"Sudah saatnya menyelaraskan kembali pemerintah dengan harapan rakyat," kata Bongbong dalam siaran pers yang dirilis istana kepresidenan, seperti dikutip GMA News.
Perombakan menteri gila-gilaan ini dilakukan setelah hasil pemilihan umum (pemilu) paruh waktu Filipina menunjukkan bahwa enam dari sebelas kandidat yang didukung Bongbong berhasil memperoleh kursi di Senat.
Hasil pemilu ini mencerminkan penurunan dukungan terhadap kubu Bongbong, dan karenanya Bongbong kemungkinan ingin mengerek kembali popularitasnya lewat perombakan kabinet.
Ini adalah satu dari beberapa kontroversi Bongbong selama memerintah Filipina.
Berikut ini daftar kontroversi Bongbong selama menjadi senator hingga presiden Filipina.
Bongbong menuai kritik setelah diduga berusaha mendistorsi sejarah terkait pemerintahan ayahnya, Ferdinand Marcos Sr.
Marcos adalah Presiden Filipina pada periode 1965-1986. Namun, ia baru bisa mengendalikan Filipina sepenuhnya pada 1972, setahun sebelum masa jabatannya berakhir.
Pada 23 September 1972, Marcos menetapkan Filipina di bawah status darurat militer. Keputusan yang dibuat menjelang lengsernya itu berhasil membuat dia meneruskan kekuasaan.
Selama darurat militer pada 1972-1981, parlemen Filipina dibekukan, oposisi ditahan, dan media-media disensor habis-habisan. Marcos mengendalikan pengadilan, militer, dan kepolisian untuk menyiksa bahkan membunuh lawan-lawan politiknya, dikutip dari CNN.
Fakta kelam ini yang berusaha ditutupi Bongbong dalam berbagai kesempatan, termasuk melalui media sosialnya. Bongbong sempat dituding membayar buzzer untuk mencitrakan pemerintahan ayahnya sebagai masa-masa kejayaan Filipina.
Bongbong juga menuai kontroversi karena hubungannya yang buruk dengan dinasti politik Duterte.
Bongbong menjadi presiden Filipina dengan Sara Duterte, putri eks Presiden Filipina Rodrigo Duterte, sebagai wakilnya.
Namun, hubungan Bongbong dengan Sara tidak harmonis. Keduanya kerap bersilat lidah secara terbuka di media.
Sara sempat mengancam akan membunuh Bongbong apabila ia terbunuh. Duterte, ayahnya, juga ikut menyerang Bongbong dengan menuduhnya sebagai pengguna narkoba.
Ucapan Sara soal ancaman pembunuhan Bongbong ini sendiri menjadi masalah besar di Filipina. Ia sampai dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Filipina dan kini menghadapi sidang pemakzulan oleh Senat yang rencananya digelar pada 3 Juni.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Terseret skandal korupsi PDAF
Saat masih menjadi senator, nama Bongbong disebut ikut terseret skandal korupsi Priority Development Assistance Fund (PDAF) atau "pork barrel scam".
Bongbong dituduh menyalurkan ₱205 juta (sekitar Rp60 miliar) dana PDAF ke yayasan-yayasan fiktif milik pebisnis Janet Lim-Napoles, dikutip dari News Info.
Bongbong juga menghadapi kritik atas perjalanan luar negerinya, salah satunya kala ia hadir di Grand Prix F1 Singapura pada 2022.
Perjalanan itu dikritik karena dilakukan saat Filipina sedang mengalami krisis ekonomi dan bencana alam.
Perjalanan luar negeri Bongbong juga memicu perdebatan karena biayanya yang tinggi serta karena penggunaan pesawat militer hanya untuk keperluan pribadi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Filipina Ferdinand 'Bongbong' Marcos Jr. menyedot perhatian usai meminta 30 menteri kabinetnya resign atau mengundurkan diri secara sukarela.
Bongbong meminta puluhan menterinya mundur karena melihat persepsi publik belakangan yang kecewa terhadap kinerja pemerintah.
"Sudah saatnya menyelaraskan kembali pemerintah dengan harapan rakyat," kata Bongbong dalam siaran pers yang dirilis istana kepresidenan, seperti dikutip GMA News.
Perombakan menteri gila-gilaan ini dilakukan setelah hasil pemilihan umum (pemilu) paruh waktu Filipina menunjukkan bahwa enam dari sebelas kandidat yang didukung Bongbong berhasil memperoleh kursi di Senat.
Hasil pemilu ini mencerminkan penurunan dukungan terhadap kubu Bongbong, dan karenanya Bongbong kemungkinan ingin mengerek kembali popularitasnya lewat perombakan kabinet.
Ini adalah satu dari beberapa kontroversi Bongbong selama memerintah Filipina.
Berikut ini daftar kontroversi Bongbong selama menjadi senator hingga presiden Filipina.
Bongbong menuai kritik setelah diduga berusaha mendistorsi sejarah terkait pemerintahan ayahnya, Ferdinand Marcos Sr.
Marcos adalah Presiden Filipina pada periode 1965-1986. Namun, ia baru bisa mengendalikan Filipina sepenuhnya pada 1972, setahun sebelum masa jabatannya berakhir.
Pada 23 September 1972, Marcos menetapkan Filipina di bawah status darurat militer. Keputusan yang dibuat menjelang lengsernya itu berhasil membuat dia meneruskan kekuasaan.
Selama darurat militer pada 1972-1981, parlemen Filipina dibekukan, oposisi ditahan, dan media-media disensor habis-habisan. Marcos mengendalikan pengadilan, militer, dan kepolisian untuk menyiksa bahkan membunuh lawan-lawan politiknya, dikutip dari CNN.
Fakta kelam ini yang berusaha ditutupi Bongbong dalam berbagai kesempatan, termasuk melalui media sosialnya. Bongbong sempat dituding membayar buzzer untuk mencitrakan pemerintahan ayahnya sebagai masa-masa kejayaan Filipina.
Bongbong juga menuai kontroversi karena hubungannya yang buruk dengan dinasti politik Duterte.
Bongbong menjadi presiden Filipina dengan Sara Duterte, putri eks Presiden Filipina Rodrigo Duterte, sebagai wakilnya.
Namun, hubungan Bongbong dengan Sara tidak harmonis. Keduanya kerap bersilat lidah secara terbuka di media.
Sara sempat mengancam akan membunuh Bongbong apabila ia terbunuh. Duterte, ayahnya, juga ikut menyerang Bongbong dengan menuduhnya sebagai pengguna narkoba.
Ucapan Sara soal ancaman pembunuhan Bongbong ini sendiri menjadi masalah besar di Filipina. Ia sampai dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Filipina dan kini menghadapi sidang pemakzulan oleh Senat yang rencananya digelar pada 3 Juni.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Daftar Kontroversi Presiden Bongbong Marcos, Rival Duterte
Deret kontroversi Presiden Filipina Bongbong. (AFP/JAM STA ROSA)
Terseret skandal korupsi PDAF
Saat masih menjadi senator, nama Bongbong disebut ikut terseret skandal korupsi Priority Development Assistance Fund (PDAF) atau "pork barrel scam".
Bongbong dituduh menyalurkan ₱205 juta (sekitar Rp60 miliar) dana PDAF ke yayasan-yayasan fiktif milik pebisnis Janet Lim-Napoles, dikutip dari News Info.
Bongbong juga menghadapi kritik atas perjalanan luar negerinya, salah satunya kala ia hadir di Grand Prix F1 Singapura pada 2022.
Perjalanan itu dikritik karena dilakukan saat Filipina sedang mengalami krisis ekonomi dan bencana alam.
Perjalanan luar negeri Bongbong juga memicu perdebatan karena biayanya yang tinggi serta karena penggunaan pesawat militer hanya untuk keperluan pribadi.