Selasa (17/8) pagi, untuk yang pertama kalinya sejak mereka menduduki Kabul.

Dalam wawancara itu, Raghan menanyakan soal ketakutan warga jika Taliban kembali berkuasa.

"Saya masih heran bahwa orang-orang takut kepada Taliban," kata Hemad.

Adegan Hemad menjawab pertanyaan jurnalis perempuan ini dianggap sebagai bagian kampanye Taliban untuk menghadirkan wajah yang lebih moderat kepada dunia.

Selain itu, wawancara tersebut dianggap berguna dalam membantu mengurangi ketakutan yang mencengkeram Afghanistan sejak Taliban merebut Kabul pekan lalu.

Siaran yang ditayangkan TOLO News merupakan pertama kalinya seorang perempuan Afghanistan mewawancarai pejabat Taliban.

"Kami bilang ke mereka, lihat, seorang perempuan akan mewawancarai mereka," kata pendiri TOLO News, Saad Mohseni, seperti dilansir The Guardian.

Ia kemudian berkata, "Dan mereka bilang baik-baik saja. Mereka bisa dengan mudah mengatakan persetan dengan Anda. Mereka menjalankan negara. Mereka bisa melakukan apapun yang diinginkan."

Tepat di hari Kabul jatuh ke tangan Taliban, TOLO News memulangkan reporter perempuannya karena khawatir akan keselamatan mereka. Namun menurut Mohseni, dua hari kemudian banyak yang bekerja kembali dan reportase ke lapangan.

Menurut Mohseni, Taliban harus memanfaatkan media untuk menarik simpati dunia, terutama negara-negara Barat.

"Penting bagi mereka untuk memenangkan hati dan pikiran, dan menunjukkan kepada internasional bahwa mereka sah, dan bahwa mereka adalah orang-orang yang dapat bekerja sama dengan Anda," kata Mohesni.

Mohseni juga mengatakan bahwa, "Dalam fase ini media akan memiliki lebih banyak kebebasan daripada di fase terakhir berkuasa."

Namun, Mohseni memprediksi Taliban akan tetap membatasi media agar tak mengkritik pemerintahan mereka nantinya.

"Mereka akan berada di pemerintahan untuk sementara waktu. Apa yang terjadi jika Anda mulai mengkritik? Anda dapat menayangkan apa pun yang Anda inginkan selama itu tidak mengkritik pemerintah?" katanya.

Meski demikian, kehadiran media di Afghanistan tetap dinilai sebagai kemajuan. Saat Taliban berkuasa sebelumnya, mereka melarang warga menonton televisi, menggunakan internet, bahkan mendengarkan musik.

Mereka hanya menyuguhkan satu stasiun radio keagamaan. Afghanistan juga tidak punya jaringan telepon seluler komersial.

[Gambas:Video CNN]

Dua puluh tahun kemudian, negara ini dibanjiri ponsel yang digunakan untuk merekam peristiwa dan menyebar dengan mudah ke seluruh negeri serta dunia. Para pejuang Taliban bahkan kerap menghabiskan waktu bertukar materi di WhatsApp.

Perkembangan hari ini telah memaksa Taliban melakukan pendekatan baru terhadap media. Mereka dianggap sadar betul pengaruh media dalam pengakuan terhadap pemerintahan.

Dalam beberapa hari terakhir, juru bicara Taliban juga telah diwawancarai secara langsung oleh presenter perempuan di BBC News dan Sky News.

"Ini adalah ancaman bagi kami. Kami berasumsi bahwa kami telah kehilangan bisnis. Apa pun yang lebih baik daripada penutupan total adalah kemenangan bagi kami. Namun, kami sudah tahu aturan mainnya sebelum kami masuk ke dalamnya. Ini Afghanistan, wilayah yang sulit."

(isa/has)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER