China Krisis Obat Demam Gegara Covid Naik, Bagaimana Dampak ke Dunia?
Pembatasan Pembelian Parasetamol
Di Makau, regulator obat meminta farmasi membatasi pembelian obat demam, pereda nyeri, dan alat tes antigen,
Seruan itu muncul saat penduduk melaporkan tak menjumpai obat demam di sejumlah toko obat.
Panic buying juga terjadi di Taiwan. Orang ramai-ramai mendatangi apotek untuk membeli Panadol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu pemilik toko obat bahkan mengatakan mereka sampai harus memesan 100 boks ke distributor untuk memenuhi permintaan konsumen.
Jurnalis CNN mengunjungi puluhan apotek di Taipei pada Selasa (20/12) malam. Saat meninjau, ia tak menemukan satu pun obat Panadol.
Asisten apotek di Toko Obat Kawaki, Lin, mengatakan pembelian Panadol melonjak tajam selama dua pekan belakangan.
"Kami selalu mengalami kekurangan pasokan sejak Covid-19 mewabah. Namun, situasi menjadi sangat kacau," kata Lin.
Ia kemudian berujar, "Beberapa konsumen mengatakan mereka ingin mengirim obat ke kerabat dan teman di China."
Seorang apoteker di distrik Xinyi, Taipei, I Li Chen, mengatakan pembeli kerap bertanya soal Panadol.
"Beberapa orang ingin membeli obat itu dan mengirim ke kerabatnya di China, sementara yang lain butuh obat itu karena mereka akan berkunjung ke China," kata I Li.
Kepala Kesehatan Hong Kong mendesak masyarakat agar tak menimbun obat.
"[Masyarakat juga] jangan bersikap berlebihan," kata kepala kesehatan Hong Kong seperti dikutip CNN, Rabu (21/12).
Panic buying obat itu terjadi saat kasus Covid-19 melonjak di China. Pada Rabu, kasus harian di Negeri Tirai Bambu tercatat 5.944 kasus.
Pada Senin, pihak berwenang China juga mengumumkan kasus kematian terkait Covid-19.
Kenaikan dan kematian kasus Covid-19 di China terjadi saat Beijing melonggarkan strategi Nol-Covid yang ketat.
(isa/rds)[Gambas:Video CNN]
China tengah mengalami kelangkaan sejumlah obat akibat lonjakan kasus Covid-19 usai melonggarkan aturan lockdown ketatnya baru-baru ini.
Kenaikan kasus Covid-19 memicu warga di China panic buying memborong obat demam, pereda nyeri, dan antivirus Covid-19 hingga memicu kelangkaan obat di Negeri Tirai Bambu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena panic buying obat ini juga ternyata berdampak terhadap pasokan obat demam dan pereda nyeri di beberapa negara.
Banyak warga China yang tinggal di luar negeri seperti Australia ikut memborong obat-obatan dalam jumlah banyak untuk dikirimkan ke kerabat dan keluarga mereka di kampung halaman.
Seorang warga China di Sydney, Fan Yi, mengaku telah membeli puluhan obat pereda nyeri dan mengirimkannya ke orang tua dia di Shanghai, China.
Fan membeli banyak obat lantaran ia cemas usai China melonggarkan aturan pembatasan.
"Orang tua saya setidaknya berusia 70 tahun. Karena mereka tak tinggal di Australia, kami harus mengirim [obat] ke mereka," kata Fan, seperti dikutip ABC News.
Panic buying obat-obatan juga terjadi di Hong Kong, Makau, dan Taiwan. Kebanyakan warga membeli obat parasetamol Tylenol dan Advil.
Sebagian warga juga menyerbu obat herbal seperti buah Persik sebagai cara alternatif melawan Covid-19.
Obat parasetamol dengan merk Panadol di lima toko obat di Hong Kong juga ludes sejak dua pekan lalu.
Salah satu pramuniaga Hong Kong, Simon, mengatakan warga membeli obat dalam jumlah banyak karena untuk dikirim ke kerabat atau teman mereka yang di China.
Simon juga bercerita, saat toko tempat dia bekerja mendapat pasokan baru, ia bisa mengirim obat itu ke pembeli di China.
Namun, proses ini membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal. Ongkos pengiriman bisa mencapai sekitar HK$150- HK$200 atau sekira Rp299 ribu-Rp399 ribu per dua kilogram.
"Kami mengirim obat-obat itu melalui pos ke Makau, yang mana agen mengambil dan mengirim ke Zhuhai," ujar Simon.
Lebih lanjut, ia bercerita kurir harus menjalani karantina sekali saat tiba di China.
Makau dan Hong Kong merupakan wilayah administrasi khusus China, sementara Zhuhai adalah kota yang terletak di perbatasan Makau.
Menurut keterangan para pramuniaga, kini pihak berwenang tak mengizinkan pengiriman obat melalui pos dari Hong Kong ke China.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
Pembatasan Pembelian Parasetamol hingga Alat Antigen
(REUTERS/JOYCE ZHOU)
Pembatasan Pembelian Parasetamol
Di Makau, regulator obat meminta farmasi membatasi pembelian obat demam, pereda nyeri, dan alat tes antigen,
Seruan itu muncul saat penduduk melaporkan tak menjumpai obat demam di sejumlah toko obat.
Panic buying juga terjadi di Taiwan. Orang ramai-ramai mendatangi apotek untuk membeli Panadol.
Salah satu pemilik toko obat bahkan mengatakan mereka sampai harus memesan 100 boks ke distributor untuk memenuhi permintaan konsumen.
Jurnalis CNN mengunjungi puluhan apotek di Taipei pada Selasa (20/12) malam. Saat meninjau, ia tak menemukan satu pun obat Panadol.
Asisten apotek di Toko Obat Kawaki, Lin, mengatakan pembelian Panadol melonjak tajam selama dua pekan belakangan.
"Kami selalu mengalami kekurangan pasokan sejak Covid-19 mewabah. Namun, situasi menjadi sangat kacau," kata Lin.
Ia kemudian berujar, "Beberapa konsumen mengatakan mereka ingin mengirim obat ke kerabat dan teman di China."
Seorang apoteker di distrik Xinyi, Taipei, I Li Chen, mengatakan pembeli kerap bertanya soal Panadol.
"Beberapa orang ingin membeli obat itu dan mengirim ke kerabatnya di China, sementara yang lain butuh obat itu karena mereka akan berkunjung ke China," kata I Li.
Kepala Kesehatan Hong Kong mendesak masyarakat agar tak menimbun obat.
"[Masyarakat juga] jangan bersikap berlebihan," kata kepala kesehatan Hong Kong seperti dikutip CNN, Rabu (21/12).
Panic buying obat itu terjadi saat kasus Covid-19 melonjak di China. Pada Rabu, kasus harian di Negeri Tirai Bambu tercatat 5.944 kasus.
Pada Senin, pihak berwenang China juga mengumumkan kasus kematian terkait Covid-19.
Kenaikan dan kematian kasus Covid-19 di China terjadi saat Beijing melonggarkan strategi Nol-Covid yang ketat.




