'Kota Gereja' di Doha Qatar, Apakah Ada Gereja di Mekah-Madinah Saudi?
CNN Indonesia
Minggu, 18 Des 2022 20:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jalanan di Kota Mekah, Arab Saudi. (iStockphoto/aroundtheworld.photography)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kompleks 'Kota Gereja' di Kota Doha, Qatar, sempat jadi perhatian sejumlah media luar negeri.
Salah satu gereja terbesar di kota itu adalah Gereja Katolik Our Lady of the Rosary. Di antara yang unik dari gereja itu tak ada ornamen serba Kaotolik termasuk salib di luar bangunan tersebut.
"Ini sesuatu yang sangat unik di sini, di Timur Tengah. Minggu (kebaktian) kami adalah Jumat," kata pastor paroki, Pendeta Reli Gonzaga, seperti dikutip Associated Press, Kamis (15/12).
Bagaimana dengan Kota Mekah dan Madinah, apakah terdapat gereja di dua 'Kota Suci' di Arab Saudi itu?
Arab Saudi menjadi penjaga Dua Masjid Suci yakni Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Saudi juga dikenal sebagai negara Muslim. Negara Timur Tengah ini resmi didirikan pada 1932 oleh Ibnu Saud.
Di masa awal, Saudi kental dengan aturan Islam yang ketat karena corak wahabinya. Lambat laun, pelonggaran itu mulai terlihat terutama di era Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS).
MbS dilantik menjadi putra mahkota pada 2017. Lima tahun kemudian, tepatnya pada September lalu, ia ditunjuk menjadi perdana menteri.
Selama memimpin Saudi, Pangeran MbS melakukan banyak gebrakan dari berbagai bidang, mulai dari ekonomi, budaya, hingga sosial sesuai Visi 2030.
Perubahan itu juga sedikit demi sedikit mulai dilakukan di aspek agama terutama tempat ibadah. Perubahan radikal dalam hal izin rumah ibadah tentu tak bisa langsung dilakukan karena Saudi termasuk negara yang konservatif terkait kehidupan beragama.
Menurut laporan Fox News, Arab Saudi adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang pernah melarang pembangunan gereja dan segala bentuk ibadah Kristen secara terbuka.
Sejauh ini, juga tak ada gereja resmi di dua kota suci itu, Mekah dan Madinah. Demi menjaga Mekah-Madinah, sebagai Kota Suci Islam, Saudi melarang membangun bangunan peribadatan agama lain termasuk gereja.
Pada 2018, Saudi dilaporkan sepakat membangun Gereja Kristen di Kerajaan Saudi selain di Mekah dan Madinah. Langkah ini disebut semakin memperkuat posisi Saudi bertransisi menuju moderat.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Perwakilan Liga Dunia Muslim (WIL), Mohammed bin Abdel Karil Al Issa dan Presiden Dewan Kepausan Vatikan untuk Dialog Antaragama, Jean-Louis Tauran, disebut-sebut menandatangani kesepakatan itu pada April 2018 di Riyadh.
WIL didirikan pada pada 1962 di Mekah. Sementara bin Abdel Karil Al Issa merupakan politisi Saudi. Ia pernah menjadi Menteri Kehakiman pada 2009-2015.
Kesepakatan mereka berisi komitmen dari kedua pihak untuk mengatur pertemuan di masa depan, di Roma dan kota yang dipilih WLI.
"Selama pertemuan saya [bin Abdel], saya sangat bersikeras orang Kristen dan Non-Muslim dibicarakan dengan baik di sekolah dan mereka tak dianggap sebagai warga kelas dua," kata Tauran, seperti dikutip Al Jazeera.
Ia kemudian berujar, "[Saudi] ingin menunjukkan bahkan di Arab Saudi ada kemungkinan diskusi, dan karena itu mengubah citra negara."
Dalam pertemuan ini, Tauran juga bertemu dengan Raja Salman dan pejabat lain Saudi.
Sekitar empat tahun usai laporan perjanjian tersebut, warga asing yang tinggal di Arab Saudi mengungkapkan perayaan natal semakin meriah.
Di perayaan Natal pada Desember 2021 itu, tampak kafe hingga restoran berubah salju berhiaskan berlian, dekorasi, dan ornamen bak merayakan natal.
