Rusia Tangkap Pakar Hipersonik, Ilmuwan Ketiga yang Diduga Berkhianat

CNN Indonesia
Sabtu, 06 Agu 2022 14:39 WIB
Usai penangkapan dua ilmuwan, pakar hipersonik Rusia Alexander Shiplyuk ditahan atas tuduhan pengkhianatan. Ilustrasi. Seorang ilmuwan Rusia ditahan dengan tuduhan pengkhianatan. (Foto: iStockphoto/sakhorn38)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang ilmuwan teknologi hipersonik asal Rusia Alexander Shiplyuk ditahan atas tuduhan pengkhianatan pada Jumat (5/8).

Shiplyuk, yang merupakan direktur Institut Mekanika Teoritis dan Terapan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia cabang Siberia, merupakan ilmuwan ketiga yang ditangkap atas tuduhan pengkhianat pada musim panas tahun ini.

Diberitakan CNN, direktur sains institut tersebut, Vasily Fomin, mengatakan kepada media Rusia TASS bahwa Shiplyuk dikirim ke pusat detensi pra-peradilan Lefortovo di Moskow.

Shiplyuk sendiri merupakan kepala laboratorium teknologi yang memiliki fasilitas terowongan angin unik untuk menguji coba kondisi hipersonik.

Kantor berita TASS juga melaporkan bahwa setelah penangkapannya, agen intelijen FSB (badan intelijen Rusia) menggeledah kantor Shiplyuk, yang merupakan ilmuwan karirr yang diangkat sebagai direktur Institut Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia di Novosibirsk pada 2015.

"Ini terkait dengan direktur kami Alexander Nikolaevich Shiplyuk. Dia ditangkap. Dia didakwa dengan hal yang sama seperti Maslov, pengkhianatan," kata Vasily Fomin, kepala Institut, dikutip dari Telegraph.

Shiplyuk sendiri mempelajari pelapisan untuk rudal hipersonik dan membantu memperbarui teknologi militer Rusia dalam sebuah proyek yang disebut Army-2020.

Penangkapan Shiplyuk terjadi setelah pemimpin ilmuwan di institusi tersebut, Anatoly Maslov, ditangkap pada 27 Juni. Maslov, fisikawan dengan spesialisasi aerodinamika, dituduh mengirimkan data rahasia terkait rudal hipersonik.

Tak hanya itu, peneliti dari Institut Fisika Laser dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia cabang Siberia, Dmitry Kolker, ditangkap pada 30 Juni. Profesor matematika dan spesialis laser itu dituduh berkhianat karena berkolaborasi dengan badan keamanan China.

Kolker kemudian meninggal dua hari setelah tiba di Lefortovo. Dia telah menerima pengobatan untuk kanker pankreas stadium lanjut di Novosibirsk.

Di sisi lain, Rusia, China, dan Amerika Serikat disebut-sebut tengah mengembangkan senjata hypersonic glide vehicle (HGV). Senjata ini memiliki manuver tinggi dan secara teori berkecepatan hipersonik.

Rusia bersama China diketahui sedang mengalami peningkatan tensi hubungan dengan AS menyusul isu Ukraina dan Taiwan.

(win/arh)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER