Rektor Pilihan Taliban Larang Wanita Masuk Universitas Kabul

pwn, CNN Indonesia | Selasa, 28/09/2021 14:13 WIB
Perempuan tidak lagi diizinkan masuk lingkungan Universitas Kabul baik sebagai mahasiswa maupun pengajar. Sebelumnya, Taliban juga mewajibkan siswa perempuan dan laki-laki duduk terpisah tirai di dalam kelas. (Foto: AFP/AAMIR QURESHI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rektor baru Universitas Kabul yang dipilih Taliban, Ashraf Ghairat, melarang perempuan belajar dan bekerja salah satu kampus ternama Afghanistan tersebut.

Melalui kicauan di Twitter, Ghairat menuturkan perempuan tidak lagi diizinkan masuk lingkungan Universitas Kabul baik sebagai mahasiswa maupun pengajar.

"Wahai warga semua, saya berikan janji saya sebagai rektor Universitas Kabul: selama lingkungan Islami yang nyata tidak tersedia bagi semua orang, perempuan tidak akan diizinkan untuk datang ke universitas atau bekerja. Islam prioritas utama," kata Ghairat.


Kebijakan baru itu semakin memperjelas sikap Taliban yang mengekang hak perempuan Afghanistan terlepas dari janjinya ketika mengklaim berkuasa lagi di negara itu pada 15 Agustus lalu.

Salah satu staff di universitas tersebut menilai Taliban memonopoli nilai syariat Islam untuk berkuasa di Afghanistan.

"Di tempat suci ini, tidak ada yang tidak Islami," kata seorang perempuan yang menjadi dosen di Universitas Kabul kepada New York Times.

"Presiden, guru, insinyur, dan bahkan mullah dilatih di sini demi melayani masyarakat. Universitas Kabul adalah rumah bagi bangsa Afghanistan." tuturnya menambahkan.

Tak hanya perempuan, dosen pria di Universitas Kabul juga turut menanggapi kebijakan ini.

"Tidak ada harapan, seluruh sistem pendidikan tinggi runtuh," kata Dosen di Fakultas Jurnalistik Universitas Kabul, Hamid Obaidi.

"Semuanya hancur," papar mantan juru bicara Kementerian Pendidikan Tinggi Afghanistan itu menambahkan.

Ghairat baru ditunjuk rezim Taliban sebagai Presiden Universitas Kabul dua minggu lalu. Pria 34 tahun itu merupakan loyalis Taliban yang kerap menganggap sekolah-sekolah di Afghanistan sebagai "pusat prostitusi".

Pengangkatan Ghairat menuai kontra dari serikat guru Afghanistan. Mereka sempat mengirim surat pada pemerintah Afghanistan di bawah rezim Taliban pada pekan lalu menuntut pembatalan pengangkatan Ghairat.

Ghairat juga menuai kritik di media sosial karena dinilai memiliki pengalaman akademis yang kurang. Beberapa teman sekelasnya juga menggambarkan Ghairat sebagai mahasiswa ekstremis yang memiliki sederet masalah dengan teman sekelas dan dosen perempuan.

"Saya bahkan belum memulai pekerjaan saya. Bagaimana mereka tahu saya mampu atau tidak? Biarkan waktu yang menilai semuanya," kata Ghairat menanggapi berbagai kritikan terhadap pengangkatannya sebagai rektor.

Sementara itu, Juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid, mencoba meredam kritik pengangkatan Ghairat. Ia menyebut pernyataan Ghairat soal larangan perempuan masuk kembali ke Universitas Kabul "mungkin pandangan pribadinya sendiri."

Namun, Mujahid tidak memberikan jaminan kapan larangan perempuan untuk bersekolah akan dicabut.

Ia berdalih bahwa wanita masih belum dianjurkan kembali bekerja dan sekolah karena Taliban masih berupaya merancang "sistem transportasi yang lebih aman dan lingkungan di mana siswa perempuan dapat terlindungi."

Pada 17 September lalu, pemerintahan baru Afghanistan di bawah rezim Taliban telah memerintahkan seluruh siswa dan guru laki-laki untuk pergi ke sekolah dalam diktat. Namun, mereka tidak menyinggung nasib para siswa dan guru perempuan.

"Semua guru dan siswa pria harus menghadiri lembaga pendidikan mereka," bunyi peraturan terbaru kementerian itu seperti dikutip AFP.



(pwn/rds)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK