Polisi Seret dan Gantung Kaki Pedemo Anti-Lockdown di China
CNN Indonesia
Selasa, 29 Nov 2022 23:03 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Polisi China disebut seret dan gantung pedemo anti-lockdown di Shanghai. (AP/Vincent Yu)
Jakarta, CNN Indonesia --
Polisi China disebut menyeret dan menggantung para pedemo yang berunjuk rasa menolak kebijakan lockdown dan mendesak Presiden Xi Jinping mundur pekan lalu.
Hal itu diungkap Chen, salah seorang demonstran yang menjadi korban gantung saat aksi pada Sabtu lalu.
Chen mengatakan polisi merangsek masuk ke kerumunan demonstran dan menyeret siapapun tanpa pandang bulu untuk digantung terbalik sebelum diangkut paksa ke dalam bus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka menangkap saya dan menggantung saya terbalik," kata Chen kepada Radio Free Asia.
"Saya meletakkan tangan saya di tanah, dan ada darah di tangan dan wajah saya. Saat itu saya berpikir, 'yah, saya tidak akan bisa keluar dari sini,' dan kemudian mereka memasukkan saya ke dalam bus."
Chen bercerita kala itu dia berada di belakang kerumunan para pedemo. Dia tak mengira bakal ditangkap petugas karena berada di posisi belakang.
Saat itu, ujarnya, ada sekitar 500 orang yang berada di lokasi demonstrasi.
"Saya pikir saya akan baik-baik saja selama saya tidak berdiri di barisan depan," ujar dia.
"Saya pikir jika saya berdiri di baris kedua atau ketiga [dari kerumunan] dan [ketika] petugas mulai menangkap orang, mereka akan mulai [menangkap] dari baris depan," ucapnya.
Bukan cuma pria, para polisi juga menyeret dan menggantung perempuan yang ikut berdemo di sana.
Chen mengaku melihat seorang perempuan yang dipukuli karena menolak diangkut ke bus. Perempuan itu juga digantung terbalik sepertinya sebelum akhirnya digiring ke bus.
Dia lantas bersembunyi dengan bantuan sejumlah orang yang lewat sebelum akhirnya pulang ke rumah.
Kejadian itu pun membuat Chen dan sejumlah pedemo lain trauma atas aksi represif aparat.
Chen mengaku terus memberi kabar kepada temannya untuk memastikan dia baik-baik saja. Dia melakukan hal itu agar temannya bisa menulis cuitan di Twitter jika suatu hari hal buruk menimpanya.
"Saya memberi tahu [seorang teman] bahwa saya akan menghubunginya setiap hari sehingga dia tahu bahwa saya baik-baik saja dan bahwa dia akan mencuit detail pribadi saya jika suatu hari dia tidak mendengar kabar dari saya," ucap Chen.
Lanjut baca ke halaman berikutnya...
Aksi demonstrasi ini diketahui pecah di sejumlah kota China. Para demonstran menolak kebijakan nol Covid di negara itu.
Protes itu pertama kali dipicu oleh kebakaran apartemen di Urumqi, Xinjiang, yang menewaskan 10 orang pada pekan lalu.
Para warga menganggap korban berjatuhan karena petugas pemadam kebakaran terhambat aturan lockdown yang terlalu ketat saat menjalankan tugas.
Amarah publik pun meluas secara sporadis hingga ke Beijing, Guangzhou, bahkan Shanghai selama akhir pekan kemarin. Mereka ramai-ramai mendesak Presiden China Xi Jinping mundur.
Para demonstran juga mengacungkan kertas putih, melambangkan frustrasi mereka karena tak bebas menyuarakan opini lantaran sistem sensor yang terlampau ketat di China.
Sejumlah pedemo dan wartawan, termasuk jurnalis asing, juga dilaporkan ditahan polisi China selama demonstrasi tersebut.
Aksi demonstrasi semacam ini dianggap langka di China, negara dengan sistem sensor dan keamanan yang ketat. Ini pun disebut-sebut sebagai aksi demonstrasi terbesar sejak insiden Tiananmen pada 1989 silam.
Usai demonstrasi itu, kepolisian China pun memperketat keamanan di titik-titik demo. Mereka juga menghentikan orang-orang yang lewat untuk memeriksa ponsel.
Petugas melakukan hal itu untuk memastikan warga tak memiliki jaringan pribadi virtual (VPN) dan aplikasi Telegram. Kedua aplikasi itu digunakan para demonstran untuk berkomunikasi selama demo.
China sendiri memang tak memperbolehkan warga memakai VPN, sementara Telegram sudah diblokir dari internet Beijing. Namun, warga bisa mengakses sejumlah situs yang dilarang jika menggunakan VPN.
Jakarta, CNN Indonesia --
Polisi China disebut menyeret dan menggantung para pedemo yang berunjuk rasa menolak kebijakan lockdown dan mendesak Presiden Xi Jinping mundur pekan lalu.
Hal itu diungkap Chen, salah seorang demonstran yang menjadi korban gantung saat aksi pada Sabtu lalu.
Chen mengatakan polisi merangsek masuk ke kerumunan demonstran dan menyeret siapapun tanpa pandang bulu untuk digantung terbalik sebelum diangkut paksa ke dalam bus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka menangkap saya dan menggantung saya terbalik," kata Chen kepada Radio Free Asia.
"Saya meletakkan tangan saya di tanah, dan ada darah di tangan dan wajah saya. Saat itu saya berpikir, 'yah, saya tidak akan bisa keluar dari sini,' dan kemudian mereka memasukkan saya ke dalam bus."
Chen bercerita kala itu dia berada di belakang kerumunan para pedemo. Dia tak mengira bakal ditangkap petugas karena berada di posisi belakang.
Saat itu, ujarnya, ada sekitar 500 orang yang berada di lokasi demonstrasi.
"Saya pikir saya akan baik-baik saja selama saya tidak berdiri di barisan depan," ujar dia.
"Saya pikir jika saya berdiri di baris kedua atau ketiga [dari kerumunan] dan [ketika] petugas mulai menangkap orang, mereka akan mulai [menangkap] dari baris depan," ucapnya.
Bukan cuma pria, para polisi juga menyeret dan menggantung perempuan yang ikut berdemo di sana.
Chen mengaku melihat seorang perempuan yang dipukuli karena menolak diangkut ke bus. Perempuan itu juga digantung terbalik sepertinya sebelum akhirnya digiring ke bus.
Dia lantas bersembunyi dengan bantuan sejumlah orang yang lewat sebelum akhirnya pulang ke rumah.
Kejadian itu pun membuat Chen dan sejumlah pedemo lain trauma atas aksi represif aparat.
Chen mengaku terus memberi kabar kepada temannya untuk memastikan dia baik-baik saja. Dia melakukan hal itu agar temannya bisa menulis cuitan di Twitter jika suatu hari hal buruk menimpanya.
"Saya memberi tahu [seorang teman] bahwa saya akan menghubunginya setiap hari sehingga dia tahu bahwa saya baik-baik saja dan bahwa dia akan mencuit detail pribadi saya jika suatu hari dia tidak mendengar kabar dari saya," ucap Chen.
Lanjut baca ke halaman berikutnya...
Demo Pecah di Sejumlah Kota China
Sekitar 500 orang berdemo di Shanghai tolak kebijakan nol-Covid China. (Reuters/Thomas Peter)
Aksi demonstrasi ini diketahui pecah di sejumlah kota China. Para demonstran menolak kebijakan nol Covid di negara itu.
Protes itu pertama kali dipicu oleh kebakaran apartemen di Urumqi, Xinjiang, yang menewaskan 10 orang pada pekan lalu.
Para warga menganggap korban berjatuhan karena petugas pemadam kebakaran terhambat aturan lockdown yang terlalu ketat saat menjalankan tugas.
Amarah publik pun meluas secara sporadis hingga ke Beijing, Guangzhou, bahkan Shanghai selama akhir pekan kemarin. Mereka ramai-ramai mendesak Presiden China Xi Jinping mundur.
Para demonstran juga mengacungkan kertas putih, melambangkan frustrasi mereka karena tak bebas menyuarakan opini lantaran sistem sensor yang terlampau ketat di China.
Sejumlah pedemo dan wartawan, termasuk jurnalis asing, juga dilaporkan ditahan polisi China selama demonstrasi tersebut.
Aksi demonstrasi semacam ini dianggap langka di China, negara dengan sistem sensor dan keamanan yang ketat. Ini pun disebut-sebut sebagai aksi demonstrasi terbesar sejak insiden Tiananmen pada 1989 silam.
Usai demonstrasi itu, kepolisian China pun memperketat keamanan di titik-titik demo. Mereka juga menghentikan orang-orang yang lewat untuk memeriksa ponsel.
Petugas melakukan hal itu untuk memastikan warga tak memiliki jaringan pribadi virtual (VPN) dan aplikasi Telegram. Kedua aplikasi itu digunakan para demonstran untuk berkomunikasi selama demo.
China sendiri memang tak memperbolehkan warga memakai VPN, sementara Telegram sudah diblokir dari internet Beijing. Namun, warga bisa mengakses sejumlah situs yang dilarang jika menggunakan VPN.