Apa Dampak Pemberontakan Wagner terhadap Perang di Ukraina?
CNN Indonesia
Selasa, 27 Jun 2023 08:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Bagaimana dampak perang di Ukraina setelah pemberontakan yang dilakukan tentara bayaran Wagner. Foto: REUTERS/STRINGER
Jakarta, CNN Indonesia --
Tentara bayaran WagnerGroup melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Rusia dengan berbalik menyerang Kremlin pada Sabtu (24/6) lalu.
Bos Wagner Group, Yevgeny Prigozhin, mengerahkan pasukannya menduduki markas militer Rusia di Rostov dan mengirim tentaranya menuju Moskow guna menggulingkan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu.
Pemberontakan itu dilakukan setelah Wagner menuding pasukan Kremlin menyerang kamp kelompok tentara bayaran tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Sabtu pukul 07.30 waktu setempat, Prigozhin pun mengklaim berhasil menguasai fasilitas militer dan lapangan terbang di Rostov-on-Don, Rusia.
"Ini bukan kudeta militer, tapi pawai keadilan," ujar Prigozhin dikutip dari Associated Press.
Namun, Prigozhin menyatakan menarik mundur pasukan Wagner demi menghindari pertumpahan darah di Moskow. Belakangan diketahui Prigozhin menarik pasukannya setelah bernegosiasi dengan Rusia.
Meski sempat menyebut pembelotan Wagner sebagai pengkhianatan dan hendak menjatuhkan hukuman, Presiden Vladimir Putin mencabut segala tuntutan tersebut. Dia bahkan membiarkan Wagner pindah ke Belarus, negara tetangga Rusia.
Ini menjadi tantangan terbesar bagi kekuasaan Putin selama ini dan menjadi krisis keamanan paling serius di Kremlin sejak ia berkuasa pada 1999.
Meski begitu, menurut Rob Lee dari Foreign Policy Research Institute, tidak jelas apakah pemberontakan Wagner ini bisa diterjemahkan langsung untuk situasi di medan perang. Dalam artian, Wagner kini tak lagi punya peran kunci dalam perang di Ukraina.
"Pasukan Wagner ditempatkan di Bakhmut pada akhir Mei-awal Juni. Saya tidak tahu adakah pasukan Wagner saat ini di garda depan, atau mereka ditarik dari sana" kata Lee di Twitter, seperti dikutip AFP, Senin (26/6).
"Wagner dirancang untuk menyerang dan bukan untuk operasi defensif. Tidak pernah jelas peran apa yang mereka mainkan selama serangan balasan Ukraina."
Menurut tentara Ukraina yang kembali dari garda depan pada Minggu (25/6), pemberontakan Wagner tidak secara nyata memengaruhi pertempuran di Bakhmut.
Bakhmut adalah kota di timur Ukraina yang menjadi salah satu medan tempur paling panas dan berdarah selama invasi.
Lanjut di halaman berikutnya...
Kredibilitas Putin yang melemah
Sementara itu, menurut William Alberque dari Institut Internasional untuk Studi Strategis, pemberontakan Wagner telah melemahkan kredibilitas Presiden Putin yang selama ini telah ia pupuk.
"Episode ini melemahkan kredibilitas Putin, yang tampak panik di televisi pada Sabtu," kata Alberque kepada AFP.
Dia berujar rakyat Moskow tentu bertanya-tanya jika itu hanyalah pemberontakan sekejap mata, "mengapa Presiden berbicara tentang perang saudara?"
Di samping itu, keputusan Putin membiarkan Prigozhin pergi hidup-hidup juga menurutnya bakal membuat pasukan keamanan Kremlin merasa bahwa Wagner spesial karena punya impunitas.
"Semua pihak keamanan Rusia akan merasa mereka (Wagner) memiliki impunitas," ujarnya mewanti-wanti.
Ancaman dari Belarus
Saat pemberontakan terjadi, Kyiv merasa aksi Wagner menawarkan kesempatan yang menguntungkan bagi serangan balasan Ukraina yang dimulai awal Juni ini.
Namun, Moskow bersikeras bahwa pemberontakan Wagner tak akan memengaruhi invasinya di Ukraina. Sebab serangan itu terus berlanjut pada Sabtu yang menewaskan lima orang di Kyiv, menurut walikota Kyiv.
Pada Minggu, Rusia juga menyatakan pihaknya menangkis beberapa serangan Ukraina di timur dan selatan, lokasi yang diklaim Ukraina telah sedikit demi sedikit mereka rebut kembali.
Kendati begitu, para ahli percaya pemberontakan ini jelas menjadi pukulan bagi moral pasukan Rusia di Ukraina. Mereka sendiri selama 16 bulan terakhir, mengalami kerugian besar di Ukraina.
"Ini tentu memengaruhi moral pasukan Rusia," kata direktur akademik Yayasan Studi Strategis Mediterania (FMES) yang berbasis di Prancis, Pierre Razoux.
"Di pihak Ukraina, mungkin ada momentum yang bisa digunakan untuk menerobos garda depan atau bagaimanapun juga untuk mendapatkan posisi."
Meski begitu, dia juga memperingatkan bahwa Ukraina tetap harus memperketat perbatasan Belarus karena lokasi ini kemungkinan bakal menimbulkan pukulan berbahaya bagi Kyiv.
"Jika 15.000 prajurit Wagner datang dari Belarus, mereka dapat melakukan beberapa kerusakan. Mungkin itu yang Prigozhin dan Putin negosiasikan."
Jakarta, CNN Indonesia --
Tentara bayaran WagnerGroup melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Rusia dengan berbalik menyerang Kremlin pada Sabtu (24/6) lalu.
Bos Wagner Group, Yevgeny Prigozhin, mengerahkan pasukannya menduduki markas militer Rusia di Rostov dan mengirim tentaranya menuju Moskow guna menggulingkan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu.
Pemberontakan itu dilakukan setelah Wagner menuding pasukan Kremlin menyerang kamp kelompok tentara bayaran tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Sabtu pukul 07.30 waktu setempat, Prigozhin pun mengklaim berhasil menguasai fasilitas militer dan lapangan terbang di Rostov-on-Don, Rusia.
"Ini bukan kudeta militer, tapi pawai keadilan," ujar Prigozhin dikutip dari Associated Press.
Namun, Prigozhin menyatakan menarik mundur pasukan Wagner demi menghindari pertumpahan darah di Moskow. Belakangan diketahui Prigozhin menarik pasukannya setelah bernegosiasi dengan Rusia.
Meski sempat menyebut pembelotan Wagner sebagai pengkhianatan dan hendak menjatuhkan hukuman, Presiden Vladimir Putin mencabut segala tuntutan tersebut. Dia bahkan membiarkan Wagner pindah ke Belarus, negara tetangga Rusia.
Ini menjadi tantangan terbesar bagi kekuasaan Putin selama ini dan menjadi krisis keamanan paling serius di Kremlin sejak ia berkuasa pada 1999.
Meski begitu, menurut Rob Lee dari Foreign Policy Research Institute, tidak jelas apakah pemberontakan Wagner ini bisa diterjemahkan langsung untuk situasi di medan perang. Dalam artian, Wagner kini tak lagi punya peran kunci dalam perang di Ukraina.
"Pasukan Wagner ditempatkan di Bakhmut pada akhir Mei-awal Juni. Saya tidak tahu adakah pasukan Wagner saat ini di garda depan, atau mereka ditarik dari sana" kata Lee di Twitter, seperti dikutip AFP, Senin (26/6).
"Wagner dirancang untuk menyerang dan bukan untuk operasi defensif. Tidak pernah jelas peran apa yang mereka mainkan selama serangan balasan Ukraina."
Pemberontakan Wagner pengaruhi kredibilitas Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto: CNN
Kredibilitas Putin yang melemah
Sementara itu, menurut William Alberque dari Institut Internasional untuk Studi Strategis, pemberontakan Wagner telah melemahkan kredibilitas Presiden Putin yang selama ini telah ia pupuk.
"Episode ini melemahkan kredibilitas Putin, yang tampak panik di televisi pada Sabtu," kata Alberque kepada AFP.
Dia berujar rakyat Moskow tentu bertanya-tanya jika itu hanyalah pemberontakan sekejap mata, "mengapa Presiden berbicara tentang perang saudara?"
Di samping itu, keputusan Putin membiarkan Prigozhin pergi hidup-hidup juga menurutnya bakal membuat pasukan keamanan Kremlin merasa bahwa Wagner spesial karena punya impunitas.
"Semua pihak keamanan Rusia akan merasa mereka (Wagner) memiliki impunitas," ujarnya mewanti-wanti.
Ancaman dari Belarus
Saat pemberontakan terjadi, Kyiv merasa aksi Wagner menawarkan kesempatan yang menguntungkan bagi serangan balasan Ukraina yang dimulai awal Juni ini.
Namun, Moskow bersikeras bahwa pemberontakan Wagner tak akan memengaruhi invasinya di Ukraina. Sebab serangan itu terus berlanjut pada Sabtu yang menewaskan lima orang di Kyiv, menurut walikota Kyiv.
Pada Minggu, Rusia juga menyatakan pihaknya menangkis beberapa serangan Ukraina di timur dan selatan, lokasi yang diklaim Ukraina telah sedikit demi sedikit mereka rebut kembali.
Kendati begitu, para ahli percaya pemberontakan ini jelas menjadi pukulan bagi moral pasukan Rusia di Ukraina. Mereka sendiri selama 16 bulan terakhir, mengalami kerugian besar di Ukraina.
"Ini tentu memengaruhi moral pasukan Rusia," kata direktur akademik Yayasan Studi Strategis Mediterania (FMES) yang berbasis di Prancis, Pierre Razoux.
"Di pihak Ukraina, mungkin ada momentum yang bisa digunakan untuk menerobos garda depan atau bagaimanapun juga untuk mendapatkan posisi."
Meski begitu, dia juga memperingatkan bahwa Ukraina tetap harus memperketat perbatasan Belarus karena lokasi ini kemungkinan bakal menimbulkan pukulan berbahaya bagi Kyiv.
"Jika 15.000 prajurit Wagner datang dari Belarus, mereka dapat melakukan beberapa kerusakan. Mungkin itu yang Prigozhin dan Putin negosiasikan."