Negara-negara yang Tak Ada Laut Tapi Punya Angkatan Laut, Apa Saja?
CNN Indonesia
Selasa, 25 Jun 2024 07:29 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Angkatan Laut Azerbaijan di Laut Kaspia. (AFP/TOFIK BABAYEV)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ketika negara-negara di seluruh dunia memiliki angkatan laut untuk mengoperasikan pertahanan negaranya di perairan, beberapa negara justru tak punya laut namun tetap memiliki angkatan laut.
Dilansir dari Naval Gazing, setidaknya ada lima negara yang tak punya laut namun memiliki angkatan laut. Mereka adalah Azerbaijan, Bolivia, Kazakhstan, Paraguay, dan Turkmenistan.
Sebanyak lima negara ini punya pasukan angkatan laut yang personelnya mencapai ribuan orang. Salah satu alasan mengapa mereka memiliki pasukan laut meski tak punya laut yakni karena sejarah pertempuran sungai di masa lalu.
Pertempuran sungai diketahui berlangsung di danau dan sungai yang berbatasan dengan negara-negara ini. Namun, negara-negara lain yang juga terkurung daratan dengan sungai dan danau penting seperti ini kebanyakan memilih untuk memiliki Angkatan Darat alih-alih Angkatan Laut.
Kenapa 5 negara ini punya angkatan laut?
Ada dua faktor yang menjadi penyebab Azerbaijan, Bolivia, Kazakhstan, Paraguay, dan Turkmenistan membentuk angkatan laut.
Pertama, kebanyakan dari negara-negara ini memiliki komitmen terhadap sungai yang sangat signifikan bagi kelangsungan hidup mereka.
Misalnya, Azerbaijan, Kazakhstan, dan Turkmenistan yang berbatasan dengan Laut Kaspia. Laut Kaspia adalah danau besar dan asin yang tidak terhubung dengan lautan dunia.
Ukuran Laut Kaspia cukup besar sehingga bisa digunakan untuk mengoperasikan kapal-kapal besar. Sebagai catatan, Laut Kaspia juga merupakan perairan yang kaya akan energi dan merupakan ladang minyak baru yang membuktikan adanya persediaan gas alam di wilayah tersebut.
Faktor kedua, dalam banyak kasus, negara-negara tanpa laut ini memiliki hubungan institusional dengan angkatan laut yang mampu mengarungi lautan.
Yang paling nyata yakni hubungannya dengan kekuatan Kaspia. Armada Kaspia dikelola oleh Angkatan Laut Soviet, dan ketika Uni Soviet bubar, negara-negara baru menerima beberapa unit dari angkatan laut tersebut.
Untuk kasus Paraguay, negara ini memiliki sistem sungai yang luas. Sungai Paraguay dan Parana dapat dilayari oleh kapal-kapal laut ke pelabuhan di negara itu.
Karenanya, Angkatan Laut Paraguay dibentuk sejak 1811. Pasukan ini menjadi angkatan laut tertua di antara negara-negara yang terkurung daratan.
Angkatan Laut Paraguay bahkan ikut bertempur dalam perang melawan sejumlah tetangga negara itu, termasuk pertempuran sungai terbesar yang pernah ada yakni dengan angkatan laut Amerika Selatan.
Dari semua angkatan laut yang terkurung daratan, Angkatan Laut Paraguay sebetulnya merupakan yang paling tidak mengejutkan. Sebab mereka sejarah kelembagaan dan kebutuhan untuk mengoperasikan kapal ratusan ton dengan cara yang mirip dengan angkatan laut tradisional yang berlayar di laut.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Sementara untuk Bolivia, angkatan laut negara ini merupakan yang paling aneh di antara negara terkurung lainnya.
Sebelum 1879, Bolivia memiliki garis pantai meskipun tak punya angkatan laut. Saat itu, perang pecah dengan Chili, dan meski telah dibantu oleh Peru, garis pantai Bolivia berhasil ditaklukkan dalam Perang Pasifik.
Peru sendiri memiliki angkatan laut dan kerap terlibat bentrok di lepas pantai. Sementara Bolivia berusaha bersenang-senang di angkatan laut dengan menawarkan surat marque.
Surat marque adalah komisi privateer yang memberi wewenang kepada orang untuk melakukan segala bentuk permusuhan yang diperbolehkan di laut lewat peperangan. Kondisi ini termasuk menyerang kapal asing dan membajaknya.
Aktivitas priveteering semacam ini telah dilarang sejak 20 tahun sebelumnya. Bolivia tidak menandatangani perjanjian larangan tersebut, namun berkat upaya diplomatik Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, negara itu tidak mendapatkan peminat priveteer.
Selama 80 tahun berikutnya, Bolivia tidak memiliki angkatan laut. Namun pada 1963, Angkatan Laut Bolivia yang baru didirikan untuk beroperasi di sistem sungai Bolivia dan di Danau Titicaca, danau tertinggi yang dapat dilayari di dunia.
Personel Angkatan Laut Bolivia sebagian besar berasal dari Angkatan Darat. Pembentukan angkatan laut independen tersebut dipandang sebagai cara untuk memperkuat klaim Bolivia dan menyalurkan dukungan rakyat, yang kemungkinan sebagai upaya memadamkan ketegangan internal yang menyebabkan revolusi militer pada tahun berikutnya.
Angkatan Laut Bolivia tetap independen sejak itu. Pasukan ini tumbuh menjadi angkatan laut terbesar yang terkurung daratan, meskipun laporan menunjukkan bahwa sebagian besar personelnya bekerja pada tugas-tugas maritim seperti memelihara marmot dan memperbaiki otomotif.
Mereka juga berpatroli di sungai-sungai Bolivia untuk melawan penyelundup serta menjalankan berbagai tugas kemanusiaan dan pembangunan di sepanjang perairan negara itu.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ketika negara-negara di seluruh dunia memiliki angkatan laut untuk mengoperasikan pertahanan negaranya di perairan, beberapa negara justru tak punya laut namun tetap memiliki angkatan laut.
Dilansir dari Naval Gazing, setidaknya ada lima negara yang tak punya laut namun memiliki angkatan laut. Mereka adalah Azerbaijan, Bolivia, Kazakhstan, Paraguay, dan Turkmenistan.
Sebanyak lima negara ini punya pasukan angkatan laut yang personelnya mencapai ribuan orang. Salah satu alasan mengapa mereka memiliki pasukan laut meski tak punya laut yakni karena sejarah pertempuran sungai di masa lalu.
Pertempuran sungai diketahui berlangsung di danau dan sungai yang berbatasan dengan negara-negara ini. Namun, negara-negara lain yang juga terkurung daratan dengan sungai dan danau penting seperti ini kebanyakan memilih untuk memiliki Angkatan Darat alih-alih Angkatan Laut.
Kenapa 5 negara ini punya angkatan laut?
Ada dua faktor yang menjadi penyebab Azerbaijan, Bolivia, Kazakhstan, Paraguay, dan Turkmenistan membentuk angkatan laut.
Pertama, kebanyakan dari negara-negara ini memiliki komitmen terhadap sungai yang sangat signifikan bagi kelangsungan hidup mereka.
Misalnya, Azerbaijan, Kazakhstan, dan Turkmenistan yang berbatasan dengan Laut Kaspia. Laut Kaspia adalah danau besar dan asin yang tidak terhubung dengan lautan dunia.
Ukuran Laut Kaspia cukup besar sehingga bisa digunakan untuk mengoperasikan kapal-kapal besar. Sebagai catatan, Laut Kaspia juga merupakan perairan yang kaya akan energi dan merupakan ladang minyak baru yang membuktikan adanya persediaan gas alam di wilayah tersebut.
Faktor kedua, dalam banyak kasus, negara-negara tanpa laut ini memiliki hubungan institusional dengan angkatan laut yang mampu mengarungi lautan.
Yang paling nyata yakni hubungannya dengan kekuatan Kaspia. Armada Kaspia dikelola oleh Angkatan Laut Soviet, dan ketika Uni Soviet bubar, negara-negara baru menerima beberapa unit dari angkatan laut tersebut.
Untuk kasus Paraguay, negara ini memiliki sistem sungai yang luas. Sungai Paraguay dan Parana dapat dilayari oleh kapal-kapal laut ke pelabuhan di negara itu.
Karenanya, Angkatan Laut Paraguay dibentuk sejak 1811. Pasukan ini menjadi angkatan laut tertua di antara negara-negara yang terkurung daratan.
Angkatan Laut Paraguay bahkan ikut bertempur dalam perang melawan sejumlah tetangga negara itu, termasuk pertempuran sungai terbesar yang pernah ada yakni dengan angkatan laut Amerika Selatan.
Dari semua angkatan laut yang terkurung daratan, Angkatan Laut Paraguay sebetulnya merupakan yang paling tidak mengejutkan. Sebab mereka sejarah kelembagaan dan kebutuhan untuk mengoperasikan kapal ratusan ton dengan cara yang mirip dengan angkatan laut tradisional yang berlayar di laut.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Bolivia Tak Punya Garis Pantai, Tapi Punya Angkatan Laut
Angkatan Laut Bolivia saat memberikan penghargaan kepada Presiden Bolivia saat itu, Evo Moralez, pada 2006. (AFP/AIZAR RALDES)
Sementara untuk Bolivia, angkatan laut negara ini merupakan yang paling aneh di antara negara terkurung lainnya.
Sebelum 1879, Bolivia memiliki garis pantai meskipun tak punya angkatan laut. Saat itu, perang pecah dengan Chili, dan meski telah dibantu oleh Peru, garis pantai Bolivia berhasil ditaklukkan dalam Perang Pasifik.
Peru sendiri memiliki angkatan laut dan kerap terlibat bentrok di lepas pantai. Sementara Bolivia berusaha bersenang-senang di angkatan laut dengan menawarkan surat marque.
Surat marque adalah komisi privateer yang memberi wewenang kepada orang untuk melakukan segala bentuk permusuhan yang diperbolehkan di laut lewat peperangan. Kondisi ini termasuk menyerang kapal asing dan membajaknya.
Aktivitas priveteering semacam ini telah dilarang sejak 20 tahun sebelumnya. Bolivia tidak menandatangani perjanjian larangan tersebut, namun berkat upaya diplomatik Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, negara itu tidak mendapatkan peminat priveteer.
Selama 80 tahun berikutnya, Bolivia tidak memiliki angkatan laut. Namun pada 1963, Angkatan Laut Bolivia yang baru didirikan untuk beroperasi di sistem sungai Bolivia dan di Danau Titicaca, danau tertinggi yang dapat dilayari di dunia.
Personel Angkatan Laut Bolivia sebagian besar berasal dari Angkatan Darat. Pembentukan angkatan laut independen tersebut dipandang sebagai cara untuk memperkuat klaim Bolivia dan menyalurkan dukungan rakyat, yang kemungkinan sebagai upaya memadamkan ketegangan internal yang menyebabkan revolusi militer pada tahun berikutnya.
Angkatan Laut Bolivia tetap independen sejak itu. Pasukan ini tumbuh menjadi angkatan laut terbesar yang terkurung daratan, meskipun laporan menunjukkan bahwa sebagian besar personelnya bekerja pada tugas-tugas maritim seperti memelihara marmot dan memperbaiki otomotif.
Mereka juga berpatroli di sungai-sungai Bolivia untuk melawan penyelundup serta menjalankan berbagai tugas kemanusiaan dan pembangunan di sepanjang perairan negara itu.