Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) mengungkap keuntungan dan kerugian bekerja di luar negeri saat tren ajakan bekerja ke negeri asing #KaburAjaDulu viral di media sosial.
Tren tagar #KaburAjaDulu mewarnai media sosial di Indonesia belakangan ini karena situasi sosial dan ekonomi yang tak sesuai harapan.
Tagar ini pun menjadi perdebatan lantaran sebagian pihak menganggap hal ini mencerminkan sikap yang tidak nasionalis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, sebagian lainnya menganggap tagar ini muncul lantaran pemerintah gagal menyediakan tempat tinggal yang aman dan sejahtera bagi masyarakat.
Keuntungan
WNI yang bekerja di Australia, Lintang, membeberkan sederet manfaat bekerja di luar negeri. Menurut dia, sejumlah perusahaan di sana mengajukan syarat yang lebih mudah.
Latar belakang, warna atau bentuk fisik juga tak menjadi persoalan karena yang diutamakan keinginan untuk bekerja.
"Kerja-kerja kasar di sini enggak terlalu sulit, sebab enggak ada batasan umur. Di sini usia 60-an masih banyak yang masih kerja," kata Lintang kepada CNNIndonesia.com, Selasa.
Dia juga menggarisbawahi mayoritas pekerja di Australia memiliki cara pandang yang lebih terbuka dan menjunjung tinggi kesetaraan.
"Di sini enggak ada kasta. ART [Asisten rumah tangga], tukang les, supir bus ya setara sama mereka yang duduk di kantor," imbuh Lintang.
Nuansa lingkungan yang positif juga menjadi daya tarik tersendiri untuk bekerja di luar negeri, salah satunya Risqa WNI asal Jawa Barat yang bekerja di Thailand.
Risqa mengatakan selama bekerja di Malaysia dan Thailand, dia memiliki lingkungan kerja yang sehat dan suportif. Misalnya, budaya apresiasi terhadap pekerja, dunia kerja dan kehidupan pribadi yang seimbang, hingga tekanan pekerjaan yang tak membuat stres.
Selain itu, menurut dia, gaji di negara tersebut juga lebih banyak.
"Aku bahagia banget kerja entah di Malaysia sama Thailand. Karena, aku bisa belajar kultur baru, kenal sama orang-orang baru," ungkap dia.
Persoalan standar gaji lebih tinggi juga disampaikan WNI yang bekerja di Jerman, Jismi Akmam Bukhara, dan warga RI yang bekerja di Inggris Fahmi Ardi.
Jismi dan Fahmi sepakat terdapat lebih banyak benefit dan tunjangan sosial yang didapat selama mereka bekerja.
"Standar gaji serta fasilitas yang cukup kompetitif, yang pada akhirnya berkontribusi dalam mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi," ucap Fahmi.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
Tren #KaburAjaDulu, Adakah Kerugian dari 'Kabur' ke Luar Negeri?
(Foto: REUTERS/Isabel Infantes)
Kerugian
Meski menuai sederet keuntungan, tetapi para WNI itu juga mencatat kerugian atau kekurangan bagi mereka yang bekerja di luar negeri.
Lintang mengatakan bagi pekerja yang memegang visa bekerja dan berlibur (working visa holiday/WHV) fisik adalah kendala utama.
Pemegang WHV biasanya bekerja di sektor-sektor yang lebih memerlukan tenaga seperti pabrik, perkebunan, atau pertanian.
"Kalau kerugian yang biasanya WHV pemegang keluhkan itu fisik ya. Sebab, aku juga pakai visa ini, bidang kerjanya sudah diframing [dibangkai] ke yang butuh fisik kuat," ujar Lintang.
Sementara itu, Jismi punya pandangan sendiri. Dia menilai kesepian dan gegar budaya menciptakan tantangan tersendiri bagi WNI yang kerja di luar negeri.
"Mau bagaimanapun juga, dua hal ini dengan sendirinya akan melekat karena feeling [perasaan] sebagai minoritas makin menguat," ujar Jismi.
Tak cuma itu, rindu keluarga adalah beban yang mesti ditanggung para WNI itu termasuk Risqa.
"Sisi kerugian, menurut aku cuma satu yaitu jauh dari keluarga. Untuk aku yang family person, itu cukup berat," tutur perempuan itu.