Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengkritik negara-negara mitranya yang juga anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Ia menilai sikap negara-negara Barat anggota NATO ke Rusia benar-benar 'ngawur' atau salah.
Pernyataan itu Erdogan sampaikan saat bertemu PM Serbia, Aleksandar Vucic, di Beograd. Ia mengatakan tak menemukan sikap bijak Barat terhadap Rusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena Barat mengikuti kebijakan berdasarkan provokasi," kata Erdogan saat konferensi pada Rabu (7/9) malam, dikutip Reuters.
[Gambas:Video CNN]
Erdogan kemudian berujar, "Saya tak perlu menyebutkan nama, tetapi ada beberapa negara Barat yang pendekatannya, menurut kami, tak benar."
Orang nomor satu di Turki itu menegaskan jika pemerintah suatu negara mengambil kebijakan berbasis provokasi maka tak akan membuahkan hasil.
Erdogan juga mendesak sejumlah negara Barat mengambil kebijakan yang seimbang dan menuai hasil.
Seperti misalnya perjanjian ekspor gandum yang disepakati Juli lalu, atau mengunjungi kedua negara yang berkonflik Rusia dan Ukraina.
Sebelumnya, Barat ramia-ramai melancarkan sanksi ke Rusia. Beberapa di antaranya, sanksi ekonomi, perdagangan hingga penerbangan.
Terbaru, negara G7 mencoba menerapkan batas harga terhadap impor minyak Rusia. Sejak invasi, Rusia menawarkan minyak dengan potongan harga alias lebih murah dari biasanya.
Sebagai balasan atas rentetan sanksi Rusia bakal menghentikan memasok gas dan minyak ke negara yang memberi batasan harga.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Erdogan Tanggapi AS yang Kerap Kirim Senjata ke Ukraina
Senjata artileri bantuan AS ke Ukraina. (US Marines via Reuters)
Terlepas dari sanksi Rusia, Erdogan juga mengomentari kiriman senjata dari Barat yang terus mengalir untuk Ukraina. Ankara juga pernah menjual sejumlah drone Bayraktar ke Kiev.
Aliran senjata itu turut memperpanjang perang yang berkecamuk di Ukraina, alih-alih mendesak negosiasi damai.
"Tak ada pemenang dalam perang semacam ini, tetapi saya kira ada banyak kekalahan besar. Banyak orang kehilangan nyawa mereka, dan ada juga ongkos [perang]," ucap Erdogan dikutip Russia Today.
Ia menegaskan kebijakan Ankara adalah mencari cara agar konflik segera berakhir.
"Sayangnya, saya pikir itu tidak mungkin."
Turki tengah berupaya menjadi juru damai Rusia-Ukraina. Putaran negosiasi kedua negara ini bahkan beberapa kali berlangsung di negara pimpinan Erdogan.
Namun, semua negosiasi itu gagal mencapai gencatan senjata.
Sementara itu, Vucic, yang juga hadir dalam konferensi itu, mengatakan musim dingin yang akan segera datang menjadi musim yang sangat dingin karena krisis energi imbas perang Ukraina.
Serbia memang mengecam invasi Rusia ke negara tetangganya. Namun, mereka menolak menjatuhkan sanksi ke Moskow.
"Jika seseorang benar-benar berpikir mengalahkan Rusia secara militer [di Ukraina], maka kita harus bersiap tak hanya untuk musim dingin tapi juga musim dingin kutub," kata Vucic.