Jakarta, CNN Indonesia -- Pangeran Charles (73) naik takhta menjadi Raja Charles III usai ibunya, Ratu Elizabeth II, meninggal dunia di usia 96 tahun pada Kamis (8/9). Siapa sosok yang pernah tenar dengan kontroversi pernikahan ini?
Elizabeth II, yang bertakhta di Inggris selama 70 tahun dan menjadi penguasa terlama di Britania Raya, meninggal usai penurunan kondisi kesehatan. Putra sulungnya, Pangeran Charles, menempati baris pertama pewaris takhta Kerajaan Inggris.
Pihak Kerajaan Inggris kemudian mengumumkan raja baru Inggris akan secara resmsi dikenal sebagai Charles III.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Raja baru Inggris akan secara resmi dikenal sebagai Charles III," keterangan Clarence House, kediaman Prince of Wales, gelar Pangeran Charles sebelum jadi raja.
Dalam pernyataan pertamanya sebagai Raja Inggris, Charles mengungkapkan kesedihan atas kepergian ibundanya.
"Meninggalnya Ibunda tercinta, Yang Mulia Ratu, merupakan momen kesedihan terbesar bagi saya dan seluruh anggota keluarga saya," kata Raja Charles.
Pertanyaan pun mengemuka, mampukah ia menggantikan peran Ratu Elizabeth II? Mari kita lihat rekam jejaknya.
Masa muda
Mengutip situs royal.uk, pria bernama lengkap Charles Philip Arthur George itu merupakan putra tertua Ratu dan Pangeran Philip, Duke of Edinburgh.
Charles, yang lahir di Istana Buckingham 14 November 1948, resmi menjadi Pangeran di usia 3 tahun usai ibunya dilantik jadi Ratu Elizabeth II pada usia 25 tahun, pada 1952.
Selama masa mudanya, ia berulangkali menerabas tradisi kerajaan, termasuk dalam bidang pendidikan. Misalnya, memilih masuk sekolah dasar ketimbang memanggil guru les ke istana, hingga masuk universitas.
Alih-alih masuk militer, ia memilih menempuh pendidikan tinggi di Trinity Collage, Cambridge. Saat itu, ia menempuh studi arkeologi dan antropologi, dan kemudian beralih ke sejarah. Pada tahun keduanya, Charles kuliah di University College of Wales, untuk mempelajari sejarah dan bahasa Welsh.
Ia lulus dari Universitas Cambridge dengan gelar Bachelor of Arts, 1970, dan menjadikannya pewaris takhta Inggris pertama yang meraih gelar universitas. Pada 1975, ia meraih gelar Master of Arts (MA) dari Cambridge.
Meski begitu, Charles tetap menyambi pelatihan militer sebagai pilot pesawat tempur di Royal Air Force (RAF) Cranwell di Lincolnshire, 1971. Seusai pingsan di sebuah pawai di Crancewll, September 1971, Pangeran resmi memulai kariernya di angkatan laut, mengikuti jejak ayah, kakek, dan kakek buyutnya.
Pernikahan
Pada 29 Juli 1981, sang Pangeran Wales menikahi Lady Diana Spencer, yang kemudian menjadi HRH The Princess of Wales. Saat itu, Charles berusia 32, Diana 20 tahun. Lamaran dilakukan di saat Diana berusia 19 tahun.
"Saya pikir Diana akan membuat saya awet muda," kelakar Charles, soal pernikahan dengan gap usia 12 tahun itu, dikutip dari Guardian, "Saya pikir saya akan kelelahan".
Dari pernikahan tersebut, pasangan ini memiliki Pangeran William, yang lahir pada 21 Juni 1982; dan Pangeran Harry, lahir pada 15 September 1984.
Tak seperti yang tampak di publik, pernikahan keduanya sejak lama bermasalah. Kultur kerajaan, yang juga membuatnya jadi pusat sorotan pers, tak cocok dengan Diana.
Penulis biografi kerajaan Penny Junor, dikutip dari Express, menggambarkan Diana "sama sekali tidak siap untuk kehidupan yang terbentang di depan dan benar-benar di luar kedalamannya."
"Dia romantis, polos, tidak tahu apa-apa tentang kehidupan atau pekerjaan atau hubungan," lanjutnya.
Di saat yang sama, Charles, dikutip dari People, yang menjalani kehidupan pernikahan yang tak bahagia, berhubungan kembali dengan mantan pacarnya, Camilla Parker Bowles.
Pada 9 Desember 1992, Perdana Menteri Inggris John Major mengumumkan pasangan bangsawan itu setuju untuk berpisah. Pernikahannya sendiri resmi bubar pada 28 Agustus 1996.
Setahun kemudian, Lady Di tewas dalam kecelakaan mobil bersama pesohor Mesir Dodi al-Fayed, di Paris, 31 Agustus 1997. Pangeran Charles kemudian terbang ke lokasi untuk membawa jenazahnya kembali ke London.
Pada hari pemakaman, Pangeran Wales dan kedua putranya yang berusia 15 dan 12 tahun saat itu, berjalan di belakang peti mati dari The Mall ke Westminster Abbey.
Delapan tahun kemudian, Pangeran Charles resmi menikahi Camilla Parker Bowles dalam sebuah upacara sipil di Guildhall, Windsor. Camilla kemudian bergelar HRH The Duchess of Cornwall.
Pemanasan global hingga koper dari Syaikh Qatar di halaman berikutnya...
Aktivis Lingkungan hingga Dugaan Suap
Foto: AFP/GEOFF CADDICK
Aktivis lingkungan
Tak melulu soal kontroversi pribadi, Charles memiliki riwayat panjang soal advokasinya terhadap perubahan iklim global. Dia merupakan pendukung Kesepakatan Iklim Paris 2015 (Paris Agreement).
Sebelum Presiden AS Donald Trump bersiap cabut dari kesepakatan iklim itu, dikutip dari CNN, Charles sempat berupaya melobinya lewat jamuan minum teh pada Desember 2019. Meskipun akhirnya gagal.
Sebulan kemudian, di Forum Ekonomi Dunia 2020 di Davos, Swiss, Charles berpidato, "Apakah kita ingin mencatat sejarah sebagai orang-orang yang tidak melakukan apa pun untuk membawa dunia kembali dari jurang untuk memulihkan keseimbangan ketika kita bisa melakukannya? Saya tidak mau!".
Charles juga ikut KTT COP26 di Glasgow pada November 2021. Saat itu, ia meminta negara-negara untuk bekerja dengan industri guna menciptakan solusi bagi perubahan iklim.
"Kami tahu ini akan membutuhkan triliunan, bukan miliaran dolar," kata Charles saat itu.
Terkait aktivisme ini, Jurnalis CNN Max Foster, yang dekat dengan lingkungan kerajaan, menyebut Charles kerap berbicara blak-blakan tentang berbagai masalah sensitif. Tak cuma soal pemanasan global, ia juga disebut berapi-api dalam hal tanaman rekayasa genetik hingga obat-obatan dan arsitektur.
Hal itu tampak membuat Charles sebagai menjadi sosok yang lebih memecah belah daripada ibunya, yang dikenal nyaris 'tidak berekspresi' atau berkomentar selama masa jabatannya.
Kemampuan legendaris Ratu Elizabeth II untuk tidak menyinggung ataupun mengasingkan diri itu diklaim lebih strategis dalam konteks relasi antarbangsa.
Soal perbedaan ini, Charles mengaku tak bermaksud mengikuti jejak ibunya.
"Gagasan soal, entah bagaimana, bahwa saya akan melanjutkan [kepemimpinan] dengan cara yang persis sama [dengan Ratu Elizabeth II], jika saya harus berhasil, adalah omong kosong. Karena keduanya sepenuhnya berbeda," cetus dia, kepada BBC.
Kasus koper penuh uang
Masih terkait dengan aktivitas sosialnya, Pangeran Charles dituding menerima US$1,21 juta dari keluarga Osama Bin Laden melalui badan amal miliknya, Dana Amal Pangeran Wales.
Dilaporkan oleh The Sunday Times of London dan dikutip New York Times, Minggu (31/7), yayasan itu menerima sumbangan pada 2013 dari Bakr dan Shafiq bin Laden, saudara tiri Osama bin Laden, pendiri Al Qaeda dan arsitek serangan 11 September.
Pada Sabtu (30/7), Clarence House membenarkannya. "Dana Amal Pangeran Wales telah meyakinkan kami bahwa uji tuntas menyeluruh dilakukan dalam menerima donasi ini," bunyi pernyataan resmi itu.
[Gambas:Instagram]
The Sunday Times melaporkan Pangeran Charles telah menengahi pembayaran setelah pertemuan pribadi dengan Bakr bin Laden di Clarence House, London, 30 Oktober 2013, dua tahun setelah Osama bin Laden terbunuh di Pakistan.
Charles juga disebut setuju untuk menerima sumbangan meskipun ada keberatan dari para penasihatnya sendiri. Beberapa pembantunya telah memperingatkan soal potensi serangan balik jika menerima uang itu.
Selain itu, Charles juga dilaporkan menerima sebuah koper berisi uang tunai senilai 1 juta euro atau sekitar Rp15,6 miliar dari mantan Perdana Menteri Qatar, Sheikh Hamad bin Jassim bin Jaber Al-Thani pada periode 2011-2015.
Pihak kerajaan Inggris sendiri menolak berkomentar secara resmi soal dugaan suap di badan amal yang didirikan sejak 1979 itu.
Sementara, sumber Kerajaan Inggris, kepada CNN, membantah banyak detail dalam laporan Sunday Times tersebut.
Meski begitu, sumber kerajaan itu tidak membantah fakta terkait "sumbangan dana amal" dan menegaskan bahwa semua proses pemberian sumbangan itu telah mengikuti prosedur yang benar.
Kasus-kasus itu pun menguap. Apakah dugaan suap itu akan berefek terhadap kepemimpinannya yang berpengaruh luas?
Pasalnya, usai dilantik sebagai Raja Inggris, bersama Camilla di sisinya, Charles menjadi kepala negara tak cuma untuk Inggris, tetapi juga untuk 14 negara persemakmuran lain, termasuk Kanada dan Australia.
"Mata dunia tertuju padanya saat dia mengambil jubah Raja," pungkas Foster.