Junta Myanmar Eksekusi Mati 4 Aktivis Pro-Demokrasi Loyalis Suu Kyi

CNN Indonesia
Senin, 25 Jul 2022 10:23 WIB
Junta Myanmar telah mengeksekusi empat tahanan yang merupakan loyalis Aung San Suu Kyi aktivis pro-demokrasi, termasuk mantan anggota parlemen. Foto junta militer Myanmar. (AP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Junta Myanmar telah mengeksekusi empat tahanan yang merupakan loyalis Aung San Suu Kyi aktivis pro-demokrasi, termasuk mantan anggota parlemen.

Menurut pemberitaan media Global New Light of Myanmar pada Senin (25/7), keempat tahanan tersebut dieksekusi karena dituduh junta militer memimpin aksi teror yang brutal dan tidak manusiawi.

Media itu juga mengungkapkan eksekusi dilakukan sesuai prosedur penjara, tetapi tak memberikan detail kapan dan bagaimana eksekusi itu berlangsung.

Sebagaimana diberitakan AFP, mantan anggota parlemen dari partai Liga Nasional Demokrasi (NLD), Phyo Zeya Thaw, merupakan satu dari empat orang yang dieksekusi. Phyo ditangkap pada November dan dijatuhi hukuman mati pada Januari karena melanggar undang-undang anti terorisme.

[Gambas:Video CNN]

Phyo dituduh merencanakan beberapa serangan ke rezim junta, termasuk penembakan di kereta di Yangon pada Agustus lalu. Imbas penembakan itu, sebanyak lima polisi tewas.

Phyo sendiri merupakan mantan penyanyi hip-hop yang ditunjuk sebagai anggota parlemen dari NLD pada 2015.

Selain Phyo, aktivis demokrasi terkenal Kyaw Min Yu, yang dikenal sebagai Jimmy, juga turut dieksekusi. Kyaw ditangkap pada Oktober lalu.

Dua orang lain yang dieksekusi adalah Hla Myo Aung dan Aung Thura Zaw, dikutip dari Reuters.

Reuters sendiri telah menghubungi seorang juru bicara militer Myanmar untuk dimintai konfirmasi, tetapi ia tidak menjawab telepon.

Sementara itu, istri dari Phyo, Thazin Nyunt Aung, mengatakan ia tak mendapatkan informasi terkait eksekusi suaminya.

Namun, beberapa kerabat lain tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan.

Di sisi lain, eksekusi yang dilakukan junta Myanmar menuai respons dari dunia internasional.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengecam eksekusi tersebut.

Guterres juga menyebut eksekusi ini sebagai "pelanggaran memalukan atas hak untuk hidup, bebas, dan hak atas keamanan seseorang."

Menurut keterangan kelompok aktivis Asosiasi Bantuan Tahanan Politik (AAPP), Myanmar terakhir kali melakukan eksekusi yudisial pada akhir 1980-an.

AAPP juga menyampaikan lebih dari 2.100 orang telah dibunuh oleh pasukan keamanan sejak kudeta berlangsung. Namun, junta mengklaim angka itu dilebih-lebihkan.

Sejak 2021, Myanmar dilanda kekacauan setelah junta melengserkan pemimpin de facto negara itu, Suu Kyi. Sejak itu, Myanmar harus berhadapan dengan bentrok dan perlawanan dari masyarakat yang menolak kepemimpinan junta.

(pwn/bac)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER