Singapura Larang Film soal Agama dan LGBT, Kenapa?

Tim | CNN Indonesia
Rabu, 19 Okt 2022 19:00 WIB
Singapura melarang penayangan film bermuatan agama dan LGBT, #LookAtMe, karena dianggap dapat memicu perpecahan sosial. Ilustrasi. Singapura melarang penayangan film bermuatan agama dan LGBT, #LookAtMe, karena dianggap dapat memicu perpecahan sosial. (Istockphoto/dolgachov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Singapura melarang penayangan film bermuatan agama dan LGBT, #LookAtMe, karena dianggap dapat memicu perpecahan sosial.

Regulator Singapura, Badan Pengembangan Media Infocomm (IMDA), menyatakan bahwa film karya sineas lokal Ken Kwek itu tak dapat ditayangkan di dalam negeri karena "tak sesuai dengan panduan klasifikasi film."

Dalam pernyataan bersama Kementerian Kebudayaan dan Dalam Negeri Singapura itu, IMDA juga menegaskan bahwa film itu "merendahkan komunitas keagamaan."

"[Film itu] berpotensi menyebabkan permusuhan dan perpecahan sosial di Singapura yang memiliki masyarakat multi-ras dan multi-agama," demikian pernyataan IMDA yang dikutip AFP.

Film itu sendiri sudah tayang perdana di Festival Film Asia New York di Amerika Serikat pada Juli lalu.

Dalam ajang tersebut, #LookAtMe masuk dalam nominasi sejumlah kategori, termasuk Film Terbaik. Film itu kemudian meraih penghargaan Special Jury untuk Penampilan Terbaik.

#LookAtMe mengangkat kisah tokoh utama yang mengkritik pernyataan seorang pastor laki-laki mengenai homoseksual.

Ia menyuarakan kritik itu melalui komentar di jejaring sosial yang kemudian viral. Ketika situasi memanas, tokoh utama itu merencanakan serangan balas dendam ke pastor tersebut.

"Konteks ini dapat dilihat sebagai ajakan atau mendorong kekerasan terhadap pastor," demikian pernyataan IMDA.

Tak terima, tim produksi film itu menyatakan bakal mengajukan protes ke lembaga-lembaga terkait.

[Gambas:Video CNN]

Mereka berharap masyarakat Singapura tetap dapat menyaksikan #LookAtMe yang sebelumnya dijadwalkan tayang di Festival Film Internasional Singapura pada Desember mendatang.

"#LookAtMe merupakan karya sinema fiksi. Film itu dimaksudkan untuk menghibur dan memancing perbincangan mengenai isu sosial yang penting dan relevan bagi Singapura," bunyi pernyataan tim film itu.

Singapura sendiri sebenarnya merupakan negara yang modern dengan kebudayaan terbuka. Namun, isu homoseksual masih dianggap tabu.

Beberapa tahun terakhir, memang sudah mulai muncul dukungan terhadap hak-hak gay. Perdana Menteri Lee Hsien Loong juga menyatakan bakal menghapus hukum yang melarang hubungan seksual sesama pria.

Namun, Singapura tetap tak akan mengizinkan pernikahan sesama jenis. Dalam undang-undang Singapura, pernikahan tetap didefinisikan sebagai ikatan antara laki-laki dan perempuan.

(has/has)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER