Aktivis lingkungan Greta Thunberg setiap Jumat masih aktif berkampanye menyuarakan kerusakan iklim. (Jeff Overs/BBC/Handout via REUTERS)
Bagaimana orangtua membiarkan anak membolos sekolah setiap minggu demi aksi demo?
Ini pertanyaan yang kelihatannya sangat relevan untuk orangtua di luar benua Eropa. Baik Greta, Axelsson maupun Verrata mengakui bahwa status mereka sebagai warga Eropa mereka menguntungkan.
Pertama, hak demonstrasi dilindungi di Swedia dan Italia. Begitu anak menginjak usia 17 tahun si anak sudah boleh menentukan pilihannya sendiri sebagai manusia dewasa, tidak bisa dipaksa orangtua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menyadari, ini privilege. Tidak semua anak di dunia bisa berdemo tanpa terancam keselamatannya. Juga tidak semua orangtua di dunia punya sikap (mengizinkan demo) yang sama," kata axelsson.
Verrata malah merasa justru orangtuanya lah yang mengajari demo.
"Saya sudah dibawa demo sejak masih dalam dorongan bayi. Jadi soal demo, buat orangtua saya bukan barang aneh," kata Verrata. Kedua orangtuanya, menurut Verrata sangat peduli pada isu lingkungan di Italia.
Orangtua Axelsson kurang lebih sama. Ia sudah ikut aktif berdemo sejak sekolah menengah.
"Mungkin karena ini Swedia. Orangtua lebih bisa menerima kalau anaknya menuntut punya pendapat sendiri. Tentu saja saya tidak menafikan bahwa tidak semua orangtua di sini punya sudut pandang begitu," tambahnya.
Meski demikian Axelsson juga mengakui adiknya yang baru 13 tahun kadang dilarang bolos sekolah karena ikut demo.
"Yang jelas ada sebagian orangtua yang melihat bahwa tidak semua hal diajarkan di sekolah. Aksi demo untuk menuntut keadilan iklim ini juga sebuah sarana belajar kan, dan itu tidak diajarkan di sekolah," tambah Verrata.
Kembali ke Greta, apa pesannya untuk 80 juta anak di Indonesia yang saat ini menghadapi krisis iklim sementara snagat sedikit yang sudah menyadari ap aitu perubahan iklim?
"Pesannya sama saja dengan yang lainnya," jawab Greta singkat sebelum melipir.
Rupanya maksudnya adalah semua orang perlu melakukan apa yang bisa dilakukan dalam menghindari kiamat iklim terjadi. Ada yang aktif dalam Gerakan dan organisasi muda perubahan iklim - dengan bermacam nama.
Bagaimana kalua akhirnya nanti para pegiat mud ini frustasi karena tuntutannya tak kunjung tercapai lalu bosan dan kampanye menuntut keadilan iklim tak laku lagi? Axelsson dan Verrata tertawa.
"Kami tidak khawatir sih. Tiap hari ada saja muka-muka baru di sini (arena demo halaman Parlemen Swedia). Pasti ada penerusnya," kata Axelsson santai.
"Musuh kami cuma satu: waktu. Kita sekarang kejar-kejaran dengan waktu karena kondisi bumi makin buruk perubahan iklim terjadi makin cepat. Ilmuwan sudah memperingatkan kalau ketinggian suhu 1,5 derajat lewat, ya sudah selesai kita," tambah Verrata serius.
Suara gadis yang masih kelihatan seperti bocah itu melengking, disambut dengan sahutan bersemangat peserta aksi Fridays for Future (dikenal juga di Swedia dengan gerakan Bolos Demi Iklim alias Skolstrejk för klimatet) Jumat (19/05).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Si gadis, Greta Thurnberg, hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong tipis di tengah suhu 11 derajat. Greta adalah motor aksi sejak 2018, jadi juru kampanye yang sangat dihormati sekaligus jadi sasaran kebencian kelompok penolak iklim, sejak usianya masih 14 tahun.
Pada tiap agenda dunia yang menghadirkannya sebagai pembicara, Greta selalu memberi kritik pedas pada politisi dan pelaku industri yang dianggap mengabaikan bumi dari serangan krisis iklim demi uang.
Tetapi untuk peran yang begitu sangar dan berwibawa, dalam kenyataannya Greta tampak kikuk dan pemalu. Dia menghindari sorotan kamera, memilih bersembunyi dalam kerumunan teman-temannya sesama juru kampanye iklim yang Jumat pagi itu turut hadir.
"Please no more picture (tolong jangan ambil fotoku lagi)," pintanya pelan saat kami mendekatinya. Greta pun membalik badan dan melipir mendekati rombongan teman-temannya.
Tetap tiap Jumat
Fridays for Future (FfF) yang mulanya diinisiasi Greta dengan aksi demo solo di depan Parlemen Swedia tiap hari Jumat, kini sudah menjadi gerakan menuntut keadilan iklim terbesar di dunia. Agenda tetap di depan Parlemen Swedia sudah berlangsung 249 kali. Simpulnya ada di 750 kota, termasuk di Jakarta.
Isabelle Axelsson sudah turut serta sejak awal. Mahasiswi jurusan disain di Stockholm ini adalah salah satu motor FfF. Kacamata hitam ungu gonjrengnya membuat sosoknya menonjol.
"Saya tidak ikut aksi kalau terpaksa saja, misalnya sakit. Tapi selalu mengusahakan supaya bisa hadir," kata Axelsson. Aksi tetap dilangsungkan dalam suasana musim salju sekalipun, tidak peduli seberapa bekunya Stockholm.
"Pernah kejadian suhunya minus 12 derajat. Biasa saja tuh, tetap demo juga," tambahnya sambil tertawa.
Matilde Verrata (mengenakan blus berbunga). Greta Thurnberg, dan Isabel Axelsson (bercelana panjang) - sudah 249 minggu sejak aksi dimulai. (Dok foto: Li Wei Soon)
Mesti termasuk tokoh utama, Axelsson yang berusia 21 tahun tidak punya peran struktural resmi dalam FfF. Begitu juga pegiat lainnya, bahkan Greta sendiri. Kelompok ini rapat seminggu sekali untuk menentukan arah kegiatan mereka.
"Kami bukan organisasi resmi. Anak-anak muda yang memang peduli saja. Tidak ada tuntutan harus begini, atau begitu," kata Matilde Verrata, salah seorang pegiat lain.
"Prinsipnya lakukan apa saja yang bisa dilakukan. Bisa datang tiap minggu, bagus. Bisa datang sesekali, silakan. Tidak ada kewajiban."
Verrata, 23 tahun, bahkan bukan warga asli Swedia. Lahir dan besar di Parma, Italia, ia memutuskan kuliah jurusan Bahasa Swedia dan kemudian berimigrasi ke Stockholm. Sejak 2021, ia berkarir sebagai asisten guru TK. Verrata sudah aktif dalam kampanye FfF sejak masih di negara asalnya.
Tanpa struktur resmi, bagaimana mengatur supaya tidak terjadi perselisihan sementara pegiat utama adalah anak-anak muda yang kerap dikaitkan dengan perilaku emosional dan moody?
Verrata tertawa.
"Pada dasarnya sih kami saling dukung saja. Kita saling berusaha memahami, apa kebutuhan masing-masing anggota. Tidak ada kontrak, tidak ada ikatan. You can just show up (kamu bisa datang begitu saja)," tambahnya santai.
FfF kemudian menginspirasi banyak kalangan lain untuk turut serta. Selain kelompok sesama anak muda, muncul juga misalnya University Strike for Climate (Bolos Kuliah Demi Iklim), gerakan yang diinisiasi dosen dan civitas akademika.
Tuntutan utamanya adalah agar para pemimpin pemerintahan dan industri segera mengambil kebijakan darurat untuk menyelamatkan bumi. Lembaga PBB untuk anak Unicef, misalnya, didesak melepas kemitraan dengan Formula 1, ajang balapan yang dianggap sebagai sarana mendewakan BBM.
Juga Bank Standard Chartered yang dianggap bandel terus-terusan mendanai operasi tambang dan bisnis pendukung eksploitasi BBM fosil.
Orangtua yang Berbeda
Aktivis lingkungan Greta Thunberg setiap Jumat masih aktif berkampanye menyuarakan kerusakan iklim. (Jeff Overs/BBC/Handout via REUTERS)
Bagaimana orangtua membiarkan anak membolos sekolah setiap minggu demi aksi demo?
Ini pertanyaan yang kelihatannya sangat relevan untuk orangtua di luar benua Eropa. Baik Greta, Axelsson maupun Verrata mengakui bahwa status mereka sebagai warga Eropa mereka menguntungkan.
Pertama, hak demonstrasi dilindungi di Swedia dan Italia. Begitu anak menginjak usia 17 tahun si anak sudah boleh menentukan pilihannya sendiri sebagai manusia dewasa, tidak bisa dipaksa orangtua.
"Kami menyadari, ini privilege. Tidak semua anak di dunia bisa berdemo tanpa terancam keselamatannya. Juga tidak semua orangtua di dunia punya sikap (mengizinkan demo) yang sama," kata axelsson.
Verrata malah merasa justru orangtuanya lah yang mengajari demo.
"Saya sudah dibawa demo sejak masih dalam dorongan bayi. Jadi soal demo, buat orangtua saya bukan barang aneh," kata Verrata. Kedua orangtuanya, menurut Verrata sangat peduli pada isu lingkungan di Italia.
Orangtua Axelsson kurang lebih sama. Ia sudah ikut aktif berdemo sejak sekolah menengah.
"Mungkin karena ini Swedia. Orangtua lebih bisa menerima kalau anaknya menuntut punya pendapat sendiri. Tentu saja saya tidak menafikan bahwa tidak semua orangtua di sini punya sudut pandang begitu," tambahnya.
Meski demikian Axelsson juga mengakui adiknya yang baru 13 tahun kadang dilarang bolos sekolah karena ikut demo.
"Yang jelas ada sebagian orangtua yang melihat bahwa tidak semua hal diajarkan di sekolah. Aksi demo untuk menuntut keadilan iklim ini juga sebuah sarana belajar kan, dan itu tidak diajarkan di sekolah," tambah Verrata.
Kembali ke Greta, apa pesannya untuk 80 juta anak di Indonesia yang saat ini menghadapi krisis iklim sementara snagat sedikit yang sudah menyadari ap aitu perubahan iklim?
"Pesannya sama saja dengan yang lainnya," jawab Greta singkat sebelum melipir.
Rupanya maksudnya adalah semua orang perlu melakukan apa yang bisa dilakukan dalam menghindari kiamat iklim terjadi. Ada yang aktif dalam Gerakan dan organisasi muda perubahan iklim - dengan bermacam nama.
Bagaimana kalua akhirnya nanti para pegiat mud ini frustasi karena tuntutannya tak kunjung tercapai lalu bosan dan kampanye menuntut keadilan iklim tak laku lagi? Axelsson dan Verrata tertawa.
"Kami tidak khawatir sih. Tiap hari ada saja muka-muka baru di sini (arena demo halaman Parlemen Swedia). Pasti ada penerusnya," kata Axelsson santai.
"Musuh kami cuma satu: waktu. Kita sekarang kejar-kejaran dengan waktu karena kondisi bumi makin buruk perubahan iklim terjadi makin cepat. Ilmuwan sudah memperingatkan kalau ketinggian suhu 1,5 derajat lewat, ya sudah selesai kita," tambah Verrata serius.