Kisah Pilu Warga Terjebak di Rumah Bawah Tanah Kala Banjir Seoul
CNN Indonesia
Jumat, 12 Agu 2022 08:37 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Warga Seoul mengungkapkan pengalaman horor terjebak di rumah bawah tanah saat banjir melanda kota mereka. (AP/Kim In-chul)
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang warga Sillim, Distrik Gwanak, Seoul, menceritakan sebuah tragedi yang menimpa salah satu tetangganya kala banjir melanda Korea Selatan pekan ini.
Jeon Ye Seong (52) dan keluarganya merupakan satu dari beberapa keluarga di Seoul yang terdampak banjir.
Jeon dan keluarganya diketahui tinggal di rumah semi basemen yang muncul dalam film 'Parasite.' Rumah tersebut dikenal dengan nama 'banjiha.'
Jeon bercerita ketika hujan deras melanda Seoul, dia mendapat telepon dari anak perempuannya saat dia sedang di luar rumah. Anaknya mengatakan bahwa air hujan memasuki rumah lewat jendela.
Sebagaimana diberitakan media Hankyoreh, kejadian ini berlangsung pada pada Senin (8/8) pukul 21.00 waktu setempat.
Jeon kemudian bergegas kembali ke rumah, memecahkan kaca apartemen basemennya, kemudian menyelamatkan tiga anak perempuannya.
Setelah itu, Jeon menuturkan ia mendengar kabar dua bersaudara yang berumur 40-an tahun, pun seorang gadis remaja, terjebak di unit samping rumahnya.
Ketiga tetangga Jeon itu merupakan perempuan dengan umur 47 tahun, 46 tahun, dan 13 tahun. Anak 13 tahun ini merupakan anak perempuan dari salah satu dari wanita bersaudara itu.
Jeon dan tetangga lain berupaya menyelamatkan mereka, tetapi tak berhasil.
"Setelah menyelamatkan anak-anak saya, saya mendengar ada orang yang terjebak di unit sebelah, jadi saya dan pria berumur 30-an tahun yang tinggal di lantai dua mencoba membuka jendela sebelah. Namun, airnya sudah sangat tinggi, dan tekanannya sedemikian rupa, membuat kami tak bisa membukanya," cerita Jeon.
"Jika ada satu orang lagi bersama kami, kami pasti bisa menyelamatkan mereka. Saya tidak pernah melihat air memiliki kekuatan menakutkan seperti itu," lanjutnya.
Sekitar pukul 12.26, pemadam kebakaran baru bisa membuka jendela dan menyelamatkan tetangga Jeon yang terjebak. Namun, ketika jendela berhasil dibuka, mereka sudah meninggal dunia.
Hankyoreh melaporkan perempuan 47 tahun yang menjadi korban adalah seorang difabel, pun terdaftar dalam komunitas lokal sebagai orang difabel.
Sementara itu, ibu dari tetangga Jeon tinggal bersama anak dan cucunya. Sang ibu berhasil selamat dari maut karena dia berada di rumah sakit saat banjir terjadi.
"Sepengetahuan saya, [ibu mereka] telah berada di rumah selama beberapa waktu karena kondisi kesehatan yang buruk," ujar seorang warga lain di kawasan tersebut (73).
"Istri saya menceritakan kepadanya [sang ibu] terkait kejadian itu, dan saat ini dia tampak tak dapat dihibur," lanjut sumber itu.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Sebagaimana diberitakan Hankyoreh, area tempat tinggal para penduduk di Seoul dipenuhi banjir sekitar pukul 21.00. Air tersebut memasuki rumah semi-basemen di sana dan membuat sejumlah warga terjebak.
Kerabat dan tetangga menelepon polisi dan pemadam kebakaran pada pukul 21.00 untuk mengerahkan penyelamat.
Namun, banyak orang yang melaporkan hujan deras di waktu yang sama, membuat polisi dan pemadam kebakaran baru tiba di lokasi 30 menit setelah situasi dilaporkan.
"Kami menerima telepon pada pukul 20.59 dan pejabat divisi patroli tiba di sana sekitar pukul 21.30. Divisi patroli menerima lebih dari 40 laporan, yang menyebabkan keterlambatan," demikian pernyataan dari kantor kepolisian Gwanak.
Kepolisian juga menyatakan sempat mendapatkan laporan pada pukul 21.02. Namun, seluruh personel mereka ada di lapangan.
Mereka kemudian meminta bantuan dari kantor pemadam kebakaran terdekat.
Sementara itu, personel pertama tiba di lokasi kejadian pada pukul 21.46.
"Saat pemadam kebakaran berada di lokasi, mereka tak memiliki peralatan yang dibutuhkan untuk membuka pintu yang tergenang air, itu menambah keterlambatan," kata badan itu lagi.
"Pada akhirnya, mereka tak bisa membuka pintu dan harus memecahkan jendela," lanjutnya.
The Korea Herald melaporkan kejadian yang mirip juga terjadi di Distrik Dongjak, Seoul.
Seorang perempuan umur 50-an meninggal dunia karena tak bisa menyelamatkan diri kala banjir melanda rumah bawah tanahnya. Perempuan itu memiliki disabilitas mental dan ditemukan tewas pada (9/8).
Melihat masalah tersebut, Presiden Korsel Yoon Suk Yeol mendesak pembuatan perumahan milik pemerintah.
