Akan Larang Ganja di Sekolah, Thailand Sosialisasi Efek Mariyuana

CNN Indonesia
Jumat, 17 Jun 2022 13:06 WIB
Thailand akan melarang penggunaan ganja bagi sekolah dengan mendeklarasikan sekolah bebas ganja usai siswa dilarikan ke rumah sakit diduga overdosis mariyuana. Thailand akan larang ganja di sekolah usai siswa diduga overdosis. (REUTERS/ATHIT PERAWONGMETHA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pendidikan (Kemendik) Thailand akan melarang penggunaan ganja bagi sekolah dengan mendeklarasikan sekolah bebas ganja usai siswa dilarikan ke rumah sakit diduga overdosis mariyuana.

Menteri Pendidikan Thailand, Trinuch Thienthonng, mengatakan setiap sekolah yang berada di bawah naungan kementeriannya akan mendeklarasikan zona bebas ganja. Kemendik juga harus memastikan pengajar dan murid memahami pro-kontra mengonsumsi ganja.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand akan menggelar diskusi untuk mendapat rincian lebih lanjut soal ganja dan potensi efek sampingnya. Termasuk ganja yang digunakan dalam produk bahan makanan, kue, roti, dan jus.


Lebih jauh Trinuch menerangkan, Kantor Komisi Pendidikan Dasar (Obec) akan menginstruksikan kantor-kantor di area layanan pendidikan membatasi penggunaan ganja di sekolah secara ketat.

Aturan itu muncul usai Trinicuh khawatir soal penggunaan ganja di kalangan siswa.

Kekhawatiran itu bukan tanpa sebab. Tempo hari empat orang termasuk siswa berusia 16 dan 17 tahun dilarikan ke rumah sakit usai diduga overdosis ganja. Satu dari mereka dilaporkan meninggal.

Gerakan itu juga didukung Gubernur Bangkok, Chadchart Sittipunt. Sebelumnya, ia mengatakan sekolah yang berada di bawah naungan Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA) bertanggung jawab untuk memastikan murid memahami ganja lebih jauh.

[Gambas:Video CNN]

Chadchart bersikeras dirinya tak bermaksud menghambat kebijakan pemerintah, namun memastikan kesehatan dan keselamatan publik.

Sekretaris Kemenkes Thailand, Kiattiphum Waongrajit, mengatakan akan mempercepat mengeluarkan aturan pencegahan terkait ganja.

Kiattiphum menilai, karena sejauh ini parlemen belum mengesahkan Undang-undang ganja dan rami, pemerintah bisa memberlakukan lebih banyak aturan yang mempertimbangkan pandangan Kemenkes.

Selain itu, Kiattiphum menyinggung manfaat ganja untuk ekonomi. Menurutnya, produk-produk dari tanaman ini bisa menambal finansial negara akibat hantaman Covid-19. Ia juga mengingatkan dampak penggunaan mariyuana,

"Walaupun ganja sudah dicabut [dari daftar narkotika] tetap harus dikendalikan. Kami sudah mengeluarkan pemberitahuan yang membatasi orang agar tak mengisap, karena dapat memengaruhi kesehatan mental atau menyebabkan kecelakaan lalu lintas," jelas dia.

Berdasarkan aturan, kadar senyawa psikoaktif dalam ganja tak boleh melebihi 0,2 persen tetrahydrocannabinol (THC).

Thailand meresmikan penggunaan ganja untuk keperluan medis dan bisnis pada 9 Juni lalu. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan ekonomi negara.

(isa/bac)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER