Jakarta, CNN Indonesia -- Istilah 'Hell Week' kembali mencuat setelah satu calon calon pasukan elite Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat Navy Seal, Kyle Mullen, meninggal dunia. Mullen meninggal usai mengikuti pendidikan dan latihan dasar (Diklat)
Penyebab kematian prajurit 24 tahun itu masih dalam investigasi. Seorang pasukan lain juga dirawat di rumah sakit akibat insiden dalam Diklat tersebut.
Sementara itu, Mullen dan rekan lainnya yang dirawat karena mereka mengalami gejala dari penyakit yang tak diketahui. Gejala ini dilaporkan beberapa jam usai menyelesaikan pendidikan dasar Basic Underwater Demolition/SEAL.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka kemudian dilarikan ke Layanan Kegawatdaruratan Medis. Sementara itu, rekan Mullen dilaporkan berada dalam kondisi stabil, dikutip dari Newsweek.
'Hell Week' disebut neraka fase pertama dari serangkaian seleksi yang harus dilewati untuk bisa masuk dalam pasukan khusus AS. Hell Week dijalankan para calon Navy Seal pada pekan ketiga di fase itu.
'Hell Week' disebut sebagai puncak pendidikan untuk para kandidat, mengingat ini adalah latihan terberat dalam militer AS.
Mengutip laman resmi AL AS, latihan ini biasa dilakukan selama lima setengah hari. Selama latihan, peserta hanya boleh tidur kurang dari empat jam.
Pekan Neraka ini mengetes kekuatan fisik, mental, rasa sakit, toleransi pada dingin, kerja sama tim, sikap, dan kemampuan untuk bekerja di bawah tekanan fisik dan mental yang tinggi, pun juga kurang tidur.
Para kandidat terus berlari, berenang, mengayuh, membawa perahu di kepala mereka, melakukan sit-up, push-up, dan berbagai latihan berat latihan. Mereka juga harus tertutup dengan lumpur.
Para peserta juga harus berpikir, memimpin, mengambil keputusan yang tepat, dan beroperasi secara fungsional di tengah kondisi kurang tidur, hampir terkena hipotermia, bahkan berhalusinasi.
Jumlah para kandidat yang lolos dari Pekan Neraka, baca di halaman berikutnya...
Hanya 25 Persen Kanidat Lolos di Pekan Neraka
Para calon Navy Seal menahan terjangan ombak. (AP/MC1 Anthony Walker)
Para calon Navy Seal tentu mendapatkan asupan makanan bergizi, namun banyak dari mereka yang kelelahan dan tidur saat menjalani Diklat. Ada juga yang tidur saat mengayuh perahu dan harus dibantu oleh rekan tim.
Sementara itu, hanya 25 persen dari kandidat yang bisa melewati Pekan Neraka ini.
Dalam latihan ini, para instruktor akan mengawasi dengan ketat para kandidat, membujuk peserta untuk berhenti bila tak kuat menahan latihan keras ini. Instruktur bakal terus menilai peserta, mencari siapa yang memiliki etos kerja SEAL, kekuatan fisik, dan karakter untuk penyelamatkan hidup diri dan rekan mereka.
Bagi peserta yang memutuskan menyerah, peserta bisa membunyikan bel yang menunjukkan kekalahan.
Meski latihan yang dilakukan cukup keras, pihak AL menyediakan layanan kesehatan bagi para kandidat untuk mengurangi risiko kecelakaan, bahkan kematian.
Menurut mantan Navy SEAL, Jason Redman, pihak angkatan laut AS berupaya menjaga kesehatan peserta.
"Tentu saja. Maksudnya tim SEAL dan instruktur, mereka melakukan pekerjaan bagus. Ada staf medis penuh waktu yang ditugaskan untuk pelatihan SEAL," ujar Redman saat diwawancara CNN.
Kandidat mendapatkan pemeriksaan medis beberapa kali sehari. Mereka akan diperiksa untuk hipotermia, mereka akan diperiksa untuk infeksi," ia melanjutkan.
Redman juga menilai Pekan Neraka ini merupakan salah satu fondasi yang membangun pemikiran SEAL. Sekitar 80 persen kandidat di satu kelas tereliminasi ketika melakukan latihan ini.
"Ini mungkin salah satu dari yang terbesar yang membentuk pemikiran SEAL. Kamu basah, tertutup lumpur sembari melakukan kegiatan fisik dalam sepekan penuh," cerita Redman.