Yoon sendiri sempat berkunjung ke rumah perempuan bersaudara yang tewas di Gwanak pada Selasa (9/8).
Setelah itu, ia menegaskan dalam pertemuan kabinet bahwa," kita tidak boleh lagi mengizinkan tragedi yang sebetulnya bisa dicegah."
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang warga Sillim, Distrik Gwanak, Seoul, menceritakan sebuah tragedi yang menimpa salah satu tetangganya kala banjir melanda Korea Selatan pekan ini.
Jeon Ye Seong (52) dan keluarganya merupakan satu dari beberapa keluarga di Seoul yang terdampak banjir.
Jeon dan keluarganya diketahui tinggal di rumah semi basemen yang muncul dalam film 'Parasite.' Rumah tersebut dikenal dengan nama 'banjiha.'
Jeon bercerita ketika hujan deras melanda Seoul, dia mendapat telepon dari anak perempuannya saat dia sedang di luar rumah. Anaknya mengatakan bahwa air hujan memasuki rumah lewat jendela.
Sebagaimana diberitakan media Hankyoreh, kejadian ini berlangsung pada pada Senin (8/8) pukul 21.00 waktu setempat.
Jeon kemudian bergegas kembali ke rumah, memecahkan kaca apartemen basemennya, kemudian menyelamatkan tiga anak perempuannya.
Setelah itu, Jeon menuturkan ia mendengar kabar dua bersaudara yang berumur 40-an tahun, pun seorang gadis remaja, terjebak di unit samping rumahnya.
Ketiga tetangga Jeon itu merupakan perempuan dengan umur 47 tahun, 46 tahun, dan 13 tahun. Anak 13 tahun ini merupakan anak perempuan dari salah satu dari wanita bersaudara itu.
Jeon dan tetangga lain berupaya menyelamatkan mereka, tetapi tak berhasil.
"Setelah menyelamatkan anak-anak saya, saya mendengar ada orang yang terjebak di unit sebelah, jadi saya dan pria berumur 30-an tahun yang tinggal di lantai dua mencoba membuka jendela sebelah. Namun, airnya sudah sangat tinggi, dan tekanannya sedemikian rupa, membuat kami tak bisa membukanya," cerita Jeon.
"Jika ada satu orang lagi bersama kami, kami pasti bisa menyelamatkan mereka. Saya tidak pernah melihat air memiliki kekuatan menakutkan seperti itu," lanjutnya.
Sekitar pukul 12.26, pemadam kebakaran baru bisa membuka jendela dan menyelamatkan tetangga Jeon yang terjebak. Namun, ketika jendela berhasil dibuka, mereka sudah meninggal dunia.
Hankyoreh melaporkan perempuan 47 tahun yang menjadi korban adalah seorang difabel, pun terdaftar dalam komunitas lokal sebagai orang difabel.
Sementara itu, ibu dari tetangga Jeon tinggal bersama anak dan cucunya. Sang ibu berhasil selamat dari maut karena dia berada di rumah sakit saat banjir terjadi.
"Sepengetahuan saya, [ibu mereka] telah berada di rumah selama beberapa waktu karena kondisi kesehatan yang buruk," ujar seorang warga lain di kawasan tersebut (73).
"Istri saya menceritakan kepadanya [sang ibu] terkait kejadian itu, dan saat ini dia tampak tak dapat dihibur," lanjut sumber itu.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Kronologi Banjid Bandang di Seoul
Banjir bandang di Seoul Korsel. (AP/Ahn Young-joon)
Sebagaimana diberitakan Hankyoreh, area tempat tinggal para penduduk di Seoul dipenuhi banjir sekitar pukul 21.00. Air tersebut memasuki rumah semi-basemen di sana dan membuat sejumlah warga terjebak.
Kerabat dan tetangga menelepon polisi dan pemadam kebakaran pada pukul 21.00 untuk mengerahkan penyelamat.
Namun, banyak orang yang melaporkan hujan deras di waktu yang sama, membuat polisi dan pemadam kebakaran baru tiba di lokasi 30 menit setelah situasi dilaporkan.
"Kami menerima telepon pada pukul 20.59 dan pejabat divisi patroli tiba di sana sekitar pukul 21.30. Divisi patroli menerima lebih dari 40 laporan, yang menyebabkan keterlambatan," demikian pernyataan dari kantor kepolisian Gwanak.
Kepolisian juga menyatakan sempat mendapatkan laporan pada pukul 21.02. Namun, seluruh personel mereka ada di lapangan.
Mereka kemudian meminta bantuan dari kantor pemadam kebakaran terdekat.
Sementara itu, personel pertama tiba di lokasi kejadian pada pukul 21.46.
"Saat pemadam kebakaran berada di lokasi, mereka tak memiliki peralatan yang dibutuhkan untuk membuka pintu yang tergenang air, itu menambah keterlambatan," kata badan itu lagi.
"Pada akhirnya, mereka tak bisa membuka pintu dan harus memecahkan jendela," lanjutnya.
The Korea Herald melaporkan kejadian yang mirip juga terjadi di Distrik Dongjak, Seoul.
Seorang perempuan umur 50-an meninggal dunia karena tak bisa menyelamatkan diri kala banjir melanda rumah bawah tanahnya. Perempuan itu memiliki disabilitas mental dan ditemukan tewas pada (9/8).