Kecemasan Warga Sanaa Yaman di Bawah Ancaman Serangan Koalisi Saudi

nly | CNN Indonesia
Sabtu, 22 Jan 2022 15:37 WIB
Warga Sanaa telah diperingatkan bahwa akan ada serangan udara susulan yang dilancarkan oleh koalisi yang dipimpin Arab Saudi dalam waktu dekat. Serangan Udara Koalisi Pimpinan Saudi di Bandara Sanaa Yaman menghancurkan bangunan. (REUTERS/KHALED ABDULLAH)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah toko di Sanaa, Yaman tutup lebih awal setelah serangan udara ke wilayah Sanaa, Yaman oleh koalisi yang dipimpin Arab Saudi. Serangan itu dilaporkan menewaskan 60 orang dan melukai 100 orang lainnya. 

Salah satunya Ghazi al-Qadasi. Dikutip dari Reuters pada Sabtu (22/1), ia menutup toko pakaiannya lebih awal untuk bergegas pulang.

Ia dan warga Sanaa telah diperingatkan bahwa akan ada serangan udara susulan yang dilancarkan oleh koalisi yang dipimpin Arab Saudi dalam waktu dekat setelah dua hari lalu Arab Saudi melancarkan serangan udara ke wilayah Sanaa, Yaman dan menewaskan setidaknya 20 orang.


"Sudah tiga hari [sejak] serangan yang sangat kuat," kata Qadasi, yang tokonya berada di distrik Hael Sanaa, yang terletak 1 km dari daerah militer yang terkena serangan.

"Pelanggan takut dan kami mulai menutup toko kami lebih awal untuk memastikan anak-anak kami ada di dalam rumah," jelasnya.

Sanaa merupakan wilayah yang dikuasai oleh pasukan Houthi yang bersekutu dengan Iran sejak 2014. Sejak 2020, wilayah ini relatif tenang ketika pertempuran berkobar di tempat lain di Yaman.

Hingga pada September lalu, setelah rudal dan pesawat tak berawak menghantam pangkalan militer utama di selatan Yaman. Akibatnya, kelompok pemberontak Yaman, Houthi, melancarkan serangan balasan dengan mengirim rudal balistik ke fasilitas minyak Arab Saudi.

Terbaru, kelompok Houthi di Yaman mengakui bahwa serangan drone yang mengakibatkan ledakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab adalah tindakan mereka.

Sementara itu, Ahmed al-Hashedi dan keluarganya yang tinggal di sebuah gedung dekat akademi militer bertolak menuju bandara Sanaa, Yaman. Ia bercerita bahwa sebuah serangan udara pada Rabu (19/1) menghancurkan jendela dan meninggalkan lubang menganga di dinding rumahnya.

"Mereka (koalisi) telah menghancurkan hidup kami. Tidak ada yang tersisa. Ke mana kita akan pergi, ke jalanan?" kata Hashedi.

Sementara itu, PBB telah mendesak de-eskalasi untuk mengakhiri konflik hampir tujuh tahun di mana lebih dari 100.000 orang telah tewas dan 4 juta mengungsi dalam perang yang ditandai oleh serangan udara koalisi serta penembakan dan rudal Houthi.

Sebelumnya, koalisi melakukan intervensi di Yaman pada Maret 2015 setelah Houthi menggulingkan pemerintah yang didukung Saudi dari Sanaa. Houthi mengatakan mereka memerangi agresi asing.

Seiring waktu, eskalasi dua pihak semakin panas. Hingga pada Kamis (20/1) Komite Penyelamatan Internasional dalam sebuah pernyataan menyerukan pemulihan kembali badan investigasi kejahatan perang yang ditutup Oktober lalu.

Seperti yang dikutip dari Proyek Data Yaman tercatat bahwa dalam dua bulan setelah panel ditutup, tingkat pemboman koalisi telah meningkat sebesar 43 persen.

Sementara itu, seorang pegawai pemerintah Saleem Rajeh yang tinggal di distrik Hael Sanaa, mengatakan dia khawatir meninggalkan keluarganya untuk pergi bekerja. Sedangkan, pemilik toko perak Ibrahim Alwan merasa terjebak.

"Anda berpikir untuk pergi tapi kemana Anda pergi? Anda tidak bisa mencari nafkah di pedesaan," kata Alwan.

"Jadi, apakah Anda tinggal di sini dan menunggu serangan udara atau Anda pergi? Kami berada dalam posisi yang tidak menyenangkan,"imbuhnya.

(isn/isn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER