Dua Milisi 'Proksi' Iran di Palestina yang Kerap Serang Israel
CNN Indonesia
Rabu, 12 Apr 2023 13:14 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Milisi Hamas di Palestina yang kerap melancarkan serangan ke Israel. (REUTERS/IBRAHEEM ABU MUSTAFA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Aksi polisi Israel menyerbu Masjid Al Aqsa pekan lalu hingga melukai sejumlah jemaah Palestina direspons keras oleh dunia internasional, salah satunya Iran.
Iran mengecam tindakan tersebut dan menyerukan negara-negara Organisasi Kerjasama Islam bersatu menentang serangan Israel di Al Aqsa.
Namun, selain seruan diplomatik, Iran disinyalir juga 'mengeroyok' Israel lewat serangan-serangan dari berbagai front.
Dalam sepekan setelah serangan, ratusan roket ditembakkan dari Libanon, Jalur Gaza, hingga Suriah. Diyakini, Iran adalah dalang di balik serangan-serangan itu.
Dilansir dari Jerusalem Post, Iran diduga melibatkan proksi kelompok-kelompok militan seperti Hamas, Jihad Islam, Hizbullah, dan beberapa kelompok lainnya untuk menggempur Israel.
Dua dari sejumlah 'proksi' Iran itu tercatat bermarkas di Palestina. Satu adalah Hamas dan yang lainnya Jihad Islam.
1. Hamas
Mengutip lembaga think tank yang berpusat di Washington, Wilson Center, Hamas merupakan salah satu kelompok militan yang disokong Iran.
Iran pada dasarnya mendukung Hamas, dan Jihad Islam, karena alasan geostrategis dan ideologis. Secara geostrategis, Teheran membantu, mempersenjatai, dan mendanai kelompok itu demi memperluas pengaruh regionalnya.
Kemudian secara ideologis, Iran memandang Israel sebagai perampas tanah Muslim dan ancaman bagi Islam. Teheran juga memandang Israel sebagai perpanjangan tangan Amerika Serikat, dengan menjuluki AS sebagai "Setan Besar" dan Israel sebagai "Setan Kecil".
Hamas dibentuk pada 1987 oleh Sheikh Ahmed Yassin. Kelompok ini memiliki pengikut di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Hamas pertama kali menjalin hubungan dengan Iran setelah Perang Teluk 1990 dan Konferensi Perdamaian Madrid. Kelompok ini kerap diberi bantuan oleh Teheran berupa finansial, senjata, dan pelatihan.
Saat Perang Gaza pecah pada 2008, Iran memberikan bantuan besar kepada Hamas, termasuk roket-roket canggih.
"Kemenangan rakyat Gaza adalah keajaiban Tuhan, dan Republik Islam (Iran) pasti memiliki andil dalam kemenangan ini," kata pemimpin politik Hamas, Khaled Mashaal, di pengasingan.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
2. Jihad Islam
Jihad Islam Palestina atau Jihad Islam didirikan pada 1981 oleh mahasiswa Palestina di Mesir. Kelompok ini dibentuk dengan tujuan membangun negara Palestina di Tepi Barat, Gaza, dan daerah lainnya yang diduduki Israel.
Jihad Islam merupakan kelompok yang jauh lebih kecil dibandingkan Hamas. Namun, meski kecil, kelompok ini "sangat efisien dan sangat terorganisir", menurut Ibrahim Fraihat dari Institut Doha kepada Al Jazeera. Kelompok ini disebut selalu berpartisipasi dalam semua konfrontasi dengan Israel.
Dalam Wilson Center, disebutkan bahwa hubungan Iran dan Jihad Islam dimulai pada akhir 1980-an setelah kelompok itu pindah ke Libanon dan membina kemitraan dengan Hizbullah dan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Jihad Islam menerima pasokan senjata dari Iran, sekaligus pelatihan dan finansial. Mereka kerap dibayar untuk melancarkan serangan terhadap Israel.
Jihad Islam saat ini berbasis di Gaza. Mereka diusir dari Mesir setelah insiden pembunuhan Presiden Anwar Sadat oleh Jihad Islam Mesir pada 1981. Jihad Islam beberapa kali berpindah markas seperti Libanon dan Damaskus, hingga akhirnya bermuara Gaza, Palestina.
