"Pasukan Militer telah merebut kembali 40 persen wilayah yang diduduki (Rusia) selama invasi besar-besaran dan 28 persen dari semua wilayah sejak 2014," kata panglima angkatan bersenjata Ukraina, Valery Zaluzhny, lewat Telegram seperti dikutip CNN.
Kyiv beberapa waktu terakhir memang mulai menggempur basis-basis pendudukan Rusia demi merebut kembali wilayahnya di Ukraina.
Pada Minggu (1/1), Kyiv bahkan menggempur Rusia hingga menewaskan 400 tentara, menurut data yang diklaim Ukraina. Sementara itu, Rusia mengklaim 89 prajuritnya tewas dalam serangan tersebut.
Terkait hal itu, bagaimana strategi Ukraina untuk merebut kembali wilayah?
Koalisi antar negara bantu Ukraina
Pada September, pasukan Ukraina menyerang balik Rusia di Kharkiv. Serangan itu cukup mengejutkan baik untuk Rusia maupun Ukraina. Sebab, gempuran tersebut menguak ketidakmampuan pasukan Rusia yang disebut kekurangan personel dan peralatan untuk mempertahankan wilayah.
Tak cuma di Kharkiv, Ukraina juga mulai meluncur ke Kherson untuk merebut ibu kota regional itu hingga pada November Kyiv sukses merebut kembali wilayah yang sejak awal perang dicaplok Moskow.
Suksesnya serangan-serangan balasan tersebut menunjukkan matangnya strategi Ukraina melawan Rusia. Dari wawancara bersama lebih dari 35 orang termasuk komandan Ukraina, pejabat di Kyiv, pasukan tempur, serta pejabat senior militer dan politik AS dan Eropa, kerja sama antar negara menjadi fondasi kuat serangan Ukraina.
Terutama, koalisi secara tak langsung dengan NATO dan Amerika Serikat yang memasok senjata, intelijen, serta nasihat, memungkinkan pasukan Ukraina mengambil inisiatif di medan perang.
"Hubungan kami dengan semua mitra kami berubah. Artinya, mereka melihat bahwa kami dapat meraih kemenangan dan bantuan yang mereka berikan digunakan dengan efektif," kata Kolonel Jenderal Oleksandr Syrsky, seperti dikutip The Washington Post.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Strategi mengecoh musuh
Pasukan Ukraina memiliki sebuah peta medan cetak 3D seluas 158 meter yang memuat wilayah Kharkiv yang diduduki Moskow.
Dengan bantuan peta itu, para komandan menyusuri replika kota, bukit, dan sungai sesuai dengan rencana untuk menjalankan misinya. Mereka juga mendiskusikan koordinasi dan segala kemungkinan serta skenario terburuk.
"Itu merupakan pekerjaan yang melelahkan," kata Syrsky.
Syrsky mengaku sejak musim semi, pihaknya sudah mempertimbangkan wilayah Kharkiv dan kota-kota strategis seperti Balakkiya dan Izyum sebagai titik rawan bagi Rusia. Izyum sendiri merupakan salah satu benteng militer Moskow sejak awal invasi.
Maka ketika perintah untuk memukul mundur Rusia dari Kherson keluar, dengan pertimbangan geografi dan posisi pasukan Moskow, Ukraina pun berhasil mengecoh mereka.
"Musuh (Rusia) berpikir bahwa karena banyak pasukan telah diposisikan di Izyum dan banyak ditempatkan di perbatasan Rusia di Belgorod, 'Anda pasti gila untuk bergerak dan mencoba menyerang tepat di tengah keduanya'," kata Syrsky.
"Tapi itulah yang terjadi."
Gunakan celah kesalahan musuh sekecil apapun
Serangan pada Minggu menjadi salah satu bentuk suksesnya strategi Ukraina melawan Rusia.
Sebanyak 89 prajurit diklaim tewas oleh Kementerian Pertahanan Rusia. Mereka menyebut serangan itu terjadi lantaran para prajurit mengaktifkan telepon hingga Ukraina mampu melacak mereka. Penggunaan ponsel itu pun diklaim sebagai penyebab banyaknya tentara yang tewas.
"Pengaktifan dan penggunaan besar-besaran ponsel personel yang dijangkau oleh senjata musuh," kata Letnan Jenderal Sergei Sevryukov.
Strategi itu merupakan satu dari banyak cara bagi Ukraina memanfaatkan celah kesalahan Rusia sekecil apapun.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pasukan Ukraina mengklaim telah merebut kembali 40 persen wilayahnya yang diduduki Rusia sejak invasi pada Februari tahun lalu.
Mereka juga mengklaim telah merebut total 28 persen dari semua wilayah Ukraina yang dicaplok Moskow sejak 2014.
"Pasukan Militer telah merebut kembali 40 persen wilayah yang diduduki (Rusia) selama invasi besar-besaran dan 28 persen dari semua wilayah sejak 2014," kata panglima angkatan bersenjata Ukraina, Valery Zaluzhny, lewat Telegram seperti dikutip CNN.
Kyiv beberapa waktu terakhir memang mulai menggempur basis-basis pendudukan Rusia demi merebut kembali wilayahnya di Ukraina.
Pada Minggu (1/1), Kyiv bahkan menggempur Rusia hingga menewaskan 400 tentara, menurut data yang diklaim Ukraina. Sementara itu, Rusia mengklaim 89 prajuritnya tewas dalam serangan tersebut.
Terkait hal itu, bagaimana strategi Ukraina untuk merebut kembali wilayah?
Koalisi antar negara bantu Ukraina
Pada September, pasukan Ukraina menyerang balik Rusia di Kharkiv. Serangan itu cukup mengejutkan baik untuk Rusia maupun Ukraina. Sebab, gempuran tersebut menguak ketidakmampuan pasukan Rusia yang disebut kekurangan personel dan peralatan untuk mempertahankan wilayah.
Tak cuma di Kharkiv, Ukraina juga mulai meluncur ke Kherson untuk merebut ibu kota regional itu hingga pada November Kyiv sukses merebut kembali wilayah yang sejak awal perang dicaplok Moskow.
Suksesnya serangan-serangan balasan tersebut menunjukkan matangnya strategi Ukraina melawan Rusia. Dari wawancara bersama lebih dari 35 orang termasuk komandan Ukraina, pejabat di Kyiv, pasukan tempur, serta pejabat senior militer dan politik AS dan Eropa, kerja sama antar negara menjadi fondasi kuat serangan Ukraina.
Terutama, koalisi secara tak langsung dengan NATO dan Amerika Serikat yang memasok senjata, intelijen, serta nasihat, memungkinkan pasukan Ukraina mengambil inisiatif di medan perang.
"Hubungan kami dengan semua mitra kami berubah. Artinya, mereka melihat bahwa kami dapat meraih kemenangan dan bantuan yang mereka berikan digunakan dengan efektif," kata Kolonel Jenderal Oleksandr Syrsky, seperti dikutip The Washington Post.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Strategi Ukraina Merebut Kembali Wilayah yang Dicaplok Rusia
Pasukan Ukraina divisi artileri berat membombardir markas Rusia. (REUTERS/CLODAGH KILCOYNE)
Strategi mengecoh musuh
Pasukan Ukraina memiliki sebuah peta medan cetak 3D seluas 158 meter yang memuat wilayah Kharkiv yang diduduki Moskow.
Dengan bantuan peta itu, para komandan menyusuri replika kota, bukit, dan sungai sesuai dengan rencana untuk menjalankan misinya. Mereka juga mendiskusikan koordinasi dan segala kemungkinan serta skenario terburuk.
"Itu merupakan pekerjaan yang melelahkan," kata Syrsky.
Syrsky mengaku sejak musim semi, pihaknya sudah mempertimbangkan wilayah Kharkiv dan kota-kota strategis seperti Balakkiya dan Izyum sebagai titik rawan bagi Rusia. Izyum sendiri merupakan salah satu benteng militer Moskow sejak awal invasi.
Maka ketika perintah untuk memukul mundur Rusia dari Kherson keluar, dengan pertimbangan geografi dan posisi pasukan Moskow, Ukraina pun berhasil mengecoh mereka.
"Musuh (Rusia) berpikir bahwa karena banyak pasukan telah diposisikan di Izyum dan banyak ditempatkan di perbatasan Rusia di Belgorod, 'Anda pasti gila untuk bergerak dan mencoba menyerang tepat di tengah keduanya'," kata Syrsky.
"Tapi itulah yang terjadi."
Gunakan celah kesalahan musuh sekecil apapun
Serangan pada Minggu menjadi salah satu bentuk suksesnya strategi Ukraina melawan Rusia.
Sebanyak 89 prajurit diklaim tewas oleh Kementerian Pertahanan Rusia. Mereka menyebut serangan itu terjadi lantaran para prajurit mengaktifkan telepon hingga Ukraina mampu melacak mereka. Penggunaan ponsel itu pun diklaim sebagai penyebab banyaknya tentara yang tewas.
"Pengaktifan dan penggunaan besar-besaran ponsel personel yang dijangkau oleh senjata musuh," kata Letnan Jenderal Sergei Sevryukov.
Strategi itu merupakan satu dari banyak cara bagi Ukraina memanfaatkan celah kesalahan Rusia sekecil apapun.