3 Kabilah Yahudi Musuh Nabi Muhammad pada Awal Islam di Saudi
CNN Indonesia
Kamis, 30 Mar 2023 17:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Benteng peninggalan Yahudi di Khaibar, sebelah utara Madinah. (AFP/RANIA SANJAR)
2. Bani Nadhir
Bani Nadhir adalah orang-orang Yahudi yang bertetangga dengan Madinah. Mereka bersekutu dengan suku Khazraj.
Antara Bani Nadhir dan kaum Muslimin telah terjalin perjanjian damai dan kerja sama. Namun karena dasar kebencian, mereka tetap melanggar perjanjian.
Pemimpin kaum Nadhir, Huyay, berencana membunuh Rasulullah. Rencana itu diketahui oleh Malaikat Jibril dan langsung disampaikan ke Nabi Muhammad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nabi Muhammad lalu mengutus seseorang ke permukiman Bani Nadhir untuk menyampaikan pesan yang meminta kaum tersebut meninggalkan Madinah karena sudah melanggar perjanjian damai.
Namun, bukannya pergi, bangsa itu justru mempersiapkan perang melawan Rasulullah.
Akan tetapi, pasukan Nadhir tak sanggup menahan serangan pasukan Rasulullah. Mereka akhirnya menyerah dan diminta angkat kaki oleh Nabi Muhammad.
Ketika meninggalkan pemukiman, mereka berjalan penuh congkak seolah tengah pawai. Mereka membawa semua harta bendanya dan merobohkan bangunan rumah agar tidak bisa ditempati kaum Muslimin.
3. Bani Quraizhah
Kaum Quraizhah pernah mengkhianati perjanjian damai dengan Rasulullah sehingga memicu pengepungan oleh umat Islam.
Pengepungan itu terjadi setelah Nabi Muhammad pulang dari Perang Khandaq. Saat itu, Malaikat Jibril meminta Rasulullah segera menuju permukiman Bani Quraizhah, sampai membuat Rasulullah menunda salat Asar.
Pengepungan terjadi selama 25 hari. Pemuka Bani Quraizhah, Ka'b bin Asad, yang tak tahan dengan pengepungan lantas mengajukan tiga saran kepada orang-orang kaumnya. Saran pertama, yakni mengikuti ajaran Rasulullah.
Namun, salah seorang kaum Quraizhah menolak dan menyatakan bakal tetap mengikuti hukum Taurat alih-alih Al Quran.
Ka'b pun menawarkan saran kedua yakni membunuh anak dan istri mereka agar tak ada keturunan yang perlu dikhawatirkan apabila mereka dibunuh pasukan Rasulullah.
Saran itu pun kembali ditolak karena orang-orang Quraizhah tak tega membunuh anak dan istrinya.
Ka'b akhirnya memberikan saran ketiga yaitu menyerang pasukan Nabi Muhammad. Akan tetapi saran itu juga ditolak.
Meski begitu, pada akhirnya, kaum Quraizhah menyerah dan tunduk di bawah keputusan hukum Nabi Muhammad.
Di masa awal kemunculan Islam, terdapat sejumlah suku atau kabilah yang sangat memusuhi Nabi Muhammad.
Dari sekian banyak kabilah-kabilah di jazirah Arab, ada tiga kabilah Yahudi terkuat yang sangat vokal menentang Rasulullah meski sudah terikat perjanjian damai.
Berikut ini tiga kabilah Yahudi terkuat yang memusuhi Nabi Muhammad pada masa awal Islam berdasarkan buku Muhammad karya Martin Lings dan Sirah Nabawiyah karya Musthafa As-Siba'i.
1. Bani Qaynuqa
Bani Qaynuqa merupakan salah satu kabilah Yahudi terkuat di Arab yang memusuhi Nabi Muhammad pada masa awal Islam.
Qaynuqa adalah suku yang sangat blak-blakan mengutarakan ketidaksenangannya atas kabar kemenangan Islam dalam Perang Badar.
Kaum ini pernah sesumbar bahwa mereka bisa memenangkan perang jika melawan pasukan Rasulullah.
Mereka menyampaikan hal itu kala Nabi Muhammad menemui anggota Qaynuqa di sebuah pasar di sebelah selatan Madinah usai pulang berperang.
Padahal, Nabi Muhammad saat itu berharap Perang Badar bisa mengubah hati Qaynuqa. Beliau juga mengingatkan mengenai azab jika kaum tersebut membuat Allah murka, namun mereka tak acuh.
Suatu ketika, terjadi perselisihan yang mengakibatkan pertumpahan darah antara pria Muslim dan pria Yahudi. Keluarga pria Muslim menuntut balas dendam dan meminta kaum Anshar melawan orang Qaynuqa.
Kaum Qaynuqa lantas meminta bantuan sekutu dari Khazraj yakni Bin Ubayy dan Ubadah bin Shamit. Mereka percaya bala bantuan dari sekutu-sekutunya itu bisa membuat mereka meraih kemenangan.
Akan tetapi, bantuan tak kunjung datang. Sebab Ubadah tak mau melanggar janji yang telah dibuat bersama Nabi Muhammad yakni menjaga perdamaian dengan Muslim.
Sementara Bin Ubayy, yang punya hubungan kuat dengan Qaynuqa, ditolak oleh Rasulullah kala memohon kepada sang Nabi untuk memperlakukan kaum Qaynuqa dengan baik.
Kendati begitu, Bin Ubayy tak menyerah. Dia tetap memohon kepada Rasulullah hingga Nabi Muhammad luluh. Rasulullah pun berjanji menjamin nyawa kaum Qaynuqa.
Bersamaan dengan itu, turunlah sebuah wahyu yang meminta Muslim menumpas Qaynuqa apabila suatu saat berhadapan di medan perang.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
3 Kabilah Yahudi Musuh Nabi Muhammad pada Awal Islam di Saudi
Benteng peninggalan Yahudi di Khaibar, sebelah utara Madinah. (AFP/RANIA SANJAR)
2. Bani Nadhir
Bani Nadhir adalah orang-orang Yahudi yang bertetangga dengan Madinah. Mereka bersekutu dengan suku Khazraj.
Antara Bani Nadhir dan kaum Muslimin telah terjalin perjanjian damai dan kerja sama. Namun karena dasar kebencian, mereka tetap melanggar perjanjian.
Pemimpin kaum Nadhir, Huyay, berencana membunuh Rasulullah. Rencana itu diketahui oleh Malaikat Jibril dan langsung disampaikan ke Nabi Muhammad.
Nabi Muhammad lalu mengutus seseorang ke permukiman Bani Nadhir untuk menyampaikan pesan yang meminta kaum tersebut meninggalkan Madinah karena sudah melanggar perjanjian damai.
Namun, bukannya pergi, bangsa itu justru mempersiapkan perang melawan Rasulullah.
Akan tetapi, pasukan Nadhir tak sanggup menahan serangan pasukan Rasulullah. Mereka akhirnya menyerah dan diminta angkat kaki oleh Nabi Muhammad.
Ketika meninggalkan pemukiman, mereka berjalan penuh congkak seolah tengah pawai. Mereka membawa semua harta bendanya dan merobohkan bangunan rumah agar tidak bisa ditempati kaum Muslimin.
3. Bani Quraizhah
Kaum Quraizhah pernah mengkhianati perjanjian damai dengan Rasulullah sehingga memicu pengepungan oleh umat Islam.
Pengepungan itu terjadi setelah Nabi Muhammad pulang dari Perang Khandaq. Saat itu, Malaikat Jibril meminta Rasulullah segera menuju permukiman Bani Quraizhah, sampai membuat Rasulullah menunda salat Asar.
Pengepungan terjadi selama 25 hari. Pemuka Bani Quraizhah, Ka'b bin Asad, yang tak tahan dengan pengepungan lantas mengajukan tiga saran kepada orang-orang kaumnya. Saran pertama, yakni mengikuti ajaran Rasulullah.
Namun, salah seorang kaum Quraizhah menolak dan menyatakan bakal tetap mengikuti hukum Taurat alih-alih Al Quran.
Ka'b pun menawarkan saran kedua yakni membunuh anak dan istri mereka agar tak ada keturunan yang perlu dikhawatirkan apabila mereka dibunuh pasukan Rasulullah.
Saran itu pun kembali ditolak karena orang-orang Quraizhah tak tega membunuh anak dan istrinya.
Ka'b akhirnya memberikan saran ketiga yaitu menyerang pasukan Nabi Muhammad. Akan tetapi saran itu juga ditolak.
Meski begitu, pada akhirnya, kaum Quraizhah menyerah dan tunduk di bawah keputusan hukum Nabi Muhammad.