Para ekspatriat di Saudi juga merayakan natal secara bersama, demikian dikutip Arab News.
Menurut pengakuan salah satu warga asing di Saudi, di tahun-tahun sebelumnya perayaan natal senyap, ketat dan tertutup.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kompleks 'Kota Gereja' di Kota Doha, Qatar, sempat jadi perhatian sejumlah media luar negeri.
Salah satu gereja terbesar di kota itu adalah Gereja Katolik Our Lady of the Rosary. Di antara yang unik dari gereja itu tak ada ornamen serba Kaotolik termasuk salib di luar bangunan tersebut.
"Ini sesuatu yang sangat unik di sini, di Timur Tengah. Minggu (kebaktian) kami adalah Jumat," kata pastor paroki, Pendeta Reli Gonzaga, seperti dikutip Associated Press, Kamis (15/12).
Bagaimana dengan Kota Mekah dan Madinah, apakah terdapat gereja di dua 'Kota Suci' di Arab Saudi itu?
Arab Saudi menjadi penjaga Dua Masjid Suci yakni Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Saudi juga dikenal sebagai negara Muslim. Negara Timur Tengah ini resmi didirikan pada 1932 oleh Ibnu Saud.
Di masa awal, Saudi kental dengan aturan Islam yang ketat karena corak wahabinya. Lambat laun, pelonggaran itu mulai terlihat terutama di era Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS).
MbS dilantik menjadi putra mahkota pada 2017. Lima tahun kemudian, tepatnya pada September lalu, ia ditunjuk menjadi perdana menteri.
Selama memimpin Saudi, Pangeran MbS melakukan banyak gebrakan dari berbagai bidang, mulai dari ekonomi, budaya, hingga sosial sesuai Visi 2030.
Perubahan itu juga sedikit demi sedikit mulai dilakukan di aspek agama terutama tempat ibadah. Perubahan radikal dalam hal izin rumah ibadah tentu tak bisa langsung dilakukan karena Saudi termasuk negara yang konservatif terkait kehidupan beragama.
Menurut laporan Fox News, Arab Saudi adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang pernah melarang pembangunan gereja dan segala bentuk ibadah Kristen secara terbuka.
Sejauh ini, juga tak ada gereja resmi di dua kota suci itu, Mekah dan Madinah. Demi menjaga Mekah-Madinah, sebagai Kota Suci Islam, Saudi melarang membangun bangunan peribadatan agama lain termasuk gereja.
Pada 2018, Saudi dilaporkan sepakat membangun Gereja Kristen di Kerajaan Saudi selain di Mekah dan Madinah. Langkah ini disebut semakin memperkuat posisi Saudi bertransisi menuju moderat.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Cerita Tentang Saudi Izinkan Bangun Gereja
Pangeran MbS saat menerima kunjungan pendeta Kristen Maronite, Beshara Rai (kiri), di Riyadh, Arab Saudi. (AFP/FAYEZ NURELDINE)
Perwakilan Liga Dunia Muslim (WIL), Mohammed bin Abdel Karil Al Issa dan Presiden Dewan Kepausan Vatikan untuk Dialog Antaragama, Jean-Louis Tauran, disebut-sebut menandatangani kesepakatan itu pada April 2018 di Riyadh.
WIL didirikan pada pada 1962 di Mekah. Sementara bin Abdel Karil Al Issa merupakan politisi Saudi. Ia pernah menjadi Menteri Kehakiman pada 2009-2015.
Kesepakatan mereka berisi komitmen dari kedua pihak untuk mengatur pertemuan di masa depan, di Roma dan kota yang dipilih WLI.
"Selama pertemuan saya [bin Abdel], saya sangat bersikeras orang Kristen dan Non-Muslim dibicarakan dengan baik di sekolah dan mereka tak dianggap sebagai warga kelas dua," kata Tauran, seperti dikutip Al Jazeera.
Ia kemudian berujar, "[Saudi] ingin menunjukkan bahkan di Arab Saudi ada kemungkinan diskusi, dan karena itu mengubah citra negara."
Dalam pertemuan ini, Tauran juga bertemu dengan Raja Salman dan pejabat lain Saudi.