China Mencatat Sekitar 13 Ribu Kematian Covid Terjadi dalam Sepekan

CNN Indonesia
Senin, 23 Jan 2023 01:28 WIB
Ada 681 pasien meninggal di rumah sakit karena kegagalan pernapasan akibat infeksi virus corona, dan hampir 12 ribu tewas karena komplikasi dengan Covid. Sejumlah petugas ber-APD untuk penanggulangan pasien Covid-19 di China. (AFP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

China mencatat setidaknya terjadi 13 ribu kematian terkait Covid-19 dalam sepekan di rumah sakit, atau kurun waktu 13-19 Januari 2023.

Melansir dari AFP, CDC China dalam pernyataannya pada Sabtu (21/10) menyatakan setidaknya ada 681 pasien di rumah sakit yang tewas karena kegagalan pernapasan akibat infeksi virus corona, dan 11.977 tewas karena komplikasi penyakit dengan infeksi Covid-19 selama periode itu.

Angka tersebut belum termasuk dengan kemungkinan jumlah korban tewas di luar perawatan rumah sakit.

Perusahaan analis, Airfinity, mengestimasi kasus kematian harian Covid di China akan mencapai puncaknya sekitar 36 ribu selama musim libur Imlek.

Perusahaan itu juga memperhitungkan setidaknya lebih dari 600 ribu orang tewas terkait virus corona di China sejak negara yang dipimpin Xi Jinping itu menghentikan kebijakan zero-Covid pada Desember 2022 lalu.

Sementara itu, pada Sabtu lalu, Kepala Epidemiolog dari CDC China Wu Zunyou mengatakan "gelombang epidemi saat ini telah menginfeksi sekitar 80 persen orang" di negara berpenduduk 1,4 miliar orang tersebut.

Klaim tersebut muncul di tengah tingginya perjalanan yang terjadi di periode liburan Tahun Baru Imlek yang kadang dijuluki sebagai 'migrasi manusia terbesar di dunia.' Tingginya mobilitas orang-orang tersebut dikhawatirkan dapat menyebarkan virus ke pedesaan dan menyebabkan gelombang infeksi kedua.

Meski demikian, Wu di akun media sosial pribadinya mengatakan gelombang infeksi kedua kemungkinan tidak akan terjadi karena sebagian besar orang sudah sadar akan Covid-19 sehingga mereka telah melakukan proteksi.

"Dalam dua hingga tiga bulan ke depan, kemungkinan rebound skala besar Covid-19 atau gelombang kedua infeksi di seluruh negeri sangat kecil," kata Wu, seperti dikutip CNN.

Sebelumnya, penelitian dari National School of Development di Universitas Peking memperkirakan lebih dari 900 juta orang, atau 64 persen dari populasi China, "kemungkinan" telah terinfeksi Covid-19 pada 11 Januari.

Penelitian universitas juga menunjukkan epidemi memuncak di sebagian besar wilayah pada 20 Desember, sekitar 13 hari setelah China mulai melonggarkan pembatasan Covid-nya. Studi ini juga menyebut infeksi telah memuncak di mana-mana di negara itu pada akhir Desember.

Di sisi lain, Kementerian Transportasi China memperkirakan lebih dari 2 miliar perjalanan akan dilakukan selama 40 hari di musim libur Imlek. Pasalnya, ini adalah pertama kalinya periode libur Imlek tidak diberlakukan pembatasan perjalanan domestik sejak dimulainya pandemi selama tiga tahun.

Pada Minggu (22/1), stasiun televisi CCTV melaporkan lebih dari 26 juta perjalanan penumpang dilakukan pada malam Tahun Baru China atau Imlek.

Angka tersebut hanya setengah dari jumlah pelancong di hari yang sama pada 2019, sebelum pandemi Covid-19. Namun, angka tersebut 50,8 persen lebih tinggi dari 2022.

CCTV memaparkan lebih dari 4,1 juta orang bepergian dengan kereta api dan 756.000 orang melalui udara untuk reuni liburan pada hari sebelum dimulainya Tahun Baru Imlek.

(AFP/kid)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER