Presiden Timor Leste soal Kribo dan Wajah Garang: Saya Bukan Radikal

CNN Indonesia
Jumat, 22 Jul 2022 16:30 WIB
Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta mengaku citra radikal melekat dalam dirinya di masa lalu karena saat itu ia tak punya cukup uang untuk potong rambut. Jose Ramos Horta menegaskan dirinya bukan radikal. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Timor Leste, Jose Ramos Horta, mengaku citra radikal melekat dalam dirinya di masa lalu karena saat itu ia tak punya cukup uang untuk potong rambut.

Pengakuan tersebut mencuat saat Ramos berbincang soal perjuangan masa muda dirinya dengan jurnalis Indonesia, Najwa Shihab. Pembicaran mereka lalu dirilis di kanal Youtube Najwa Shihab pada Kamis (20/7).

Najwa menunjukkan foto saat Ramos masih muda. Dalam gambar itu, ia tampak garang dan berambut kribo besar.

"Anda tahu, saya tak pernah menjadi radikal. Saya selalu orang sosial demokrat. Saya tak percaya Marxisme-Leninisme. Saya juga tak suka gaya kapitalis Amerika yang tanpa belas kasih," ujar Ramos usai ditanya kenangan paling penting di masa perjuangan.

Marxisme-Leninisme merupakan paham ideologi politik yang berlandaskan komunisme. Sederhananya, visi ideologi ini adalah semua rakyat mencapai kesetaraan dan keberlimpahan.

Paham ini menyoroti ketimpangan kelas karena sistem ekonomi kapitalis, yang dianggap tak tepat.

[Gambas:Video CNN]

Ramos Horta mengaku bahwa saat muda, citra radikal melekat hanya karena rambutnya gimbal, padahal semua terjadi karena ia tak punya uang untuk ke tukang pangkas.

"[Selain itu] Saat itu saya rasa gaya itu bagus. Melihat ke belakang, saya malu, " kata Ramos lagi sembari sedikit terkekeh.

Ramos merupakan salah satu aktivis Timor Leste. Ia aktif terlibat untuk membangun kesadaran politik warga Timor Portugis, nama sebelum Timor Leste merdeka.

Kemudian pada 1975, ia menjadi Menteri Luar Negeri dalam pemerintahan Republik Demokratik Timor Leste. Pemerintahan ini dideklarasikan oleh sejumlah partai pro-kemerdekaan. Di tahun itu pula, Indonesia menyerbu wilayah itu.

Tiga hari sebelum pasukan Indonesia menginvasi Timor Leste, ia mengajukan kasus negaranya di hadapan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Di depan Dewan Keamanan PBB, Ramos mendesak agar mereka mengambil tindakan terkait penjajahan Indonesia di Timor Leste.

Kiprah Ramos di pemerintahan Timor Leste sangat tak asing. Pada 2002 hingga 2007 ia menjadi presiden negara ini.

Di tahun ini, ia kembali mencalonkan presiden. Ramos kemudian berhasil memenangkan Pemilu dengan perolehan suara 62 persen.

Di pemerintahan kali ini, ia mengaku lebih mudah memimpin Timor Leste.

"Lebih mudah karena pada 2007 saya mewarisi krisis politik dan keamanan serius, dan Timor Leste sangat terpecah belah," ujar Ramos.

Menurut dia, di tahun-tahun tersebut Timor Leste memiliki masalah di tubuh militer, kepolisian, dan kekerasan. Kini, lanjut dia, negaranya sudah tenang.



(isa/rhr/has)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER