Iran Bantah Terkait Penikaman: Salman Rushdie yang Salah Hina Islam

Tim | CNN Indonesia
Selasa, 16 Agu 2022 09:22 WIB
Iran membantah terkait dengan pelaku penikaman Salman Rushdie. Mereka menyatakan bahwa Rushdie yang harus disalahkan karena menghina Islam. Iran membantah terkait dengan pelaku penikaman Salman Rushdie. Mereka menyatakan bahwa Rushdie yang harus disalahkan karena menghina Islam. (Reuters/Luke MacGregor)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran membantah terkait dengan pelaku penikaman penulis kontroversial, Salman Rushdie. Mereka menyatakan bahwa Rushdie yang harus disalahkan karena menghina Islam.

"Kami membantahnya. Tak ada yang berhak menuding Iran," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanani, pada Senin (15/8), seperti dikutip AFP.

Kanani kemudian mengatakan bahwa Rushdie dan pendukungnya lah yang harus disalahkan karena menyulut emosi umat Muslim melalui bukunya, Ayat-ayat Setan.

"Dalam serangan ini, kami menganggap Salman Rushdie dan pendukungnya yang harus disalahkan, bahkan dikecam," tuturnya.

"Dengan menghina hal yang suci dalam Islam dan melewati batas lebih dari 1,5 miliar Muslim dan semua pengikut agama ini, Salman Rusdhie membuat dirinya sendiri menjadi sasaran amarah orang."

Pernyataan ini akhirnya sampai ke telinga pejabat Amerika Serikat. Juru bicara Kemlu AS, Ned Price, menyatakan bahwa omongan Kanani itu menjijikkan.

"Sangat keji. Sangat menjijikkan dan kami mengecamnya," katanya.

Rushdie masih terus menjadi perhatian setelah penulis tersebut ditikam berulang kali saat bersiap memberikan kuliah di atas panggung Chautauqua Institution, New York, pada Jumat pekan lalu.

Jaksa wilayah setempat, Jason Schmidt, menganggap sang pelaku, Hadi Matar, sudah merencanakan serangan tersebut. Menurutnya, Matar melakukan percobaan pembunuhan terhadap Rushdie.

[Gambas:Video CNN]

Schmidt mengatakan bahwa Matar melakukan langkah-langkah dengan sengaja agar dia dapat menyakiti Rushdie.

Langkah itu termasuk izin masuk ke tempa Rushdie memberikan kuliah di Chautauqua Institution. Selain itu, ia juga tiba lebih awal dengan membawa identitas palsu.

"Sumber dayanya tak penting bagi saya. Kami memahami agenda yang dilakukan kemarin sesuatu yang diadopsi dan disetujui kelompok dan organisasi yang lebih besar di luar batas yurisdiksi Chautauqua," ujar Schmidt.

Rushdie sendiri memang sudah lama memicu kontroversi setelah merilis novel bertajuk The Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan. Buku itu memicu kecaman umat Muslim, bahkan dilarang beredar di Iran sejak 1988.

Setahun kemudian, mendiang pemimpin Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, mengeluarkan fatwa atau dekrit yang menyerukan kematian Rushdie.

Iran menawarkan imbalan US$3 juta bagi pihak yang bisa membunuh Rushdie. Setelah itu, pemerintah Iran terus menjauhkan diri dari keputusan Khomeini itu, tetapi sentimen anti-Rushdie tetap ada.

Pada 2012, sebuah yayasan keagamaan semi-resmi Iran menambah hadiah bagi pihak yang dapat membunuh Rushdie dari US$2,8 juta menjadi US$3,3 juta.

(has/has)

[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER