Haiti Berjuang Bangun Kembali Sekolah Usai Gempa Agustus
CNN Indonesia
Minggu, 05 Sep 2021 14:13 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Haiti berjuang untuk kembali bisa membuat anak-anak di negara tersebut bersekolah usai gempa yang meluluhlantakkan negeri. (AP/Joseph Odelyn)
Di sisi lain, menyambut anak-anak kembali ke sekolah menjadi beban tersendiri bagi berbagai sekolah swasta yang mencakup 80 persen dari jumlah sekolah di Haiti.
"Kami memiliki siswa yang belum membayar uang sekolah untuk tahun ajaran 2017-2018," kata Maxime Eugene, seorang guru di SMA Mazenod.
Ia mengatakan pihaknya tidak bisa menyuruh para siswa pulang dan membuat siswa kehilangan satu tahun sekolah, lantaran belum membayar iuran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gempa menghancurkan setiap ruang kelas di sekolah Katolik terkenal di negara tersebut. Tentara membantu membersihkan puing-puing, tetapi pejabat sekolah masih menunggu bantuan lain untuk memulai tahun ajaran.
"Janji telah dibuat kepada kami tetapi belum ditepati," kata Eugene.
"Jika bangunan kami dapat selesai tepat waktu, kami bisa siap untuk memulai sekolah pada 4 Oktober karena kami berhasil menyelamatkan perabotannya," tambah Eugene.
Distrik L'Asile, yang berada di tengah pegunungan yang membentang di semenanjung selatan Haiti, termasuk wilayah yang terdampak paling buruk dari gempa 14 Agustus lalu.
"Bangunannya mungkin sudah siap, tetapi saya pribadi tidak tahu bagaimana saya akan kembali bekerja," kata Brenus Saint Jules, seorang kepala sekolah yang rumahnya hancur akibat gempa.
Sehari setelah gempa, seorang tetangga meminjamkannya celana. Ia menghabiskan 10 hari berikutnya tidur di belakang truk bersama istri dan dua anaknya. Ada pula empat orang lainnya yang juga kehilangan tempat tinggal.
Saint Jules yang telah mengajar lebih dari 30 tahun saat ini tidur dengan beralaskan logam. Ia mengaku stres, bahkan tidak bisa memikirkan tahun ajaran yang akan datang.
"Stres beberapa minggu terakhir membuat saya merasa 'sakit jiwa'. Saya menghabiskan waktu saya memikirkan bagaimana saya akan pulih," tuturnya.
Haiti berjuang untuk kembali bisa membuat anak-anak di negara tersebut bersekolah usai gempa yang meluluhlantakkan negeri dan membunuh sekitar 2.200 orang serta menghancurkan puluhan ribu bangunan, termasuk sekolah, Agustus lalu.
Upaya tersebut menjadi tantangan logistik dan kemanusiaan di negara termiskin di benua Amerika itu. Sebelum digoyang gempa kemarin, Haiti belum seutuhnya pulih dari gempa 2010 yang membunuh lebih dari 200 ribu orang dan kerusakan miliaran dolar.
Kegiatan sekolah yang semula dijadwalkan dimulai pada 6 September, diundur pelaksanaannya dua pekan. Kemudian sebanyak tiga wilayah yang paling terdampak gempa berkekuatan 7,2 M pada 14 Agustus lalu telah ditunda hingga 4 Oktober mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar penundaan ajaran baru itu menjadi hitungan mundur bagi sukarelawan yang masih terus bekerja membantu para korban selamat di wilayah selatan negara tersebut.
"Dari 2.800 sekolah di tiga daerah yang terkena dampak, 955 telah dibantu oleh pemerintah dengan dukungan dari UNICEF, dan hasil pertama menunjukkan bahwa 15 persen bangunan di antaranya hancur dan 69 persen rusak," ujar Bruno Maes, Kepala UNICEF di Haiti.
"Ini akan berpacu dengan waktu karena hanya beberapa minggu untuk mendirikan tempat perlindungan belajar yang aman untuk anak-anak di tiga wilayah ini sehingga mereka tidak ketinggalan tahun ajaran lagi," lanjutnya.
Tahun ajaran 2019-2020 berakhir pada Maret tahun lalu karena pandemi Covid-19. Tahun ajaran berikutnya terganggu oleh aksi anarkis yang meluas dari geng jalanan.
Pada akhir 2020 dan awal tahun ini, anggota geng melakukan banyak penculikan anak-anak dan guru di Port-au-Prince. Mereka lalu meminta tebusan untuk pembebasan sandera.
Sekitar 150 kilometer dari Port-au-Prince, gelombang kejahatan sebagian besar berasal dari Camp-Perrin. Tetapi daerah itu juga menjadi wilayah terbilang parah terdampak gempa.
Perjuangan Haiti lanjut ke sebelah...
Pusing
Haiti berjuang untuk kembali bisa membuat anak-anak di negara tersebut bersekolah usai gempa yang meluluhlantakkan negeri. (AP/Joseph Odelyn)
Di sisi lain, menyambut anak-anak kembali ke sekolah menjadi beban tersendiri bagi berbagai sekolah swasta yang mencakup 80 persen dari jumlah sekolah di Haiti.
"Kami memiliki siswa yang belum membayar uang sekolah untuk tahun ajaran 2017-2018," kata Maxime Eugene, seorang guru di SMA Mazenod.
Ia mengatakan pihaknya tidak bisa menyuruh para siswa pulang dan membuat siswa kehilangan satu tahun sekolah, lantaran belum membayar iuran.
Gempa menghancurkan setiap ruang kelas di sekolah Katolik terkenal di negara tersebut. Tentara membantu membersihkan puing-puing, tetapi pejabat sekolah masih menunggu bantuan lain untuk memulai tahun ajaran.
"Janji telah dibuat kepada kami tetapi belum ditepati," kata Eugene.
"Jika bangunan kami dapat selesai tepat waktu, kami bisa siap untuk memulai sekolah pada 4 Oktober karena kami berhasil menyelamatkan perabotannya," tambah Eugene.
Distrik L'Asile, yang berada di tengah pegunungan yang membentang di semenanjung selatan Haiti, termasuk wilayah yang terdampak paling buruk dari gempa 14 Agustus lalu.
"Bangunannya mungkin sudah siap, tetapi saya pribadi tidak tahu bagaimana saya akan kembali bekerja," kata Brenus Saint Jules, seorang kepala sekolah yang rumahnya hancur akibat gempa.
Sehari setelah gempa, seorang tetangga meminjamkannya celana. Ia menghabiskan 10 hari berikutnya tidur di belakang truk bersama istri dan dua anaknya. Ada pula empat orang lainnya yang juga kehilangan tempat tinggal.
Saint Jules yang telah mengajar lebih dari 30 tahun saat ini tidur dengan beralaskan logam. Ia mengaku stres, bahkan tidak bisa memikirkan tahun ajaran yang akan datang.
"Stres beberapa minggu terakhir membuat saya merasa 'sakit jiwa'. Saya menghabiskan waktu saya memikirkan bagaimana saya akan pulih," tuturnya.