Kota Laihana yang berpenduduk 12 ribu jiwa dan sudah berdiri di Pulau Maui selama ratusan tahun itu kini hanya berisi puing-puing, arang, dan abu. (AFP/PAULA RAMON)
Jakarta, CNN Indonesia --
Anthony La Puente hanya bisa meratapi arang-arah puing dan debu dari bangunan yang tadinya adalah rumahnya selama 16 tahun terakhir di Lahaina, Hawaii.
Rumahnya menjadi satu dari ribuan rumah di kepulauan di Samudera Pasifik itu yang ludes akibat kebakaran lahan beberapa hari terakhir.
Ribuan turis datang ke kota tersebut setiap tahunnya untuk menikmati suasana kota tepi pantai itu, berjalan-jalan di pelabuhan yang indah, atau bermalas-malasan di bawah pepohonan.
Namun kini semua berbanding terbalik. Saat AFP berjalan di antara reruntuhan puing, ada bangkai kucing, burung, dan hewan lainnya yang hangus terbakar.
Belum lagi temuan mayat manusia satu per satu, menambah korban jiwa kebakaran lahan yang disebut terbesar di Hawaii itu hingga kini tercatat sebanyak 67 orang.
"Saya sudah mengemasi barang-barang ayah saya," katanya sembari memilah-milah puing itu. "Kini semuanya lenyap."
Sementara di sisi lain, terdengar suara gembira dari tetangga La Puente. Chyna Cho berteriak girang saat bertemu kerabatnya kembali, Amber Langdon, yang terpisah akibat kebakaran.
"Kau berhasil!" kata Cho kemudian lari memeluk Langdon. "Aku sedang mencarimu!"
Kemudian bagi warga Laihana lainnya, Keith Todd, kebakaran itu menyisakan keajaiban baginya. Rumahnya masih berdiri, bahkan panel suryanya masih menghasilkan listrik.
"Saya tak percaya ini," kata Todd. "Saya sangat bersyukur, tapi pada waktu bersamaan, semuanya sangat menyedihkan," lanjutnya saat melihat rumah tetangganya sudah menjadi arang.
Bukan cuma Todd, beberapa bangunan di kota tersebut juga bertahan dari kobaran api. Salah satunya adalah Gereja Katolik Maria Lanakila yang masih tegak di ujung Waine'e Street yang kini penuh abu.
Penjara Hale Pa'ahao yang bersejarah dan terbuat dari dinding batu masih berdiri. Namun bangunan kayu berusia 170 tahun yang dulu digunakan menghukum bajak laut sudah musnah.
Deretan restoran di Front Street yang memiliki pemandangan tepi laut juga hanya menyisakan arang dan puing. Kemudian, kapal-kapal yang tertambat di pelabuhan menghitam, ada pula yang meleleh, bahkan dan tenggelam.
sebuah pohon beringin besar masih berdiri kokoh di tengah reruntuhan kota meski kini dahannya gundul dan batangnya penuh dengan jelaga. (AFP/PAULA RAMON)
Meski begitu, sebuah pohon beringin besar masih berdiri kokoh di tengah reruntuhan kota meski kini dahannya gundul dan batangnya penuh dengan jelaga.
Pohon itu konon sudah berusia 150 tahun dan menjadi saksi biru perubahan kota yang tadinya dimiliki sebuah kerajaan independen, lalu diakuisisi Amerika Serikat, dan kini menjadi negara bagian.