WHO Tegaskan Belum Ada Kematian Akibat Varian Omicron

CNN Indonesia
Jumat, 03 Dec 2021 20:17 WIB
WHO mengatakan belum ada laporan kematian yang berkaitan dengan varian Covid-19 Omicron pada Jumat (3/12). Foto ilustrasi. (iStockphoto/Thomas Faull)
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan belum ada laporan kematian yang berkaitan dengan Covid-19 varian Omicron pada Jumat (3/12).

"Saya belum menerima laporan kematian yang berkaitan dengan Omicron," ujar juru bicara WHO, Christian Lindmeier, kepada reporter di Jenewa seperti dikutip AFP, Jumat (3/12).

WHO mengaku telah mengumpulkan bukti terkait varian itu, selagi negara-negara di dunia berusaha menghentikan laju penyebaran Omicron.


"Kami tengah mengumpulkan bukti dan kami akan menemukan lebih banyak bukti selagi bisa," imbuh jubir itu.

Lindmeier kemudian meminta seluruh negara untuk tetap melakukan pengujian dan menganalisis secara khusus varian Omicron.

"Kami juga akan menemukan kasus yang lebih, informasi yang lebih dan berharap, semoga tidak, tapi juga kemungkinan kematian," ucap dia.

Varian Omicron pertama dilaporkan oleh Botswana, Afrika Selatan pada November lalu. Varian itu kini menyebar di hampir seluruh negara.

Demi mencegah penularan lebih luas, beberapa negara memutuskan menutup perbatasan internasional, utamanya dari Afrika. Jepang, bahkan menutup pintu bagi warga asing dan menghentikan penjualan tiket pesawat.

Sementara itu pihak berwenang Afrika Selatan merasa dihukum oleh sejumlah negara yang menutup perbatasan bagi mereka lantaran mendeteksi varian baru.

Padahal mereka sudah membagikan informasi baru, dengan pengurutan genom yang canggih dan kemampuan mendeteksi varian baru lebih cepat.

Omicron kini menjadi ancaman baru bagi dunia di tengah banyak negara yang berangsur menerapkan hidup normal dan berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi.

WHO juga memasukkan varian tersebut ke dalam kategori varian of concern atau varian yang mengkhawatirkan.

Badan itu juga menyatakan varian Omicron memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dibanding varian lain dan dapat memicu reinfeksi atau infeksi ulang Covid-19. Namun penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk informasi yang lebih komprehensif.



(isa/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER