Keren Munder merupakan salah satu warga Israel yang disandera Hamas sejak konflik pecah 7 Oktober lalu. Ia dan keluarga disebut tak mendapat makanan yang cukup selama menjadi sandera Hamas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada jurnalis, sepupunya Merav Mor Raviv mengatakan Munder dan keluarga hanya mendapat roti pita atau roti kosong bulat khas Timur Tengah untuk dimakan.
Karena tak mendapat nutrisi yang cukup, Munder dan ibunya pun harus kehilangan berat badan sebesar 12 pon atau lebih.
Munder, ibunya, dan putranya yang berusia 9 tahun sendiri dibebaskan oleh Hamas pada Jumat (24/11).
Sementara itu, Adva Adar yang neneknya juga dibebaskan pada Jumat mengatakan sang nenek, Yafa Adar (85), juga kehilangan berat badan selama hampir 50 hari disandera di Gaza.
Adar mengatakan neneknya menjadi tahanan Hamas usai rumahnya hancur pada 7 Oktober lalu. Yafa Adar bahkan sempat mengira bahwa banyak keluarganya telah meninggal dalam konflik.
"Biasanya, Anda memiliki rumah tempat Anda membesarkan anak-anak Anda, memiliki kenangan Anda, album foto Anda, pakaian Anda. Namun dia tidak punya apa-apa. Di usia tuanya, dia harus memulai lagi dari awal," katanya.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Sejak Israel meluncurkan agresi merespons serangan Hamas awal Oktober lalu, warga Gaza diblokade total dari segala kebutuhan dasar.
Akses terhadap makanan, listrik, obat-obatan, air, hingga bahan bakar, tak ada yang boleh memasuki Gaza. Pabrik-pabrik roti bahkan diserang habis-habisan oleh pasukan militer Negeri Zionis.
Bukan cuma itu, setelah akhirnya makanan hingga air boleh masuk ke Gaza, lokasi warga yang tengah mengantre air pun tak luput dari sasaran gempur Israel.
Sementara itu, di penjara-penjara Israel, warga Palestina yang ditahan juga disebut tak mendapat air minum bersih serta makanan yang cukup.
Hal itu diutarakan Fareed Najm, warga Palestina yang dibebaskan Israel dari penjara lewat kesepakatan gencatan senjata empat hari sejak 24 November.
"Kami sangat menderita di penjara," kata Najm, yang berasal dari Nablus, kepada Al Jazeera, Sabtu (25/11).
Keren Munder merupakan salah satu warga Israel yang disandera Hamas sejak konflik pecah 7 Oktober lalu. Ia dan keluarga disebut tak mendapat makanan yang cukup selama menjadi sandera Hamas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada jurnalis, sepupunya Merav Mor Raviv mengatakan Munder dan keluarga hanya mendapat roti pita atau roti kosong bulat khas Timur Tengah untuk dimakan.
Karena tak mendapat nutrisi yang cukup, Munder dan ibunya pun harus kehilangan berat badan sebesar 12 pon atau lebih.
Munder, ibunya, dan putranya yang berusia 9 tahun sendiri dibebaskan oleh Hamas pada Jumat (24/11).
Sementara itu, Adva Adar yang neneknya juga dibebaskan pada Jumat mengatakan sang nenek, Yafa Adar (85), juga kehilangan berat badan selama hampir 50 hari disandera di Gaza.
Adar mengatakan neneknya menjadi tahanan Hamas usai rumahnya hancur pada 7 Oktober lalu. Yafa Adar bahkan sempat mengira bahwa banyak keluarganya telah meninggal dalam konflik.
"Biasanya, Anda memiliki rumah tempat Anda membesarkan anak-anak Anda, memiliki kenangan Anda, album foto Anda, pakaian Anda. Namun dia tidak punya apa-apa. Di usia tuanya, dia harus memulai lagi dari awal," katanya.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Derita Warga Gaza yang Jauh Lebih Parah
Pembebasan sandera Hamas. (REUTERS/AL-QASSAM BRIGADES, MILITARY WIN)
Sejak Israel meluncurkan agresi merespons serangan Hamas awal Oktober lalu, warga Gaza diblokade total dari segala kebutuhan dasar.
Akses terhadap makanan, listrik, obat-obatan, air, hingga bahan bakar, tak ada yang boleh memasuki Gaza. Pabrik-pabrik roti bahkan diserang habis-habisan oleh pasukan militer Negeri Zionis.
Bukan cuma itu, setelah akhirnya makanan hingga air boleh masuk ke Gaza, lokasi warga yang tengah mengantre air pun tak luput dari sasaran gempur Israel.
Sementara itu, di penjara-penjara Israel, warga Palestina yang ditahan juga disebut tak mendapat air minum bersih serta makanan yang cukup.
Hal itu diutarakan Fareed Najm, warga Palestina yang dibebaskan Israel dari penjara lewat kesepakatan gencatan senjata empat hari sejak 24 November.
"Kami sangat menderita di penjara," kata Najm, yang berasal dari Nablus, kepada Al Jazeera, Sabtu (25/11).