Jakarta, CNN Indonesia --
Aksi polisi Israel menyerbu Masjid Al Aqsa pekan lalu hingga melukai sejumlah jemaah Palestina direspons keras oleh dunia internasional, salah satunya Iran.
Iran mengecam tindakan tersebut dan menyerukan negara-negara Organisasi Kerjasama Islam bersatu menentang serangan Israel di Al Aqsa.
Namun, selain seruan diplomatik, Iran disinyalir juga 'mengeroyok' Israel lewat serangan-serangan dari berbagai front.
Dalam sepekan setelah serangan, ratusan roket ditembakkan dari Libanon, Jalur Gaza, hingga Suriah. Diyakini, Iran adalah dalang di balik serangan-serangan itu.
Dilansir dari Jerusalem Post, Iran diduga melibatkan proksi kelompok-kelompok militan seperti Hamas, Jihad Islam, Hizbullah, dan beberapa kelompok lainnya untuk menggempur Israel.
Dua dari sejumlah 'proksi' Iran itu tercatat bermarkas di Palestina. Satu adalah Hamas dan yang lainnya Jihad Islam.
1. Hamas
Mengutip lembaga think tank yang berpusat di Washington, Wilson Center, Hamas merupakan salah satu kelompok militan yang disokong Iran.
Iran pada dasarnya mendukung Hamas, dan Jihad Islam, karena alasan geostrategis dan ideologis. Secara geostrategis, Teheran membantu, mempersenjatai, dan mendanai kelompok itu demi memperluas pengaruh regionalnya.
Kemudian secara ideologis, Iran memandang Israel sebagai perampas tanah Muslim dan ancaman bagi Islam. Teheran juga memandang Israel sebagai perpanjangan tangan Amerika Serikat, dengan menjuluki AS sebagai "Setan Besar" dan Israel sebagai "Setan Kecil".
Hamas dibentuk pada 1987 oleh Sheikh Ahmed Yassin. Kelompok ini memiliki pengikut di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Hamas pertama kali menjalin hubungan dengan Iran setelah Perang Teluk 1990 dan Konferensi Perdamaian Madrid. Kelompok ini kerap diberi bantuan oleh Teheran berupa finansial, senjata, dan pelatihan.
Saat Perang Gaza pecah pada 2008, Iran memberikan bantuan besar kepada Hamas, termasuk roket-roket canggih.
"Kemenangan rakyat Gaza adalah keajaiban Tuhan, dan Republik Islam (Iran) pasti memiliki andil dalam kemenangan ini," kata pemimpin politik Hamas, Khaled Mashaal, di pengasingan.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Dua Milisi 'Proksi' Iran di Palestina yang Kerap Serang Israel
Parade militer Hamas di Jalur Gaza. (REUTERS/MOHAMMED SALEM)
2. Jihad Islam
Jihad Islam Palestina atau Jihad Islam didirikan pada 1981 oleh mahasiswa Palestina di Mesir. Kelompok ini dibentuk dengan tujuan membangun negara Palestina di Tepi Barat, Gaza, dan daerah lainnya yang diduduki Israel.
Jihad Islam merupakan kelompok yang jauh lebih kecil dibandingkan Hamas. Namun, meski kecil, kelompok ini "sangat efisien dan sangat terorganisir", menurut Ibrahim Fraihat dari Institut Doha kepada Al Jazeera. Kelompok ini disebut selalu berpartisipasi dalam semua konfrontasi dengan Israel.
Dalam Wilson Center, disebutkan bahwa hubungan Iran dan Jihad Islam dimulai pada akhir 1980-an setelah kelompok itu pindah ke Libanon dan membina kemitraan dengan Hizbullah dan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Jihad Islam menerima pasokan senjata dari Iran, sekaligus pelatihan dan finansial. Mereka kerap dibayar untuk melancarkan serangan terhadap Israel.
Jihad Islam saat ini berbasis di Gaza. Mereka diusir dari Mesir setelah insiden pembunuhan Presiden Anwar Sadat oleh Jihad Islam Mesir pada 1981. Jihad Islam beberapa kali berpindah markas seperti Libanon dan Damaskus, hingga akhirnya bermuara Gaza, Palestina.