Maroko 'Gagah' di Piala Dunia 2022, Kenapa Pemerintah Aljazair Gerah?
CNN Indonesia
Selasa, 13 Des 2022 14:56 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kelompok separatis Maroko yang didukung Aljazair, Polisario, berdemo di Spanyol. (AP/Alvaro Barrientos)
Jakarta, CNN Indonesia --
Hubungan Maroko dan Aljazair menuai sorotan usai Algiers menyensor cuplikan kemenangan skuad Singa Atlas atas Portugal pada babak semifinal di Piala Dunia 2022, Qatar.
Begitu ketat penyensoran itu, direktur stasiun televisi pemerintah PETV, Chabane Lounakel, dipecat usai kedapatan menyiarkan kemenangan Maroko atas Portugal. Penyensoran ini terjadi saat hubungan Maroko dan Aljazair panas.
Kenapa pemerintah Aljazair gerah kala Maroko 'menari-nari' di Piala Dunia 2022? Sebagai negara tetangga, dua negara itu punya riwayat konflik yang cukup panjang.
Kedua negara memutuskan hubungan diplomatik sejak 2021 lalu. Putus hubungan diplomatik 2021 lalu merupakan kali kedua bagi Maroko dan Aljazair.
Pada 1976, Aljazair mengakui Republik Demokratik Arab Sahrawi yang diproklamirkan kelompok separatis di Maroko yang disokong Aljazair, Front Polisario.
Usai pengakuan itu, Maroko memutuskan hubungan diplomatik dengan Aljazair. Hubungan diplomatik baru pulih pada Mei 1988, seperti dikutip The Conversation.
Kemudian pada September lalu, Aljazair memutuskan hubungan diplomatik dengan Maroko.
Menteri Luar Negeri Aljazair, Ramdane Lamamra, menuding Maroko melakukan tindakan bermusuhan.
"Aljazair menetapkan untuk memutus hubungan diplomatik dengan Kerajaan Maroko mulai hari ini," ujar Lamamra pada September 2021 lalu, seperti dikutip Al Jazeera.
Ia kemudian berujar, "Kerajaan Maroko tak pernah menghentikan tindakan permusuhan terhadap Aljazair."
Pemutusan hubungan tersebut mulai berlaku sejak Lamamra mengumumkan langkah baru Aljazair. Namun, kantor konsulat di sejumlah wilayah tetap dibuka.
Dewan Keamanan tertinggi Aljazair juga memutuskan menutup wilayah udara bagi seluruh penerbangan sipil dan militer Maroko. Keputusan ini muncul karena Rabat dianggap terus memprovokasi dan melakukan tindakan bermusuhan.
Sepekan sebelum pemutusan hubungan, Aljazair menuding Maroko turut menyebabkan kebakaran hutan di negara tetangganya itu. Imbas kebakaran ini, puluhan ribu hektar hutan hangus dan 90 orang tewas, termasuk 30 tentara.
Pemerintah Aljazair menuding kelompok separatis wilayah Berber dan Rabat sebagai dalang kebakaran hutan itu.
Namun pada 1963, Maroko berupaya merebut Sahara Barat hingga memicu pertempuran "perang gurun pasir." Kedua negara sempat gencatan senjata, tetapi kemudian pertempuran meletus lagi pada 1975.
Ketika itu Maroko hendak mendeklarasikan Sahara Barat sebagai teritori mereka.
Sahara Barat merupakan wilayah di pantai Atlantik Afrika. Rabat menguasai 80 persen daerah ini, demikian dikutip AlJazeera.
Maroko menyatakan Sahara Barat bagian wilayahnya. Mereka juga menawarkan otonomi yang menegaskan akan mempertahankan kedaulatan.
Namun, kelompok separatis Maroko yang disokong Aljazair, Front Polisario tak terima dan berusaha melawan pemerintah.
Kelompok ini pun berperang melawan pemerintah dari tahun 1975 hingga 1999 untuk menuntut referendum.
Perlawanan terus berlanjut hingga Maroko meluncurkan operasi khusus di Sahara Barat pada November 2020 lalu.
Maroko sempat menawarkan otonomi untuk wilayah Sahara Barat, tetapi menegaskan bahwa kawasan itu masuk dalam kedaulatan Algeirs.
Jakarta, CNN Indonesia --
Hubungan Maroko dan Aljazair menuai sorotan usai Algiers menyensor cuplikan kemenangan skuad Singa Atlas atas Portugal pada babak semifinal di Piala Dunia 2022, Qatar.
Begitu ketat penyensoran itu, direktur stasiun televisi pemerintah PETV, Chabane Lounakel, dipecat usai kedapatan menyiarkan kemenangan Maroko atas Portugal. Penyensoran ini terjadi saat hubungan Maroko dan Aljazair panas.
Kenapa pemerintah Aljazair gerah kala Maroko 'menari-nari' di Piala Dunia 2022? Sebagai negara tetangga, dua negara itu punya riwayat konflik yang cukup panjang.
Kedua negara memutuskan hubungan diplomatik sejak 2021 lalu. Putus hubungan diplomatik 2021 lalu merupakan kali kedua bagi Maroko dan Aljazair.
Pada 1976, Aljazair mengakui Republik Demokratik Arab Sahrawi yang diproklamirkan kelompok separatis di Maroko yang disokong Aljazair, Front Polisario.
Usai pengakuan itu, Maroko memutuskan hubungan diplomatik dengan Aljazair. Hubungan diplomatik baru pulih pada Mei 1988, seperti dikutip The Conversation.
Kemudian pada September lalu, Aljazair memutuskan hubungan diplomatik dengan Maroko.
Menteri Luar Negeri Aljazair, Ramdane Lamamra, menuding Maroko melakukan tindakan bermusuhan.
"Aljazair menetapkan untuk memutus hubungan diplomatik dengan Kerajaan Maroko mulai hari ini," ujar Lamamra pada September 2021 lalu, seperti dikutip Al Jazeera.
Ia kemudian berujar, "Kerajaan Maroko tak pernah menghentikan tindakan permusuhan terhadap Aljazair."
Pemutusan hubungan tersebut mulai berlaku sejak Lamamra mengumumkan langkah baru Aljazair. Namun, kantor konsulat di sejumlah wilayah tetap dibuka.
Dewan Keamanan tertinggi Aljazair juga memutuskan menutup wilayah udara bagi seluruh penerbangan sipil dan militer Maroko. Keputusan ini muncul karena Rabat dianggap terus memprovokasi dan melakukan tindakan bermusuhan.
Sepekan sebelum pemutusan hubungan, Aljazair menuding Maroko turut menyebabkan kebakaran hutan di negara tetangganya itu. Imbas kebakaran ini, puluhan ribu hektar hutan hangus dan 90 orang tewas, termasuk 30 tentara.
Pemerintah Aljazair menuding kelompok separatis wilayah Berber dan Rabat sebagai dalang kebakaran hutan itu.
Namun pada 1963, Maroko berupaya merebut Sahara Barat hingga memicu pertempuran "perang gurun pasir." Kedua negara sempat gencatan senjata, tetapi kemudian pertempuran meletus lagi pada 1975.
Ketika itu Maroko hendak mendeklarasikan Sahara Barat sebagai teritori mereka.
Sahara Barat merupakan wilayah di pantai Atlantik Afrika. Rabat menguasai 80 persen daerah ini, demikian dikutip AlJazeera.
Maroko menyatakan Sahara Barat bagian wilayahnya. Mereka juga menawarkan otonomi yang menegaskan akan mempertahankan kedaulatan.