Daftar fakta menarik 'resesi seks' China. (AP/Mark Schiefelbein)
Jakarta, CNN Indonesia --
China mengalami 'resesi seks' usai angka populasi di negara itu semakin turun. Ini membuat Presiden Xi Jinping menempuh berbagai cara demi meningkatkan kembali populasi Negeri Tirai Bambu.
Istilah resesi seks sendiri sempat disinggung oleh editor senior The Atlantic, Kate Julian, pada 2018. Dalam sebuah artikel, Julian menyoroti berkurangnya kegiatan seks generasi muda di Amerika Serikat dan menyebutkan sebagai 'resesi seks.'
Berikut sejumlah fakta mencengangkan terkait 'resesi seks' di China:
1. Populasi Warga Terus Turun
Berdasarkan penelitian berjudul 'The Challenges of the Low Birth Rate in China,' angka kelahiran di China hanya menyentuh 7,52 kelahiran per 1.000 orang pada 2021.
Beberapa perempuan China dikabarkan takut untuk memiliki anak.
Qiu Xiaojia, perempuan milenial dari Kota Hangzhou mengatakan ia tak berencana punya anak.
"Kami telah membeli rumah, dan biaya pinjaman bulanannya lebih tinggi daripada gaji bulanan saya. Jadi dari mana saya bisa mendapat uang untuk anak saya?" katanya kepada Radio Free Asia.
Warga China lain dari Kota Changsha, bermarga Li, mengatakan ia tak ingin menambah anak lagi.
"Saya tak bisa menambah anak. Membesarkan satu anak seperti menempatkan uang Anda ke mesin penghancur kertas," tutur Li.
Warga di Kota Chongqing, Ma Jing, mengatakan ia dan suaminya tidak berencana punya anak meski pemerintah menjanjikan insentif.
"Saya hidup dari bayaran demi bayaran, dan saya sangat mengandalkan orang tua saya. Properti tempat saya tinggal milik mereka, saya menyetir mobil ibu saya, dan saya masih tak bisa menabung uang," tutur Ma.
"Kebijakan ini mungkin mengizinkan saya memiliki tiga anak, tetapi saya tak akan melakukannya, saya tak memiliki keinginan itu," lanjutnya.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
3. Semakin Banyak Warga China Ogah Menikah
Berdasarkan laporan berjudul 'The Challenges of Low Birth Rate in China,' angka pendaftaran pernikahan di China turun selama tujuh tahun berturut-turut sampai 2020.
Pada 2020, hanya 8,1 juta pasangan di China yang menikah. Angka ini menurun sebanyak 12 persen dari tahun sebelumnya, pun turun drastis ketimbang 2013.
Pada 2013, sebanyak 13,4 juta pasangan di China menikah.
Penurunan angka pendaftaran ini salah satunya disebabkan karena alasan psikologis, pun merasa cukup sampai pada tahap tinggal bersama.
Tak hanya itu, penerapan kebijakan satu anak di masa lampau turut mempengaruhi calon orang tua di China. Kebanyakan masyarakat yang dibesarkan sebagai anak tunggal percaya mereka harus memiliki satu anak.
Pemikiran itu muncul karena mereka merasa anak mereka patut mendapatkan hidup yang baik dengan cara memberikan semua sumber daya keluarga ke anak tersebut.
4. Xi Tawarkan Berbagai Keuntungan Bagi Pasangan yang Ingin Anak
Presiden Xi Jinping menawarkan berbagai keuntungan untuk pasangan yang ingin memiliki anak, seperti insentif pajak dan perumahan.
Pemerintah juga menjanjikan lingkungan kerja ramah kehamilan dan peningkatan layanan penitipan anak.
Jakarta, CNN Indonesia --
China mengalami 'resesi seks' usai angka populasi di negara itu semakin turun. Ini membuat Presiden Xi Jinping menempuh berbagai cara demi meningkatkan kembali populasi Negeri Tirai Bambu.
Istilah resesi seks sendiri sempat disinggung oleh editor senior The Atlantic, Kate Julian, pada 2018. Dalam sebuah artikel, Julian menyoroti berkurangnya kegiatan seks generasi muda di Amerika Serikat dan menyebutkan sebagai 'resesi seks.'
Berikut sejumlah fakta mencengangkan terkait 'resesi seks' di China:
1. Populasi Warga Terus Turun
Berdasarkan penelitian berjudul 'The Challenges of the Low Birth Rate in China,' angka kelahiran di China hanya menyentuh 7,52 kelahiran per 1.000 orang pada 2021.
Beberapa perempuan China dikabarkan takut untuk memiliki anak.
Qiu Xiaojia, perempuan milenial dari Kota Hangzhou mengatakan ia tak berencana punya anak.
"Kami telah membeli rumah, dan biaya pinjaman bulanannya lebih tinggi daripada gaji bulanan saya. Jadi dari mana saya bisa mendapat uang untuk anak saya?" katanya kepada Radio Free Asia.
Warga China lain dari Kota Changsha, bermarga Li, mengatakan ia tak ingin menambah anak lagi.
"Saya tak bisa menambah anak. Membesarkan satu anak seperti menempatkan uang Anda ke mesin penghancur kertas," tutur Li.
Warga di Kota Chongqing, Ma Jing, mengatakan ia dan suaminya tidak berencana punya anak meski pemerintah menjanjikan insentif.
"Saya hidup dari bayaran demi bayaran, dan saya sangat mengandalkan orang tua saya. Properti tempat saya tinggal milik mereka, saya menyetir mobil ibu saya, dan saya masih tak bisa menabung uang," tutur Ma.
"Kebijakan ini mungkin mengizinkan saya memiliki tiga anak, tetapi saya tak akan melakukannya, saya tak memiliki keinginan itu," lanjutnya.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
4 Fakta Mencengangkan 'Resesi Seks' di China
Resesi seks China. (AP/Ng Han Guan)
3. Semakin Banyak Warga China Ogah Menikah
Berdasarkan laporan berjudul 'The Challenges of Low Birth Rate in China,' angka pendaftaran pernikahan di China turun selama tujuh tahun berturut-turut sampai 2020.
Pada 2020, hanya 8,1 juta pasangan di China yang menikah. Angka ini menurun sebanyak 12 persen dari tahun sebelumnya, pun turun drastis ketimbang 2013.
Pada 2013, sebanyak 13,4 juta pasangan di China menikah.
Penurunan angka pendaftaran ini salah satunya disebabkan karena alasan psikologis, pun merasa cukup sampai pada tahap tinggal bersama.
Tak hanya itu, penerapan kebijakan satu anak di masa lampau turut mempengaruhi calon orang tua di China. Kebanyakan masyarakat yang dibesarkan sebagai anak tunggal percaya mereka harus memiliki satu anak.
Pemikiran itu muncul karena mereka merasa anak mereka patut mendapatkan hidup yang baik dengan cara memberikan semua sumber daya keluarga ke anak tersebut.